Pelintasan Sebidang Biang Celaka, Presiden Prabowo Turun Tangan
Presiden RI, Prabowo Subianto saat memberikan keterangan kepada wartawan usai menjenguk korban kecelakaan KA Argo Bromo dengan KRL Commuter Line di RSUD Kota Bekasi, Selasa (28/4/2026)(KOMPAS.com/Ridho Danu Prasetyo)
07:52
29 April 2026

Pelintasan Sebidang Biang Celaka, Presiden Prabowo Turun Tangan

- Presiden Prabowo Subianto turun tangan mengatasi masalah pelintasan sebidang di jalur kereta api yang kerap menjadi biang kecelakaan lalu lintas.

Prabowo menyebut, pelintasan sebidang sudah menjadi persoalan puluhan tahun dan tidak kunjung dibenahi.

Keberadaan pelintasan sebidang itu Prabowo soroti saat meninjau kecelakaan kereta api jarak jauh Argo Merbabu Anggrek yang menabrak KRL Commuter Line di Stasiun Bekasi Timur, Kota Bekasi, Jawa Barat, Selasa (29/4/2026). “Sudah berapa puluh tahun sekarang ya sudah lah kita selesaikan semua itu,” kata Prabowo.

Kecelakaan yang menewaskan 15 penumpang perempuan itu memang tidak bisa terlepas dari keberadaan pelintasan sebidang.

Baca juga: Airlangga Buka Suara Terkait Sumber Dana Rp 4 Triliun untuk Pelintasan Sebidang Kereta

Beberapa saat sebelum kuda besi itu menubruk gerbong khusus perempuan pada Senin (27/4/2026) malam, sebuah taksi hijau tersangkut di rel.

Kendaraan listrik itu menyeberang rel melalui perlintasan sebidang namun mengalami kendala dan macet di tengah jalur.

Perlintasan sebidang di dekat stasiun itu memang digunakan warga untuk menyeberang ke jalan raya.

Akibatnya, taksi itu tertemper KRL Commuter Line buatan China yang baru beroperasi beberapa bulan.

Karena terdapat gangguan pada jalur KRL, petugas meminta KRL lain, produk Jepang yang telah digunakan bertahun-tahun, berhenti di Stasiun Bekasi Timur.

Tidak berselang lama, kereta api Argo Merbabu Anggrek menubruk KRL tersebut hingga ringsek.

Prabowo menyatakan, pemerintah bakal melakukan investigasi guna mengungkap kebenaran peristiwa tersebut. “Tapi secara garis besar kita perhatikan lintasan-lintasan kereta api ini banyak yang tidak dijaga ya?” ujar Prabowo.

Gelontorkan Bantuan Presiden

Saat meninjau kondisi tersebut, Prabowo ditemani pihak Pemerintah Kota Bekasi dan Direktur PT KAI Bobby Rasyidin.

Prabowo mengaku menerima permintaan dari pihak Pemkot Bekasi agar pemerintah membangun flyover sehingga masyarakat tidak harus menyeberangi rel melalui perlintasan sebidang yang berbahaya.

Presiden memahami, Kota Bekasi begitu padat.

Di sisi lain, keberadaan kereta juga menjadi moda transportasi publik yang penting. “Kita segera akan atasi pemerintah daerah Bekasi telah mengajukan dibuat flyover karena Bekasi ini juga padat ya,” tutur Prabowo.

“Segera dibangun flyover langsung oleh Bantuan Presiden,” kata Prabowo.

Petugas masih mengevakuasi gerbong KRL usai tabrakan dengan KA Argo Bromo Anggrek di Stasiun Bekasi Timur, Selasa (28/4/2026).Kompas.com/Febryan Kevin Candra Kurniawan Petugas masih mengevakuasi gerbong KRL usai tabrakan dengan KA Argo Bromo Anggrek di Stasiun Bekasi Timur, Selasa (28/4/2026).

Anggarkan Rp 4 T untuk Keamanan Lintasan

Prabowo juga menyampaikan, pemerintah telah menganggarkan dana Rp 4 triliun untuk memperkuat keamanan pelintasan sebidang.

Menurutnya, di Pulau Jawa saja terdapat 1.800 titik pelintasan sebidang yang tidak dijaga.

Prabowo lalu meminta jajarannya mengatasi persoalan itu dengan membangun pos pengamanan pintu kereta maupun pembangunan flyover.

“Nanti pelaksanaannya kita tunjuk. Kita perhitungkan sekitar hampir Rp 4 triliun ya,” kata dia.

Menurutnya, demi keamanan dan keselamatan masyarakat anggaran tersebut perlu digelontorkan.

“Sekarang saatnya sudah berapa puluh tahun tidak dilakukan sekarang kita lakukan,” tegas Prabowo.

Didanai APBN

Menindaklanjuti arahan presiden, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyebut, dana Rp 4 triliun itu bakal menggunakan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

“Ya kalau anggaran kan selalu sumbernya sama (APBN),” kata Airlangga di Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Jakarta, Selasa.

Pada kesempatan yang sama, Kepala Badan Pengaturan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Dony Oskaria menyebut penguatan pengamanan pelintasan pada 1.800 titik itu bukan kebijakan mendadak karena insiden di Stasiun Bekasi Timur.

Dony menyebut, penjagaan atau pembangunan flyover pada 1.800 titik itu sudah dalam rencana kerja pemerintahan tahun ini.

“Ini sebetulnya sudah masuk dalam program kerja kita tahun ini sebagaimana diarahkan Bapak Presiden kepada kurang lebih 1.800 lintasan kereta selama itu wajib diperbaiki harus ada pintunya,” ujar Dony.

Menurut Dony, keselamatan masyarakat menjadi tujuan utama dalam proyek penjagaan atau pembangunan flyover di 1.800 titik pelintasan sebidang.

“Itu dari pemerintah, dari kami juga ada bujet juga tetapi dari pemerintah memang ini kan Kemenhub yang memang prasarana itu menjadi dari pemerintah juga,” kata dia.

Kondisi perlintasan sebidang JPL 190 Blitar setelah insiden KA Dhoho tertemper truk mogok.Dokumentasi KAI Kondisi perlintasan sebidang JPL 190 Blitar setelah insiden KA Dhoho tertemper truk mogok.

Mayoritas Pelintasan Sebidang Tak Dijaga

Terpisah, Wakil Ketua Komisi V DPR RI Syaiful Huda juga menyoroti keberadaan pelintasan sebidang.

Adapun Komisi V merupakan mitra kerja Kementerian Perhubungan sehingga turut mengawasi kebijakan transportasi.

Menurut Huda, selama ini perlintasan itu kerap mengganggu lalu lintas kereta api baik jarak jauh maupun KRL Commuter Line. Pihaknya mencatat, terdapat 3.000-4.000 perlintasan sebidang di seluruh Indonesia.

“Mayoritas pelintasan sebidang ini tanpa penjagaan sehingga kerap memicu kecelakaan kereta,” kata Huda dalam keterangan tertulis, Selasa.

Politikus Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) itu menyebut, dari 4.000-an perlintasan sebidang itu hanya 1.200 yang dijaga. “Sementara ada 2.600 titik yang tanpa penjagaan. Sedangkan sisanya adalah perlintasan liar,” ujar Huda.

Baca juga: Prabowo Mau Benahi 1.800 Pelintasan Kereta, BUMN Siap Kucurkan Dana

Tag:  #pelintasan #sebidang #biang #celaka #presiden #prabowo #turun #tangan

KOMENTAR