Ekonom Ungkap Strategi BCA Menjaga Likuiditas di Tengah Tekanan Makro
Ilustrasi perbankan. (SHUTTERSTOCK/RAWPIXEL.COM)
20:36
28 April 2026

Ekonom Ungkap Strategi BCA Menjaga Likuiditas di Tengah Tekanan Makro

Di tengah peningkatan ketidakpastian ekonomi dan risiko fiskal domestik, kinerja PT Bank Central Asia Tbk atau BCA (kode emiten: BBCA) pada kuartal I 2026 menunjukkan ketahanan yang kokoh.

Hal tersebut dinilai dipengaruhi oleh strategi yang adaptif dalam membaca perubahan perilaku nasabah dan dinamika makro yang semakin kompleks.

Ekonom Bright Institute Yanuar Rizky menilai, kekuatan utama BCA terletak pada fundamental bisnisnya, khususnya dominasi dana murah atau current account saving account (CASA). Dalam lanskap perbankan Indonesia, instrumen CASA menjadi indikator penting karena mencerminkan stabilitas likuiditas sekaligus efisiensi biaya dana.

Baca juga: Ara Resmikan Akad KPR Sejahtera 51 Rumah Subsidi BCA di Serang

Yanuar juga menilai langkah BCA membuka opsi “poket valas” atau konversi tabungan rupiah ke valuta asing (valas) sebagai strategi krusial. Menurut dia, langkah ini bukan sekadar inovasi produk, melainkan respons terhadap perubahan preferensi nasabah.

“Kemampuan BCA mempertahankan likuiditas Dana Pihak Ketiga (DPK) dengan memberi ruang bagi nasabah untuk tetap menahan dananya di BCA melalui penyediaan poket valas merupakan strategi yang kuat,” ujar Yanuar dalam keterangan tertulis yang diterima Kompas.com, Selasa (28/4/2026).

Dengan menyediakan kanal lindung nilai di dalam ekosistemnya sendiri, BCA secara efektif menahan potensi capital outflow di level mikro. Nasabah tetap menyimpan dananya di BCA dalam bentuk valas, alih-alih dana keluar dari bank untuk membeli dollar atau emas di luar sistem.

“Bahkan, pelemahan rupiah secara tidak langsung turut meningkatkan nilai CASA dalam denominasi rupiah sehingga memberikan efek tambahan bagi neraca bank,” kata dia.

Baca juga: Mengintip Pesona Desa Wisata Bakti BCA di Belitung, dari Tarsius hingga Tradisi Makan Bedulang

Yanuar menjelaskan, fenomena tersebut mencerminkan bagaimana bank tidak hanya berperan sebagai intermediari tradisional, tetapi juga beradaptasi menjadi platform manajemen risiko bagi nasabah.

Di sisi lain, keunggulan BCA juga diperkuat oleh dominasi dalam sistem pembayaran yang terintegrasi.

Infrastruktur payment gateway yang kuat menciptakan hubungan “back-to-back” antara penghimpunan dana (saving) dan penyaluran kredit, khususnya kredit konsumsi. Model ini memungkinkan BCA menjaga kualitas aset sekaligus memoderasi potensi kenaikan non-performing loan (NPL) atau kredit bermasalah.

Punya daya tarik kuat

Dari perspektif investasi, saham BCA tetap memiliki daya tarik tersendiri. Yanuar melihat BBCA sebagai kandidat untuk strategi akumulasi jangka panjang, alih-alih sebagai safe haven. Utamanya, saat terjadi koreksi harga dan volatilitas mulai mereda.

Sementara itu, dari sisi perilaku nasabah, dinamika yang terjadi juga menarik. Data Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) menunjukkan deposan kecil cenderung mengurangi tabungan, sedangkan deposan besar justru meningkat.

Baca juga: Strategi BCA Dongkrak Transaksi myBCA Lewat Gelaran Olahraga di Belitung

Hal tersebut mengindikasikan adanya pergeseran sikap, yakni kelompok masyarakat dengan dana besar memilih menahan likuiditas dan menghindari ekspansi di tengah ketidakpastian.

Dalam situasi tersebut, Yanuar menilai segmentasi nasabah, seperti Prioritas dan Solitaire, menjadi semakin relevan.

BCA tidak hanya menawarkan layanan eksklusif, tetapi juga memosisikan diri sebagai institusi yang mampu menjadi “safe place” bagi dana besar, bukan dalam arti bebas risiko pasar, melainkan sebagai tempat untuk melakukan lindung nilai secara fleksibel.

“Nasabah Prioritas dan Solitaire memang bagian dari strategi agar pemilik dana besar tetap merasa bank menjadi tempat untuk menjaga lindung nilai,” imbuh Yanuar.

Tag:  #ekonom #ungkap #strategi #menjaga #likuiditas #tengah #tekanan #makro

KOMENTAR