Inflasi Inggris Naik 3,3 Persen, Efek Perang Iran Mulai Menjalar ke Ekonomi
– Inflasi Inggris kembali naik pada Maret 2026 dan mulai menunjukkan dampak langsung dari konflik geopolitik di Timur Tengah. Data Office for National Statistics (ONS) mencatat inflasi mencapai 3,3 persen secara tahunan, meningkat dari 3 persen pada Februari.
Kenaikan ini sesuai dengan ekspektasi pasar dan menjadi indikasi awal bahwa perang Iran mulai menekan harga konsumen di Inggris, terutama melalui jalur energi.
Lonjakan harga energi jadi pemicu utama inflasi
Dikutip dari Reuters, Rabu (22/4/2026), kepala ekonom ONS Grant Fitzner menjelaskan, lonjakan inflasi terutama dipicu oleh kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) yang tembus level tertinggi dalam lebih dari tiga tahun terakhir.
Selain itu, tarif penerbangan dan harga pangan ikut menyumbang kenaikan pada periode yang sama.
Baca juga: INDEF: Kenaikan Harga BBM Non-Subsidi Picu Inflasi dan Migrasi EV
Sebaliknya, harga pakaian menjadi faktor yang sedikit meredam inflasi karena kenaikannya lebih rendah dibandingkan tahun lalu.
Namun, tekanan di sisi produsen justru meningkat, terlihat dari kenaikan biaya bahan baku dan harga barang pabrik akibat lonjakan harga minyak mentah dan bensin.
Kondisi ini menunjukkan bahwa tekanan inflasi tidak hanya terjadi di tingkat konsumen, tetapi juga mulai terbentuk dari sisi produksi.
Dampak konflik Iran mulai terasa
Kenaikan harga energi disebut berkaitan erat dengan konflik Iran yang memicu lonjakan harga minyak global. Sebagai negara importir energi, Inggris menjadi salah satu yang paling rentan terhadap guncangan tersebut.
Ekonom utama Inggris di Deutsche Bank, Sanjay Raja, menyebut dampak konflik mulai terasa pada harga bahan bakar dan minyak pemanas.
“Harga di pompa bensin dan minyak pemanas kemungkinan akan meningkat tajam hingga akhir kuartal,” ujarnya.
Selama konflik berlangsung, tekanan terhadap biaya hidup diperkirakan akan terus berlanjut.
Baca juga: Lonjakan BBM Nonsubsidi Berpotensi Picu Inflasi, Daya Beli Bisa Tergerus
Dilema kebijakan suku bunga
Kenaikan inflasi ini mengubah ekspektasi terhadap kebijakan moneter Inggris.
Sebelum konflik pecah pada 28 Februari, Bank of England diperkirakan akan mulai memangkas suku bunga karena inflasi yang mendekati target 2 persen.
Namun, lonjakan harga energi membuat arah kebijakan menjadi tidak pasti. Sejumlah ekonom menilai bank sentral bisa saja menaikkan suku bunga, meskipun mayoritas masih memperkirakan suku bunga akan ditahan hingga akhir tahun.
Alasannya, kenaikan inflasi saat ini dinilai berasal dari faktor eksternal sehingga cenderung “diabaikan” dalam penentuan kebijakan jangka pendek.
Di sisi lain, Bank of England juga harus berhati-hati agar tidak memicu stagflasi, yakni kondisi ketika pertumbuhan ekonomi melambat di tengah inflasi tinggi dan meningkatnya pengangguran.
Baca juga: Inggris Larang Kelahiran 2009 ke Atas Beli Rokok untuk Seumur Hidup
Risiko inflasi lebih tinggi ke depan
Kepala ekonom ICAEW Suren Thiru memperingatkan tekanan inflasi berpotensi meningkat lebih jauh.
“Perpanjangan gencatan senjata tidak akan mencegah periode sulit dengan inflasi yang terus meningkat. Lonjakan biaya energi dan harga pangan kemungkinan akan mendorong inflasi melampaui 4 persen pada musim gugur, meskipun permintaan ekonomi melemah,” ujarnya.
Namun, ia menambahkan bahwa pelemahan ekonomi dalam jangka panjang justru dapat menekan harga, sehingga memberi ruang bagi bank sentral untuk mempertahankan suku bunga.
Prospek ekonomi Inggris ikut tertekan
Tekanan inflasi yang dipicu konflik juga berdampak pada proyeksi pertumbuhan ekonomi.
Dana Moneter Internasional (IMF) dalam laporan World Economic Outlook edisi April 2026 memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi Inggris menjadi 0,8 persen pada 2026, dari sebelumnya 1,3 persen.
Pemangkasan ini menjadi yang terbesar di antara negara-negara G7. IMF menilai Inggris akan tertinggal dari ekonomi besar lain, seperti Amerika Serikat yang diproyeksikan tumbuh 2,3 persen, kawasan Uni Eropa 1,1 persen, Spanyol 2,1 persen, dan Perancis 0,9 persen.
Baca juga: IMF Sebut Ekonomi Inggris Paling Terpukul Perang Iran, Kenapa?
Tekanan terhadap ekonomi Inggris tidak hanya berasal dari konflik, tetapi juga dari keterbatasan ruang pemangkasan suku bunga serta dampak berkepanjangan dari kenaikan harga energi.
IMF juga menilai Inggris sangat rentan terhadap gejolak energi global karena berstatus sebagai importir bersih energi.
Kondisi ini membuat inflasi Inggris diperkirakan tetap tinggi, yakni 3,2 persen tahun ini dan 2,4 persen pada 2026, bahkan sempat mendekati 4 persen dalam jangka pendek.
Ruang fiskal terbatas
Menteri Keuangan Inggris, Rachel Reeves mengakui konflik Iran akan membawa konsekuensi ekonomi bagi negaranya.
“Perang di Iran bukan perang kami, tetapi akan membawa biaya bagi Inggris. Ini bukan biaya yang saya inginkan, tetapi ini adalah biaya yang harus kami tanggapi,” ujarnya.
Di sisi lain, IMF mengingatkan ruang fiskal pemerintah Inggris terbatas. Kepala Ekonom IMF Pierre-Olivier Gourinchas menegaskan bahwa dukungan terhadap rumah tangga dan pelaku usaha harus dilakukan secara hati-hati.
“Tidak banyak ruang untuk meningkatkan belanja guna mendukung rumah tangga dan bisnis,” kata dia.
Tag: #inflasi #inggris #naik #persen #efek #perang #iran #mulai #menjalar #ekonomi