Dari Bengkel Kecil di China ke Raksasa Global, Jalan Panjang Anta Tantang Nike
Sepatu merek Anta.(sea.anta.com)
10:12
27 April 2026

Dari Bengkel Kecil di China ke Raksasa Global, Jalan Panjang Anta Tantang Nike

Perjalanan Anta mencerminkan perubahan besar industri manufaktur China, dari basis produksi menjadi pemain global yang menantang merek Barat.

Kisah ini dimulai pada akhir 1980-an. Seorang remaja putus sekolah, Ding Shizhong, datang ke Beijing dengan membawa 600 pasang sepatu. Ia menjualnya untuk mengumpulkan modal, lalu membuka bengkel kecil yang memproduksi alas kaki untuk perusahaan lain.

Langkah itu menjadi fondasi Anta. Perusahaan perlengkapan olahraga ini kini memiliki portofolio merek internasional seperti Arc’teryx dan Salomon. Anta juga membeli saham di Puma dan mulai menantang dominasi Nike serta Adidas.

Ding telah menetapkan visi sejak awal.

“Kami tidak ingin menjadi Nike-nya China, tetapi Anta-nya dunia,” kata Ding dilansir BBC, Senin (27/4/2026).

Posisi Anta di pasar domestik sangat kuat. Perusahaan memiliki lebih dari 10.000 toko di China. Anta juga mensponsori atlet top, termasuk pemain ski gaya bebas Eileen Gu.

Ekspansi ke pasar global terus berjalan. Pada Februari lalu, Anta membuka toko perdana di Amerika Serikat, tepatnya di Beverly Hills, Los Angeles. Langkah ini menandai masuknya Anta ke pasar Barat.

Baca juga: AI DeepSeek V4 Dirilis, Jadi Pintu Keluar China dari Ketergantungan pada Nvidia

Bertumpu pada klaster industri

Perkembangan Anta tidak terlepas dari struktur industri China. Perusahaan berdiri pada 1991 di Jinjiang, Provinsi Fujian, yang kemudian berkembang menjadi pusat industri sepatu dunia.

Jinjiang berubah dari daerah pertanian menjadi klaster manufaktur besar. Ribuan pabrik dan pemasok terkonsentrasi di wilayah ini, termasuk di Chendai dengan luas sekitar 40 kilometer persegi.

Ekosistem ini mencakup pemasok bahan baku, produsen komponen, hingga jaringan logistik. Model klaster mempercepat produksi dan menekan biaya.

Data Perserikatan Bangsa-Bangsa mencatat Fujian menyumbang hampir seperlima produksi sepatu dunia pada 2005.

Profesor Fei Qin dari University of Bath menilai klaster ini memberi efek pembelajaran besar.

“Mereka belajar tidak hanya bagaimana membuat lebih banyak, tetapi juga bagaimana memproduksi lebih baik, lebih cepat, dan lebih konsisten,” sebut Qin.

Anta memanfaatkan ekosistem ini. Perusahaan awalnya memproduksi sepatu murah dalam jumlah besar untuk merek global. Setelah itu, Anta mulai membangun merek sendiri melalui distribusi luas dan kemitraan olahraga.

Konsultan branding Wei Kan menilai langkah ini krusial. Perusahaan melihat nilai lebih besar dari menjadi merek dibanding sekadar produsen.

Baca juga: Purbaya Tahan Pajak Baru, Fokus Kejar Kepatuhan 40 Perusahaan Baja China

Ekspansi lewat akuisisi

Anta melantai di Bursa Efek Hong Kong pada 2007. Perusahaan menghimpun dana sekitar 450 juta dollar AS atau sekitar Rp 7,76 triliun. Dana ini mempercepat ekspansi.

Strategi utama Anta bertumpu pada akuisisi. Perusahaan membeli hak merek Fila di China pada 2009 dan menjadikannya sumber pendapatan utama.

Pada 2019, Anta mengakuisisi mayoritas saham Amer Sports, yang menaungi Arc’teryx dan Salomon. Perusahaan juga memiliki Wilson, produsen peralatan olahraga asal Amerika Serikat yang digunakan di National Basketball Association atau NBA.

Tahun ini, Anta membeli 29 persen saham Puma.

Analis IMG, Rufio Zhu, menilai strategi multi-merek ini efektif. Anta menggunakan merek Barat sebagai pintu masuk ke pasar global.

Tantangan persepsi dan geopolitik

Ekspansi global membawa tantangan. Persepsi terhadap produk China masih menjadi hambatan. Banyak konsumen mengaitkan produk China dengan harga murah dan kualitas rendah.

Faktor geopolitik ikut memengaruhi. Hubungan China dan Barat yang tegang berdampak pada penerimaan merek.

Kasus Eileen Gu menjadi contoh. Atlet kelahiran Amerika Serikat itu mendapat kritik setelah memilih mewakili China di Olimpiade.

Di sisi lain, pesaing Barat menghadapi tekanan. Nike dan Adidas terdampak tarif Amerika Serikat karena bergantung pada produksi di Asia. Permintaan di China juga melemah.

Kondisi ini memberi ruang bagi Anta. Konsumen mulai mencari alternatif, membuka peluang bagi merek baru.

Menuju identitas global

Persaingan tetap ketat. Anta masih tertinggal dalam hal branding global dan kerja sama dengan atlet kelas dunia.

Ekspansi ke luar negeri menuntut adaptasi. Perusahaan perlu menyesuaikan produk dengan preferensi konsumen, regulasi, dan dinamika politik.

Di dalam negeri, China terus memperkuat basis manufaktur. Otomatisasi dan penggunaan robot meningkat untuk mendorong efisiensi.

Perubahan ini menandai pergeseran strategi. China tidak lagi bergantung pada tenaga kerja murah, tetapi beralih ke produksi berbasis teknologi.

Anta berada di tengah perubahan ini. Perusahaan tumbuh dari pabrik kecil menjadi pemain global dengan dukungan ekosistem industri dan strategi agresif.

Pola ini juga terlihat pada perusahaan lain seperti Xiaomi, DJI, dan BYD. Mereka naik dari produsen kontrak menjadi pemilik merek global.

Anta kini memasuki fase penting. Perusahaan memiliki skala dan portofolio merek, tetapi masih perlu memperkuat identitas global.

Juru bicara Anta mengakui hal itu. “Kami realistis tentang persaingan, tetapi lanskap pakaian olahraga global bukanlah permainan zero-sum.”

“Kami yakin bahwa para pecinta olahraga akan mengenali inovasi dan nilai merek Anta.”

Tag:  #dari #bengkel #kecil #china #raksasa #global #jalan #panjang #anta #tantang #nike

KOMENTAR