Rupiah Melemah ke Level 17.000 per Dollar AS, Akankah Kembali Menguat?
Ilustrasi Rupiah Melemah(TOTO SIHONO)
13:24
23 April 2026

Rupiah Melemah ke Level 17.000 per Dollar AS, Akankah Kembali Menguat?

- Nilai tukar rupiah per 21 April 2026 berada di Rp 17.140 per dollar AS. Melemah 0,87 persen dibanding akhir Maret 2026.

Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo mengatakan jika bank sentral akan melakukan berbagai kebijakan moneter agar fundamental rupiah kembali menguat.

Kebijakan moneter salah satunya melalui intervensi pasar NDF luar negeri (off-shore) dan DNDF di pasar dalam negeri.

Baca juga: Bank Indonesia dan Upaya Menjaga Stabilitas Rupiah di Tengah Gejolak Global

Penyesuaian suku bunga Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) ditingkatkan agar aliran modal asing bisa masuk Indonesia.

Gubernur BI Perry Warjiyo saat acara Launching AKSI KLIK di Jakarta, Jumat (6/3/2026).Tangkapan layar Zoom. Gubernur BI Perry Warjiyo saat acara Launching AKSI KLIK di Jakarta, Jumat (6/3/2026).Langkah-langkah ini dilakukan untuk mempertahankan inflasi agar tak lebih dari 2,5 persen plus minus 1 persen.

"Dari sisi kebijakan moneter untuk mempertahankan stabilitas nilai tukar rupiah dan menjaga inflasi tetap dalam sasaran 2,5 persen plus minus 1 persen, yaitu dengan meningkatkan intensitas intervensi dalam menjaga stabilitas nilai tukar rupiah baik intervensi di offshore NDF maupun domestic spot maupun di DNDF," jelas Perry dikutip dari Kompas.com, Kamis (23/4/2026).

Baca juga: Rekrutmen PKWT Bank Indonesia 2026 Masih Dibuka, Ini Syarat dan Cara Daftarnya

Untuk perbaikan ekonomi, BI mendorong pertumbuhan uang primer (M0) lebih dari 10 persen, Pada Maret 2026, M0 masih 11,8 persen secara tahunan.

Kemudian, ada kebijakan pemberian insentif likuiditas makroprudensial dan sistem pembayaran guna mendorong pertumbuhan ekonomi.

Ujungnya, BI berharap pertumbuhan ekonomi tetap dalam angka 4,9-5,7 persen pada 2026 dengan inflasi terjaga di 1,5-3,5 persen. Defisit transaksi pembayaran dijaga di angka 1,3-0,5 persen dari produk domestik bruto (PDB) dan pertumbuhan kredit ditargetkan 8-12 persen.

Baca juga: Rekrutmen PKWT Bank Indonesia 2026 Dibuka, Banyak Posisi Tersedia hingga 17 April

Bila langkah-langkah ini sukses, maka nilai tukar rupiah berangsur stabil.

"Secara fundamental nilai tukar rupiah kita akan stabil dan cenderung menguat didukung oleh fundamental ekonomi, pertumbuhan ekonomi yang tinggi, inflasi yang rendah, imbal hasil yang menarik dan juga komitmen BI menjaga stabilitas nilai tukar rupiah," jelas Perry.

Gejolak di Timur Tengah menjadi sebab kenapa rupiah terus menerus melemah. Tapi, di sisi domestik kebijakan fiskal pemerintah membuat pasar was-was.

Baca juga: Moody’s Ubah Outlook 5 Bank Indonesia Jadi Negatif, Apa Alasannya?

Rupiah masuk daftar mata uang terlemah

Menurut daftar yang dirilis Forbes Advisor pada awal April 2026, rupiah menduduki peringkat kelima sebagai mata uang terlemah di dunia.

Mata uang terlemah nomor satu dunia ditempati rial Iran, lalu pound Lebanon, dong Vietnam, dan kip Laos.

Namun penempatan rupiah dalam daftar ini tak diperdebatkan, karena Forbes Advisor menggunakan nilai nominal mata uang asing dengan perbandingan dollar AS bukan kekuatan ekonomi sebuah negara secara menyeluruh.

Bisa dibilang, rupiah melemah dibanding dollar AS namun belum tentu perekonomian Indonesia seburuk yang disangkakan.

Baca juga: Bank Indonesia Gabung Proyek Nexus, BI-Fast Siap Terhubung Pembayaran Singapura hingga India

Artikel ini pernah tayang di Kompas.com dengan judul "Gubernur BI Tegaskan Rupiah Telah Undervalued" dan "Rupiah Masuk 10 Mata Uang Terlemah Dunia, Tertekan Sentimen Fiskal?"

Tag:  #rupiah #melemah #level #17000 #dollar #akankah #kembali #menguat

KOMENTAR