Morgan Stanley Pangkas Proyeksi Harga Emas Dunia 2026, Kilaunya Memudar?
Ilustrasi emas batangan, harga emas hari ini. (DOK. Shutterstock.)
10:32
27 April 2026

Morgan Stanley Pangkas Proyeksi Harga Emas Dunia 2026, Kilaunya Memudar?

Reli harga emas yang sempat membawa logam mulia mencetak rekor pada awal 2026 mulai menghadapi ujian.

Dikutip dari Mining.com, Senin (27/4/2026), bank investasi Morgan Stanley memangkas proyeksi harga emas dunia untuk paruh kedua 2026 menjadi 5.200 dollar AS per ons troi, turun dari sebelumnya 5.700 dollar AS per ons troi, atau koreksi hampir 10 persen.

Revisi harga emas dunia 2026 ini menandai perubahan nada dari salah satu bank investasi besar yang sebelumnya konstruktif terhadap emas.

Baca juga: Harga Emas Antam Hari Ini 27 April 2026 Turun Rp 16.000, Cek Rinciannya

Ilustrasi emas. Harga emas dunia turun tajam pada perdagangan awal pekan ini, seiring kembali memanasnya konflik di Timur Tengah.FREEPIK/wirestock Ilustrasi emas. Harga emas dunia turun tajam pada perdagangan awal pekan ini, seiring kembali memanasnya konflik di Timur Tengah.

Bukan sekadar koreksi target, Morgan Stanley melihat perubahan lebih mendasar dalam cara pasar menilai emas, dari aset lindung nilai tradisional menjadi komoditas yang makin sensitif terhadap likuiditas global, imbal hasil obligasi, dan arah kebijakan moneter.

Pemangkasan proyeksi ini datang setelah aksi jual selama enam pekan yang membuat harga emas anjlok hampir 8 persen dari level tertingginya, bahkan disebut menjadi penurunan bulanan terburuk sejak krisis finansial 2008.

Meski begitu, secara tahunan harga emas masih mencatat kenaikan sekitar 9 persen.

Morgan Stanley menyebut tekanan harga emas dipicu kombinasi “guncangan pasokan yang langka” dan kenaikan real yield akibat ekspektasi pemangkasan suku bunga bank sentral AS Federal Reserve (The Fed) yang mundur.

Baca juga: Rincian Harga Emas Antam Hari Ini di Pegadaian 27 April 2026

Dalam laporan yang dikutip Economic Times, analis menyebut kondisi ini mengubah seluruh lanskap makro.

Real yield mengubah permainan

Kenaikan real yield menjadi pusat dari revisi proyeksi harga emas tersebut. Ketika imbal hasil riil obligasi naik, aset non-yielding seperti emas kehilangan daya tarik relatifnya.

Ilustrasi emas. Freepik Ilustrasi emas.

Morgan Stanley menilai hubungan terbalik klasik antara emas dan real yield yang sempat melemah selama reli 2025 kini kembali berlaku.

Ekspektasi pasar yang sebelumnya meyakini The Fed akan memangkas suku bunga lebih cepat ikut menopang reli emas, tetapi penundaan pemangkasan suku bunga mengubah sentimen.

Baca juga: Harga Emas Hari Ini di Pegadaian 27 April 2026: Galeri 24 dan UBS

“Emas kini diperdagangkan lebih seperti aset makro yang terkait dengan suku bunga daripada sekadar aset safe haven murni,” demikian dikutip Economic Times dari analisis Morgan Stanley.

Gangguan energi di Timur Tengah yang mendorong harga minyak naik juga disebut menaikkan ekspektasi inflasi.

Namun alih-alih menguntungkan emas, kenaikan inflasi yang disertai ketahanan ekonomi justru mendorong real yield lebih tinggi.

Dalam pandangan Morgan Stanley, ini membuat emas tidak lagi hanya digerakkan oleh narasi ketidakpastian geopolitik, melainkan lebih banyak oleh dinamika suku bunga dan likuiditas.

Baca juga: Emas Diramal Melejit Pekan Depan, Target Harga Dekati Rp 3 Juta per Gram

Status safe haven emas dipertanyakan

Di luar memangkas target harga, Morgan Stanley juga mulai mempertanyakan kembali fungsi emas sebagai safe haven.

Dalam laporan yang dikutip dari TradingView, bank itu menilai emas belakangan “berperilaku kurang seperti tempat perlindungan” dan lebih dipengaruhi positioning investor besar, aliran ETF, dan pergerakan dollar AS.

Morgan Stanley bahkan menyebut emas saat ini bisa dipandang sebagai kombinasi safe haven, risk asset, dan alternative investment, bukan lagi perlindungan yang secara otomatis menguat ketika gejolak meningkat.

Pandangan itu muncul setelah performa emas selama konflik Iran dinilai tidak konsisten dengan fungsi lindung nilai tradisional.

Baca juga: Harga Emas Antam Sepekan Turun Rp 15.000, Buyback Ikut Melemah

Ilustrasi emas, emas batangan. Penyebab harga emas naik-turun. Harga emas.FREEPIK/RAWPIXEL.COM Ilustrasi emas, emas batangan. Penyebab harga emas naik-turun. Harga emas.

Alih-alih terus menerima aliran dana defensif, harga emas justru beberapa kali melemah ketika tekanan likuiditas meningkat.

Amy Gower, metals and mining strategist Morgan Stanley, dikutip Binance News, menyebut emas saat ini lebih berperilaku seperti aset berisiko daripada aset aman.

Bank itu juga menyoroti penjualan emas bank sentral Turki, pelemahan pembelian resmi, serta arus keluar exchange traded fund (ETF) sebagai faktor yang menambah tekanan harga.

Data yang dikutip Morgan Stanley menunjukkan ETF sempat melikuidasi sekitar 90 ton emas pada Maret 2026, dari pembelian sekitar 150 ton pada Januari hingga Februari 2026. Meski sebagian arus dana sudah kembali, volatilitas dinilai belum selesai.

Baca juga: Minat Investasi Emas Naik, Pembiayaan Flexi Gold Bank Mega Syariah Naik 756 Persen

Perak justru diunggulkan

Menariknya, saat lebih berhati-hati terhadap emas, Morgan Stanley justru lebih konstruktif pada perak.

Dalam laporan TradingView, bank itu melihat perak memiliki dukungan fundamental lebih kuat dari defisit pasokan yang bertahan beberapa tahun dan permintaan industri, khususnya dari sektor panel surya dan elektronik.

“Perak tampaknya masih memiliki prospek kenaikan yang lebih nyata dibandingkan emas,” tulis Morgan Stanley dalam laporannya.

Narasi ini memperkuat pandangan bahwa investor logam mulia mungkin mulai melihat alternatif selain emas untuk strategi defensif maupun peluang pertumbuhan.

Baca juga: Harga Emas Dunia Sentuh Level Terendah Sepekan, Terbebani Lonjakan Harga Minyak

Selain perak, aluminium juga disebut Morgan Stanley memiliki prospek lebih menarik karena pasokan yang ketat dan tingginya intensitas energi produksi yang membatasi respons suplai.

Sebaliknya, bank itu mengambil pandangan lebih netral terhadap tembaga, karena belum melihat fondasi yang cukup kuat menopang reli berkelanjutan.

Bull run emas belum berakhir?

Ilustrasi emas. DOK. Pixabay/hamiltonleen. Ilustrasi emas.

Meski menurunkan proyeksi, Morgan Stanley tidak menyebut reli harga emas selesai.

Bank itu justru menggambarkan pasar sedang memasuki fase transisi, ketika kenaikan berbasis momentum dan likuiditas mulai mereda, digantikan fase yang lebih bergantung pada data makro.

Baca juga: Soal Jastip Emas Antam, Manajemen ANTM: Kami Tidak Merekomendasikan

“Keuntungan mudah yang didorong oleh likuiditas dan momentum kemungkinan besar sudah berakhir,” kata Morgan Stanley, dikutip Economic Times.

Morgan Stanley masih melihat harga 5.200 dollar AS per ons troi bisa tercapai, tetapi dengan syarat tertentu, terutama jika The Fed mulai memangkas suku bunga pada akhir tahun dan real yield turun.

Inflasi yang bertahan tinggi sambil pertumbuhan melambat juga bisa membuka ruang bullish baru bagi emas.

Bank itu juga menilai dukungan struktural belum hilang, termasuk tingginya utang global, permintaan bank sentral, serta ketegangan geopolitik yang masih berlangsung.

Baca juga: Harga Emas Bangkit dari Level Terendah Sepekan, Harapan Damai AS-Iran Jadi Katalis

Dalam laporan TheStreet, Morgan Stanley bahkan menyebut revisi target harga ini bukanlah prediksi bearish secara langsung.

Pergeseran cara pasar menilai emas

Yang lebih besar dari sekadar revisi target harga adalah perubahan narasi tentang emas itu sendiri.

Selama bertahun-tahun, emas hampir otomatis dipandang sebagai tempat berlindung saat gejolak meningkat. Namun Morgan Stanley menilai pasar kini menilai fungsi itu lebih selektif.

Dalam kondisi sekarang, emas bukan hanya dipengaruhi risiko geopolitik, melainkan juga biaya peluang memegang aset tanpa imbal hasil, arus ETF, kekuatan dolar, dan strategi portofolio institusi.

Baca juga: Harga Emas Dunia Anjlok 2 Persen, Dollar AS dan Yield Obligasi Menguat

“Ini bukan tentang emas kehilangan relevansinya sama sekali, melainkan lebih tentang pasar yang mengubah cara penetapan harga dan ekspresi keamanannya,” demikian isi laporan Invezz yang dikutip TradingView.

Ilustrasi emas. Penyebab harga emas naik-turun. Proyeksi harga emas.DOK. Pexels/Michael Steinberg. Ilustrasi emas. Penyebab harga emas naik-turun. Proyeksi harga emas.

Perubahan ini penting karena bisa menggeser cara investor memandang logam mulia, dari sekadar proteksi terhadap krisis menjadi aset yang lebih erat dengan siklus kebijakan moneter.

Dalam konteks itu, koreksi proyeksi Morgan Stanley bukan hanya soal target 5.700 dollar AS yang turun ke 5.200 dollar AS, tetapi juga sinyal bahwa reli emas ke depan mungkin tidak lagi semudah beberapa tahun terakhir.

Fokus pasar bergeser ke The Fed

Dengan narasi safe haven yang dipertanyakan, fokus investor kini lebih tertuju ke arah kebijakan Federal Reserve.

Baca juga: Di Balik Gejolak Harga, Emas Tetap Jadi Aset Diversifikasi

Morgan Stanley menyebut waktu pemangkasan suku bunga, pergerakan real yield, dan arus masuk ETF akan menjadi penentu utama arah emas sepanjang sisa 2026.

Jika pelonggaran moneter datang lebih cepat, emas berpeluang pulih. Namun jika suku bunga tinggi bertahan lebih lama, ruang kenaikan harga bisa terbatas.

Untuk saat ini, pasar emas tampaknya tidak lagi hanya digerakkan rasa takut, tetapi juga kalkulasi yang lebih dingin terhadap likuiditas dan imbal hasil.

Itulah yang membuat pemangkasan proyeksi Morgan Stanley dinilai lebih dari sekadar revisi angka, melainkan penanda perubahan fase di pasar emas global.

Tag:  #morgan #stanley #pangkas #proyeksi #harga #emas #dunia #2026 #kilaunya #memudar

KOMENTAR