Regulasi Pusat-Daerah Tak Sinkron, Investasi Bisa Tersendat
Pertemuan pemerintah dan pelaku industri energi dalam acara DSLNG di Jakarta untuk memperkuat koordinasi investasi sektor migas.(DOK. DSLNG)
21:28
22 April 2026

Regulasi Pusat-Daerah Tak Sinkron, Investasi Bisa Tersendat

— Pemerintah menyoroti pentingnya sinkronisasi regulasi antara pusat dan daerah agar arus investasi tidak tersendat dan tetap mendorong pertumbuhan ekonomi nasional.

Menteri Hukum Republik Indonesia, Supratman Andi Agtas, menegaskan hal itu dalam acara Halalbihalal PT Donggi Senoro LNG (DSLNG) bersama pemerintah dan pemangku kepentingan di The St. Regis Jakarta, Selasa (21/4/2026).

“Pemerintah sangat terbuka terhadap investasi. Sebagai kementerian yang membidangi hukum, tugas kami adalah memastikan regulasi yang ada selaras dan mendukung kelancaran investasi, baik di pusat maupun di daerah,” ujar Supratman, dalam keterangan pers DSLNG, Rabu (22/4/2026).

Ia menambahkan, kolaborasi antara pemerintah dan pelaku usaha menjadi faktor penting dalam mendorong pertumbuhan ekonomi nasional.

Dalam konteks tersebut, pertemuan yang digelar DSLNG menjadi ruang untuk memperkuat koordinasi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan investor.

Baca juga: Donggi Senoro LNG Pertahankan Kinerja Operasional Andal di Tengah Tantangan Migas

Supratman juga menyampaikan apresiasinya terhadap kontribusi DSLNG dalam pengembangan sektor minyak dan gas di Sulawesi Tengah.

“Ini adalah bentuk nyata kolaborasi investasi yang memberikan dampak positif bagi daerah,” ujarnya.

“Sangat berterima kasih kepada Mitsubishi Corporation dan Korea Gas Corporation bisa terus berkolaborasi dengan Pertamina dan Medco. Ini juga momentum berkolaborasi antara Pemerintah Pusat dan daerah serta pihak investasi,” lanjutnya.

President Director DSLNG Yuichi Sakaguchi mewakili manajemen menyambut para tamu undangan dan menekankan pentingnya menjaga hubungan dengan seluruh pemangku kepentingan.

Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya mendorong koordinasi antara pemerintah dan pelaku industri dalam mendukung pembangunan sektor energi.

Baca juga: PT Donggi-Senoro Kirim 5 Kargo LNG untuk Pasar Domestik Sepanjang 2025

Donggi Senoro dan Peran Kawasan Timur

Di tengah upaya menjaga iklim investasi, kinerja sektor migas di Indonesia timur turut menjadi penopang, termasuk melalui keberadaan Donggi Senoro LNG.

Regional Indonesia Timur Subholding Upstream Pertamina mencatatkan produksi minyak dan gas (migas) sebesar 208.500 barrel setara minyak per hari (mboepd) pada 2025 atau 100,4 persen dari target RKAP.

Realisasi lifting migas mencapai 171.000 mboepd atau 102,9 persen dari target yang ditetapkan perusahaan.

Direktur Regional Indonesia Timur Ruby Mulyawan mengatakan, capaian tersebut menjadi modal untuk meningkatkan produksi ke depan.

“Untuk mencapai target tersebut, Regional Indonesia Timur terus melakukan berbagai upaya, seperti program kerja workover, pemboran sumur pengembangan maupun sumur eksplorasi untuk menambah resources, serta Enhanced Oil Recovery seperti CO2 flood yang saat ini sedang dikembangkan di Lapangan Sukowati,” ujarnya dalam keterangan tertulis, Selasa (17/3/2026).

Sepanjang tahun lalu, Regional Indonesia Timur melakukan 6 pengeboran sumur eksplorasi, 12 pengeboran sumur pengembangan, serta 17 kegiatan workover sumur.

Selain itu, perusahaan juga mendorong penerapan teknologi digital untuk meningkatkan efisiensi operasi sekaligus menjaga keberlanjutan produksi migas.

Baca juga: Prabowo: Investasi Asing Wajib Patuhi Regulasi & Hilirisasi di RI

Produksi Migas Naik, Risiko Global Tetap Membayangi

Di sisi lain, aspek keselamatan kerja dan lingkungan atau health, safety, security, and environment (HSSE) tetap menjadi prioritas utama dalam operasional perusahaan.

“Penerapan HSSE menjadi fokus utama baik di kantor regional maupun di seluruh zona operasi,” kata Ruby.

Komisaris Pertamina EP Cepu Tri Winarno menilai kinerja produksi 2025 cukup positif, namun perusahaan tetap perlu mewaspadai dinamika global.

“Kinerja 2025 cukup baik, baik dari sisi produksi maupun lifting,” ujarnya.

“Namun untuk 2026 kita perlu memperhatikan kondisi geopolitik global yang tentu akan berpengaruh pada industri migas sehingga strategi yang ditetapkan harus tepat,” lanjut Tri.

Adapun Regional Indonesia Timur Subholding Upstream Pertamina mengelola wilayah kerja yang tersebar di Jawa Timur, Sulawesi, Maluku, hingga Papua, baik aset lepas pantai (offshore) maupun darat (onshore).

Kawasan ini juga memiliki satu aset hilir strategis, yaitu Donggi Senoro LNG, yang menjadi salah satu proyek gas penting di Indonesia timur.

Tag:  #regulasi #pusat #daerah #sinkron #investasi #bisa #tersendat

KOMENTAR