Trump Batal Kirim Utusan ke Pakistan, Klaim AS Pegang Semua Kartu
Presiden Amerika Serikat Donald Trump saat menyampaikan pidato kenegaraan mengenai konflik Timur Tengah di Cross Hall, Gedung Putih, Washington DC, 1 April 2026.(AFP/POOL/ALEX BRANDON)
10:28
26 April 2026

Trump Batal Kirim Utusan ke Pakistan, Klaim AS Pegang Semua Kartu

– Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump membatalkan rencana pengiriman utusan khusus AS ke Pakistan untuk membahas gencatan senjata dengan Iran. Keputusan ini diambil setelah delegasi Iran meninggalkan Islamabad tanpa bertemu pihak AS.

Dikutip dari CNBC, Minggu (26/4/2026), utusan khusus AS Steve Witkoff dan Jared Kushner sebelumnya dijadwalkan bertolak ke Pakistan untuk berunding dengan perwakilan Iran.

Namun, Trump mengatakan rencana tersebut dibatalkan karena negosiator utama Iran hanya bertemu pejabat Pakistan dan tidak membuka jalur dialog dengan AS.

Baca juga: Detik-detik Trump Dievakuasi Usai Insiden Penembakan Saat Acara Makan Malam di Washington DC

“Terbuang terlalu banyak waktu untuk perjalanan, terlalu banyak pekerjaan. Selain itu, ada pertikaian besar dan kebingungan dalam kepemimpinan mereka,” tulis Trump melalui akun Truth Social.

“Tidak ada yang tahu siapa yang memimpin. Kami memegang semua kartu, mereka tidak punya. Jika mereka ingin berbicara, cukup telepon saja,” lanjut Trump. 

Iran tinggalkan Pakistan tanpa bertemu AS

Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi diketahui bertemu dengan Panglima Militer Pakistan Asim Munir di Islamabad pada Sabtu (25/4/2026).

Namun, juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmaeil Baqaei menegaskan tidak ada agenda pertemuan dengan Amerika Serikat (AS).

“Tidak ada pertemuan yang direncanakan antara Iran dan AS. Pandangan Iran akan disampaikan melalui Pakistan,” ujar Baqaei.

Baca juga: Ada Tembakan di Jamuan Makan Malam Gedung Putih, Trump dan Istrinya Selamat

Mengutip Reuters, dua sumber pemerintah Pakistan menyebut delegasi Iran telah meninggalkan negara itu pada hari yang sama.

Dalam pernyataannya, Araghchi memuji peran Pakistan dalam mendorong perdamaian regional, tetapi meragukan keseriusan AS dalam diplomasi.

“Kami telah menyampaikan posisi Iran terkait kerangka kerja yang dapat mengakhiri perang secara permanen. Namun, masih harus dilihat apakah AS benar-benar serius dalam diplomasi,” tulisnya.

Negosiasi mandek, ketegangan di Selat Hormuz

Upaya diplomasi antara kedua negara masih menemui jalan buntu. Putaran pertama perundingan damai yang digelar dua pekan lalu di Islamabad, yang dipimpin Wakil Presiden AS JD Vance, berakhir tanpa kesepakatan.

Ketegangan utama berpusat di Selat Hormuz, jalur vital pengiriman minyak global yang kini mengalami penurunan aktivitas akibat ancaman Iran dan blokade angkatan laut AS.

Trump menegaskan bahwa blokade terhadap pelabuhan Iran tidak akan dicabut sebelum tercapai kesepakatan.

Baca juga: Trump Tak Puas dengan Tawaran Iran, Sebut Belum Cukup untuk Berdamai

Tekanan ekonomi diperketat

Selain tekanan militer, AS juga memperketat tekanan ekonomi terhadap Teheran. Menteri Keuangan AS Scott Bessent menyatakan pemerintah tidak akan memperpanjang izin khusus pembelian minyak Iran di laut.

“Tidak ada minyak yang keluar. Kami memiliki blokade,” ujarnya.

Ia juga memperingatkan bahwa Iran berpotensi menghentikan produksi minyak dalam beberapa hari ke depan jika situasi ini berlanjut.

Di sisi lain, AS menjatuhkan sanksi kepada perusahaan China, Hengli Petrochemical, karena membeli produk minyak Iran dalam jumlah besar.

Departemen Keuangan AS menyebut kilang independen di China memainkan peran penting dalam menopang ekonomi minyak Iran.

Baca juga: Militer AS Cegat Armada Bayangan Iran, Dipulangkan ke Teheran

Gencatan senjata rapuh

Konflik antara AS dan Iran berlangsung sejak 28 Februari 2026. Gencatan senjata diumumkan pada 7 April di tengah ancaman keras dari Trump terhadap Iran.

Meski sempat diperpanjang secara sepihak oleh AS, situasi di lapangan tetap tegang, terutama di kawasan Selat Hormuz.

Pemerintah AS sebelumnya memperkirakan operasi militer akan berlangsung singkat, sekitar empat hingga enam pekan. Namun, setelah melewati batas waktu tersebut, target operasi kini disesuaikan ulang.

Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth menyatakan operasi militer yang dinamai “Operation Epic Fury” telah menghasilkan dampak signifikan dalam waktu singkat.

Tag:  #trump #batal #kirim #utusan #pakistan #klaim #pegang #semua #kartu

KOMENTAR