Pluang Buka Akses Saham RI, Investor Ritel Kini Tak Perlu Banyak Aplikasi
Co-Founder & CEO Pluang Claudia Kolonas dalam Media Gathering di Kelapa Gading, Jakarta Utara, Rabu (26/6/2024).(KOMPAS.com/Haryanti Puspa Sari)
13:16
23 April 2026

Pluang Buka Akses Saham RI, Investor Ritel Kini Tak Perlu Banyak Aplikasi

— Pluang, aplikasi investasi dan trading multi-aset asal Indonesia, membuka akses saham Indonesia dalam satu aplikasi, di tengah kebutuhan investor yang selama ini harus menggunakan beberapa platform untuk mengelola aset.

Platform investasi multi-aset tersebut meluncurkan produk Saham Indonesia yang memungkinkan pengguna mengakses lebih dari 950 saham di Bursa Efek Indonesia (BEI), termasuk BBCA, BBRI, BREN, dan GOTO, bersamaan dengan saham AS, aset kripto, emas digital, hingga reksa dana dalam satu ekosistem.

"Selama ini, ada jarak antara pasar modal domestik dan peluang diversifikasi global," ujar Co-Founder Pluang Claudia Kolonas, melalui keterangan pers, Kamis (23/4/2026).

"Kami hadir untuk menutup kesenjangan (close the gap) itu."

Ia mengatakan, kehadiran fitur ini tidak hanya menambah pilihan investasi, tetapi juga menyatukan pengelolaan aset dalam satu aplikasi bagi pengguna.

"Ini adalah standar baru bagi Super-App investasi di Asia Tenggara," tambah Claudia.

Baca juga: Investor Ritel Wajib Tahu Kriteria Saham HSC, Apa.Saja?

Melalui sistem portofolio terpadu, investor dapat memindahkan alokasi dana dari aset global ke saham Indonesia secara instan tanpa harus berpindah aplikasi. Selain itu, Pluang menawarkan skema biaya kompetitif dengan promo nol persen biaya transaksi (syarat dan ketentuan berlaku), serta insentif bonus saham hingga Rp 300.000 bagi pengguna yang memenuhi ketentuan.

Langkah ini diambil di tengah pertumbuhan investor domestik yang meningkat signifikan. Data Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) mencatat jumlah Single Investor Identification (SID) naik 37 persen hingga menembus 20 juta pada akhir 2025.

Claudia menilai, momentum tersebut menjadi peluang untuk memperluas partisipasi investor ritel di pasar modal.

"Di tengah gelombang baru ini, partisipasi investor ritel akan menjadi penentu utama stabilitas pasar," ujarnya.

"Pluang hadir untuk menjembatani partisipasi tersebut dengan menyediakan infrastruktur yang lebih inklusif."

Baca juga: Tanpa Rebalancing MSCI, Analis Soroti Peluang Saham Energi untuk Investor Ritel

Bursa Saham Berbenah, Seleksi Emiten Makin Ketat

Di sisi lain, dinamika pasar saham domestik juga tengah mengalami penyesuaian kebijakan yang dapat memengaruhi komposisi indeks dan arus dana investor.

PT Bursa Efek Indonesia (BEI) menambah kriteria baru dalam evaluasi indeks IDX30, LQ45, dan IDX80 dengan mengecualikan saham yang masuk kategori High Shareholding Concentration (HSC), yakni saham dengan kepemilikan terkonsentrasi lebih dari 95 persen oleh segelintir pihak.

“Bursa Efek Indonesia (BEI) melakukan penyesuaian atas kriteria evaluasi konstituen indeks sebagai berikut,” tulis BEI dalam pengumuman Selasa (21/4/2026).

Baca juga: BEI Ubah Kriteria Indeks IDX30, LQ45, dan IDX80

Dalam aturan terbaru, saham yang masuk indeks juga harus memenuhi ketentuan free float minimal 10 persen atau sesuai regulasi, serta likuiditas perdagangan dengan batas maksimal satu hari tidak ditransaksikan dalam enam bulan terakhir.

Penyesuaian ini akan berlaku pada evaluasi mayor April 2026 dan efektif pada hari bursa pertama Mei 2026.

Sejumlah analis menilai kebijakan ini berpotensi mengubah komposisi indeks secara signifikan. Saham seperti PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) dan PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) disebut berpotensi keluar dari indeks karena masuk kategori HSC.

Jika hal itu terjadi, potensi arus dana keluar dari dana indeks (passive funds) dinilai cukup besar, seiring perubahan acuan investasi berbasis indeks.

Baca juga: OJK: Ratusan Perusahaan Indonesia Sudah Mulai Berinvestasi di Kripto

Integrasi Jadi Jawaban Fragmentasi Investasi

Di tengah perubahan regulasi dan dinamika pasar tersebut, integrasi layanan investasi menjadi salah satu pendekatan untuk menyederhanakan akses investor.

Pluang menyebut, selama ini investor kerap menggunakan dua hingga tiga aplikasi berbeda untuk mengelola aset, sehingga proses investasi menjadi kurang efisien.

Dengan menggabungkan berbagai instrumen dalam satu aplikasi, perusahaan berupaya memudahkan investor dalam melakukan diversifikasi sekaligus mengelola risiko portofolio.

Sebagai platform multi-aset, Pluang juga menegaskan seluruh layanannya berada dalam pengawasan otoritas terkait, termasuk Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti), dan Bank Indonesia.

Pluang didirikan pada 2019 dan saat ini melayani hampir 13 juta pengguna dengan akses ke lebih dari 2.000 aset investasi lintas instrumen.

Tag:  #pluang #buka #akses #saham #investor #ritel #kini #perlu #banyak #aplikasi

KOMENTAR