Eksportir Minyak Berebut Jalur Alternatif Selain Selat Hormuz, Tapi Opsi Terbatas
Jalur pipa minyak East-West yang menjadi alternatif distribusi minyak di Selat Hormuz.(WIKIMEDIA COMMONS)
13:12
24 April 2026

Eksportir Minyak Berebut Jalur Alternatif Selain Selat Hormuz, Tapi Opsi Terbatas

– Negara-negara pengekspor minyak di Timur Tengah tengah berpacu mencari jalur alternatif untuk mengirimkan minyak dan gas mereka. Upaya ini dilakukan setelah jalur utama melalui Selat Hormuz praktis tertutup bagi lalu lintas komersial selama hampir dua bulan terakhir.

Penutupan jalur strategis tersebut memicu krisis pasokan energi global. Hingga kini, belum ada kejelasan kapan konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran akan berakhir.

Kedua pihak juga menjadikan Selat Hormuz, jalur vital yang sebelumnya dilalui sekitar 20 persen pasokan minyak dunia, sebagai alat tawar dalam negosiasi damai yang berlangsung tersendat.

Baca juga: Aksi Kejar-kejaran di Selat Hormuz, AS Sergap Kapal Iran Dorena hingga ke Samudra Hindia

Blokade ganda di selat itu mendorong lonjakan harga energi global sekaligus menyoroti rapuhnya pasar energi dunia ketika jalur-jalur penting seperti Selat Hormuz, Terusan Panama, dan Terusan Suez terganggu.

Dikutip dari CNBC, Jumat (24/4/2026), Direktur Eksekutif International Energy Agency (IEA) Fatih Birol mengatakan, kondisi ini seharusnya sudah diantisipasi sejak lama. Ia menilai ketergantungan pada satu jalur sempit sangat berisiko bagi ekonomi global.

“Ekonomi global senilai 110 triliun dollar AS bisa disandera oleh beberapa ratus orang bersenjata di selat sepanjang 50 kilometer. Ini tidak masuk akal. Kita membutuhkan rute alternatif,” ujarnya.

Risiko di Selat Hormuz sebenarnya telah lama dipahami. Namun, menurut penasihat senior Atlantic Council untuk program Timur Tengah, Maisoon Kafafy, penutupan pada Februari 2026 membuktikan bahwa asumsi lama bisa runtuh.

Baca juga: Trump Perintahkan Angkatan Laut AS Tembak Kapal Penebar Ranjau Iran di Selat Hormuz

Selama ini, biaya dan risiko dianggap belum cukup besar untuk mendorong investasi besar-besaran pada infrastruktur alternatif.

Selain itu, faktor saling ketergantungan ekonomi dan sistem pencegah konflik membuat penutupan total dinilai kecil kemungkinannya.

Perang yang terjadi saat ini mengubah perhitungan tersebut. Negara-negara Teluk yang selama ini bergantung pada Selat Hormuz kini mulai serius mencari jalur ekspor baru untuk mengurangi ketergantungan.

Sementara itu, Ekonom Oxford Economics, Lucila Bonilla, menyebut konflik ini mempercepat upaya pengalihan rute ekspor. Kondisi ini juga berpotensi melemahkan posisi strategis Iran dalam jangka panjang.

Pengalihan rute mulai berjalan

Pada awal konflik, strategi Iran menutup akses Selat Hormuz sempat memberi keuntungan.

Dengan mengendalikan jalur tersebut, Iran menjadi satu-satunya negara yang mampu mengekspor hidrokarbon selama beberapa pekan, di tengah lonjakan harga minyak mendekati 120 dollar AS per barel.

Baca juga: Trump Makin Berani, Perintahkan Tembak Kapal Iran di Selat Hormuz

Namun, keunggulan itu berkurang setelah Amerika Serikat (AS) memblokade pelabuhan Iran sejak pertengahan April.

Meski demikian, negara-negara Teluk tetap menghadapi kendala karena tidak bisa mengekspor minyak dan gas alam cair (LNG) melalui selat tersebut.

Menurut IEA, sebagian besar negara seperti Iran, Irak, Kuwait, Qatar, dan Bahrain masih sangat bergantung pada Selat Hormuz untuk ekspor minyak. Sementara itu, tujuan utama ekspor tersebut adalah Asia, terutama China, India, dan Jepang.

Selain itu, sebagian besar ekspor LNG dari Uni Emirat Arab dan Qatar juga melewati jalur yang sama.

Volume minyak yang sangat besar, sekitar 20 juta barel per hari sebelum perang, membuat gangguan di Selat Hormuz berdampak besar terhadap pasar global, apalagi opsi pengalihan rute masih terbatas.

Situasi semakin memburuk setelah Iran menyerang infrastruktur energi negara-negara Teluk menggunakan rudal dan drone. Negara-negara di kawasan tersebut menilai tindakan Iran menciptakan kesenjangan kepercayaan yang sulit diperbaiki.

Baca juga: Trump Plin Plan? Dulu Ancam Hancurkan Peradaban Iran, Kini Bantah Pakai Nuklir

Kapasitas jalur alternatif terbatas

Arab Saudi dan Uni Emirat Arab sebenarnya memiliki pipa minyak yang tidak melewati Selat Hormuz, yakni pipa East-West dan pipa Habshan–Fujairah (ADCOP). Namun, kapasitasnya jauh di bawah volume yang biasa melewati selat tersebut.

IEA mencatat kapasitas gabungan kedua jalur itu sekitar 3,5 hingga 5,5 juta barel per hari. Angka ini masih jauh dari kebutuhan normal sekitar 20 juta barel per hari.

Pengembangan jalur baru tidak hanya membutuhkan investasi besar, tetapi juga waktu panjang dan kerja sama lintas negara. Faktor keamanan juga menjadi tantangan, terutama setelah serangan terhadap fasilitas energi di kawasan meningkat.

Kafafy menyebut, peningkatan kapasitas infrastruktur yang ada bisa dilakukan dalam waktu relatif cepat jika ada komitmen politik. Namun, membangun jaringan jalur ekspor yang benar-benar tangguh membutuhkan strategi jangka panjang.

Konsep tersebut mencakup keberagaman rute dan titik keluar yang berbeda, sehingga gangguan di satu jalur tidak langsung menghentikan sebagian besar ekspor.

Baca juga: Iran Bantah Klaim Trump soal Keretakan Kepemimpinan

Jalur alternatif juga rentan

Konflik saat ini juga menunjukkan bahwa jalur alternatif yang ada tidak sepenuhnya aman. Pipa East-West milik Arab Saudi sempat diserang Iran pada April, mengurangi kapasitas sekitar 700.000 barel per hari.

Sementara itu, pelabuhan Fujairah di Uni Emirat Arab juga menjadi target serangan drone yang mengganggu aktivitas ekspor minyak.

IEA juga mencatat adanya pipa LNG Abqaiq-Yanbu dengan kapasitas 300.000 barel per hari, namun saat ini sudah beroperasi penuh tanpa kapasitas cadangan.

Ilustrasi letak geogafis Iran di Selat Hormuz.Kompas.com/Muhammad Zaenuddin Ilustrasi letak geogafis Iran di Selat Hormuz.

Baca juga: Selat Hormuz Jadi Arena AS dan Iran untuk Saling Tunjukkan Pengaruh

Opsi tambahan masih terbatas

Beberapa negara mulai mengeksplorasi opsi tambahan. Irak, misalnya, memiliki pipa sepanjang hampir 1.000 kilometer menuju Turki dengan kapasitas sekitar 1,6 juta barel per hari. Jalur ini sempat ditutup, tetapi akan segera dibuka kembali dengan kapasitas awal sekitar 250.000 barel per hari.

Irak juga mempertimbangkan pembangunan pipa ke Oman, Yordania, dan Mesir, meski proyek-proyek tersebut sebelumnya tertunda karena biaya tinggi dan risiko keamanan.

Sementara itu, Iran memiliki terminal minyak Jask yang dirancang untuk menghindari Selat Hormuz, dengan kapasitas sekitar 1 juta barel per hari. Namun, menurut IEA, fasilitas tersebut belum beroperasi secara efektif dan belum menjadi opsi ekspor yang layak.

Kondisi ini menunjukkan bahwa meskipun upaya diversifikasi jalur ekspor mulai dilakukan, solusi cepat untuk menggantikan peran Selat Hormuz masih belum tersedia.

Tag:  #eksportir #minyak #berebut #jalur #alternatif #selain #selat #hormuz #tapi #opsi #terbatas

KOMENTAR