Perkuat Kemandirian Industri Farmasi, Satoria Pharma Ekspansi Pabrik Infus di Jatim
Sejumlah cairan infus produksi industri farmasi yang dilakukan oleh PT Satoria Aneka Industri melalui unit bisnis Satoria Pharma yang merupakan produsen infus dalam negeri.(KOMPAS.COM/SUCI RAHAYU)
12:44
29 April 2026

Perkuat Kemandirian Industri Farmasi, Satoria Pharma Ekspansi Pabrik Infus di Jatim

- Industri farmasi Indonesia tengah berada di titik krusial. Di satu sisi mampu memenuhi mayoritas kebutuhan obat nasional, namun di sisi lain masih bergantung besar pada bahan baku impor.

Ketimpangan ini kini mulai dijawab melalui penguatan produksi dalam negeri, termasuk ekspansi industri cairan infus yang menjadi bagian vital layanan kesehatan.

Untuk itu Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) menegaskan pentingnya percepatan kemandirian sektor farmasi sebagai langkah strategis menghadapi tantangan tersebut.

"Produk obat jadi dalam negeri memang didominasi lokal, namun bahan baku masih bergantung impor hingga 70–80 persen, ini yang harus kita dorong kemandiriannya," kata Deputi Bidang Pengawasan Obat, Narkotika, Psikotropika, Prekursor dan Zat Adiktif (Deputi 1) BPOM William Adi Teja saat Peresmian Pabrik Line 4 Satoria Pharma di Pasuruan, Jawa Timur, Selasa (28/6/2026).

Baca juga: Pakai 5 Strategi Hijau, Emiten Farmasi Ini Raih Kinerja Signifikan pada 2025

Dalam upaya mengurangi impor, BPOM melihat peluang besar pada pengembangan industri bahan baku dalam negeri, salah satunya garam farmasi yang menjadi komponen penting dalam produksi cairan infus.

Ia menjelaskan bahwa saat ini Indonesia telah memiliki empat perusahaan industri garam farmasi, dengan tiga di antaranya berada di Jawa Timur.

Total kapasitas produksinya mencapai sekitar 4.000 ton per tahun.

Adi Pranoto Alim, Managing Director Satoria Pharma saat menjelaskan sejumlah cairan infus produksi industri farmasi yang dilakukan oleh PT Satoria Aneka Industri yang merupakan produsen infus dalam negeri usai peresmian pabrik Line 4 Satoria Pharma di Pasuruan, Selasa (28/4/2026) siang.KOMPAS.COM/SUCI RAHAYU Adi Pranoto Alim, Managing Director Satoria Pharma saat menjelaskan sejumlah cairan infus produksi industri farmasi yang dilakukan oleh PT Satoria Aneka Industri yang merupakan produsen infus dalam negeri usai peresmian pabrik Line 4 Satoria Pharma di Pasuruan, Selasa (28/4/2026) siang.

Jumlah tersebut dinilai sudah mampu memenuhi kebutuhan nasional yang berada di kisaran 1.500 hingga 1.700 ton per tahun berdasarkan data 2025.

Kondisi ini membuka peluang besar untuk menggantikan impor secara bertahap.

Ekspansi Industri Infus Perkuat Ketahanan Nasional

Langkah konkret dalam memperkuat ketahanan farmasi juga dilakukan oleh PT Satoria Aneka Industri melalui unit bisnisnya, Satoria Pharma.

Dengan peresmian pabrik Line 4 menjadi tonggak penting dalam meningkatkan kapasitas produksi cairan infus nasional.

"Peningkatan kapasitas produksi dan penambahan lini baru, kami berharap industri farmasi nasional semakin mandiri," kata William Adi Teja.

Sementara itu CEO dan Pendiri PT Satoria Aneka Industri, Alim Satria, menyampaikan bahwa dengan beroperasinya lini produksi baru tersebut, kapasitas produksi infus ditargetkan mencapai 230 juta botol per tahun.

Tidak berhenti di situ, perusahaan juga tengah menyiapkan pembangunan Line 5 yang akan mendorong kapasitas hingga 400 juta botol per tahun pada 2028 mendatang.

Ia mengisahkan perjalanan panjang perusahaan yang berdiri sejak 2014 lalu.

Dalam kurun waktu 12 tahun, perusahaan  berkembang pesat meski menghadapi berbagai tantangan.

Deputi Bidang Pengawasan Obat, Narkotika, Psikotropika, Prekursor dan Zat Adiktif (Deputi 1) BPOM dr. William Adi Teja MD., BMed., MMed. (dua dari kiri), Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa (tengah) dan CEO PT Satoria Aneka Industri, Alim Satria (dua dari kanan) foto bersama saat peresmian pabrik Line 4 Satoria Pharma di Pasuruan, Selasa (28/4/2026) siang.KOMPAS.COM/SUCI RAHAYU Deputi Bidang Pengawasan Obat, Narkotika, Psikotropika, Prekursor dan Zat Adiktif (Deputi 1) BPOM dr. William Adi Teja MD., BMed., MMed. (dua dari kiri), Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa (tengah) dan CEO PT Satoria Aneka Industri, Alim Satria (dua dari kanan) foto bersama saat peresmian pabrik Line 4 Satoria Pharma di Pasuruan, Selasa (28/4/2026) siang.

"Sebagai pabrik infus terbesar di Indonesia pertumbuhan pasar infus di Indonesia serta kinerja pertumbuhan tahunan Satoria Pharma yang secara konsisten berada pada sekitaran 35 persen setiap tahunnya," ujar Alim Satria.

Untuk itu ia menegaskan komitmen perusahaan untuk terus menjaga ketersediaan produk sekaligus meningkatkan kualitas demi mendukung kemandirian industri farmasi nasional.

"Sehingga dipandang penting untuk terus melakukan ekspansi bisnis sekaligus memperkuat fondasi di sektor infus," imbuhnya.

Dukungan Pemerintah dan Harapan dari Jawa Timur

Kini dukungan terhadap penguatan industri farmasi juga datang dari Pemerintah Provinsi Jawa Timur.

Gubernur Khofifah Indar Parawansa secara langsung meresmikan pabrik Line 4 yang berlokasi di Pasuruan.

"Kita sangat menyambut baik, terutama karena dari pabrik ini ada potensi kerjasama dengan 14 rumah sakit milik pemprov Jawa Timur untuk mendapatkan suplai infus," tuturnya.

Selanjutnya ia juga menekankan bahwa keberadaan industri seperti Satoria Pharma menjadi bagian penting dari upaya besar dalam mendorong substitusi impor dan hilirisasi industri di Indonesia.

"Mudah-mudahan terus tumbuh berkembang luas dan makin hebat makin hebat lagi," pungkasnya.

Baca juga: Geopolitik Ganggu Rantai Pasok Farmasi, Kepala BPOM Dorong Kemandirian Industri Obat Nasional

Tag:  #perkuat #kemandirian #industri #farmasi #satoria #pharma #ekspansi #pabrik #infus #jatim

KOMENTAR