ADB Pangkas Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi Asia, Imbas Krisis Timur Tengah
Bank Pembangunan Asia atau Asian Development Bank (ADB) memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi kawasan berkembang Asia dan Pasifik seiring dampak konflik di Timur Tengah yang lebih panjang dari perkiraan awal.
Gangguan berkepanjangan terhadap pasokan energi dan jalur perdagangan dinilai mulai menekan aktivitas ekonomi, sekaligus memicu lonjakan inflasi di kawasan.
Dalam pembaruan khusus proyeksi ekonomi yang dirilis pada Rabu (29/4/2026), ADB memperkirakan pertumbuhan ekonomi kawasan hanya mencapai 4,7 persen pada 2026 dan 4,8 persen pada 2027.
Baca juga: Hashim Sebut Internet Rakyat dan Perumahan Jadi Pendorong Pertumbuhan Ekonomi Indonesia
Ilustrasi pertumbuhan ekonomi Indonesia.
Angka ini lebih rendah dibanding proyeksi sebelumnya dalam Asian Development Outlook (ADO) April 2026 yang masing-masing dipatok 5,1 persen untuk dua tahun tersebut.
Presiden ADB Masato Kanda mengatakan revisi ini mencerminkan perubahan besar dalam lanskap ekonomi regional akibat dampak konflik yang meluas.
“Revisi prospek kami merupakan revisi penurunan yang signifikan untuk pertumbuhan dan peningkatan inflasi yang tajam menyusul pembaruan khusus untuk mencerminkan krisis yang semakin dalam,” ujar Kanda, dikutip dari laman resmi ADB.
Menurut dia, kawasan kini menghadapi gangguan sistemik yang berpotensi berlangsung lama terhadap jaringan energi dan perdagangan global, bukan sekadar gejolak sementara.
Baca juga: Luhut: Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Solid di Tengah Gejolak Dunia
“Kita sedang menghadapi gangguan sistemik dan jangka panjang terhadap jaringan energi dan perdagangan global, bukan hanya volatilitas sementara,” kata dia.
ADB, lanjut Kanda, akan terus memantau risiko yang bergerak cepat dan mempercepat dukungan untuk membantu ekonomi kawasan menghadapi tekanan yang meningkat.
Ilustrasi harga minyak, harga minyak mentah.
Harga energi jadi sumber tekanan baru
Revisi proyeksi ADB terutama dipicu lonjakan harga energi yang terus bertahan tinggi.
Dalam skenario dasar terbaru, ADB memperkirakan harga minyak rata-rata berada di level 96 dollar AS per barrel sepanjang 2026, jauh lebih tinggi dibanding rata-rata 69 dollar AS per barrel pada Januari dan Februari 2026 sebelum konflik meningkat.
Baca juga: Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi Indonesia 2026
Harga minyak diperkirakan baru melandai ke sekitar 80 dollar AS per barel pada 2027.
Kenaikan harga energi itu menjadi sumber tekanan baru bagi banyak negara berkembang di Asia yang bergantung pada impor bahan bakar.
Biaya energi yang lebih tinggi mendorong tekanan harga domestik, mempersempit ruang fiskal pemerintah, dan memperburuk risiko terhadap sektor-sektor yang sensitif terhadap biaya operasional.
ADB memperkirakan inflasi kawasan melonjak menjadi 5,2 persen pada tahun ini, dibanding 3 persen tahun lalu.
Baca juga: BPD Didorong Naik Kelas, Jadi Orkestrator Pertumbuhan Ekonomi Daerah
Meski diperkirakan turun menjadi 4,1 persen pada 2027, level tersebut tetap lebih tinggi dari tren sebelum krisis.
Tekanan inflasi dinilai paling terasa di negara-negara yang sangat bergantung pada impor energi, remitansi, pariwisata, maupun pembiayaan eksternal.
Dalam pembaruannya, ADB menyebut dampak ekonomi konflik berlangsung lebih lama dari yang semula diantisipasi.
Risiko berlanjut terhadap produksi energi dan jalur transportasi, disertai tekanan berkepanjangan terhadap harga minyak dan gas, memperlemah prospek pertumbuhan sekaligus mendorong inflasi.
Baca juga: Mewujudkan Pertumbuhan Ekonomi Inklusif
Ilustrasi pertumbuhan ekonomi.
Risiko skenario lebih buruk
Selain skenario dasar, ADB juga menyusun skenario penurunan (downside scenario) bila konflik kembali meningkat dan harga minyak melonjak lebih tinggi pada Mei 2026 serta bertahan di level tersebut.
Dalam kondisi itu, pertumbuhan ekonomi kawasan berkembang Asia dan Pasifik berpotensi melambat ke 4,2 persen pada tahun ini dan turun lagi menjadi 4 persen pada 2027.
Pada saat yang sama, inflasi bisa melonjak hingga 7,4 persen pada 2026.
Proyeksi tersebut menunjukkan risiko guncangan energi terhadap ekonomi Asia belum sepenuhnya tercermin dalam skenario dasar.
Baca juga: Mengapa Kuartal I 2026 jadi Napas Pertumbuhan Ekonomi RI 2026?
Lonjakan biaya impor energi berpotensi menekan konsumsi, memperburuk neraca berjalan sejumlah negara, serta memperketat kondisi pembiayaan di tengah volatilitas pasar global.
ADB juga menyoroti pengetatan kondisi keuangan sebagai salah satu transmisi utama dampak konflik terhadap ekonomi kawasan.
Ketika harga energi meningkat dan risiko global membesar, tekanan terhadap pasar keuangan dapat memperburuk biaya pinjaman dan menghambat investasi.
Situasi itu menjadi tantangan tambahan bagi negara berkembang yang masih berupaya menjaga momentum pemulihan ekonomi sekaligus menahan tekanan harga.
Baca juga: Mengapa Kuartal I 2026 jadi Napas Pertumbuhan Ekonomi RI 2026?
Fokus kebijakan pada stabilitas
Menghadapi tekanan tersebut, ADB menekankan respons kebijakan sebaiknya berfokus pada stabilisasi, bukan menekan sinyal harga secara artifisial.
Menurut ADB, membiarkan sebagian kenaikan harga energi diteruskan ke pasar dapat mendorong penghematan energi, peralihan bahan bakar, serta investasi ke sumber energi alternatif.
Ilustrasi bahan bakar minyak (BBM).
Sebaliknya, kontrol harga yang luas atau subsidi umum dinilai berisiko mendistorsi insentif, menunda penyesuaian, dan salah alokasi sumber daya.
“Kebijakan seharusnya berfokus pada stabilisasi daripada penekanan sinyal harga,” tulis ADB dalam laporannya.
Baca juga: Menjaga Optimisme Pertumbuhan Ekonomi Indonesia 2026
Lembaga itu juga menilai dukungan fiskal, bila diperlukan, harus bersifat terarah dan sementara.
Prioritas, menurut ADB, perlu diberikan untuk melindungi rumah tangga rentan dan industri yang paling terdampak kenaikan harga.
“Prioritas harus diberikan untuk mendukung rumah tangga yang rentan dan industri yang paling terdampak,” ungkap ADB.
Pendekatan yang terarah dinilai dapat meredam dampak sosial kenaikan harga sekaligus menjaga biaya fiskal tetap terkendali.
Baca juga: Proyeksi IMF: Pertumbuhan Ekonomi Global Melambat ke 3,1 Persen pada 2026
Peran bank sentral dan risiko volatilitas
Selain kebijakan fiskal, ADB memberi perhatian besar pada respons otoritas moneter.
Menurut ADB, bank sentral perlu fokus membatasi volatilitas pasar yang berlebihan sambil tetap mengawasi ekspektasi inflasi.
Prioritas utama, menurut lembaga itu, adalah menyediakan dukungan likuiditas yang terarah untuk menjaga fungsi pasar tetap berjalan tertib.
ADB memperingatkan pengetatan kebijakan yang terlalu agresif justru berisiko memperdalam perlambatan pertumbuhan dan memperburuk volatilitas keuangan.
Baca juga: ADB: Guncangan Energi dan Perdagangan Bayangi Pertumbuhan Ekonomi Asia
“Pengetatan kebijakan yang terlalu agresif berisiko memperbesar hambatan pertumbuhan dan memperburuk volatilitas keuangan,” tulis ADB.
Meski sebagian pengetatan mungkin diperlukan, komunikasi bank sentral yang efektif untuk menjaga ekspektasi inflasi tetap terjangkar disebut akan menjadi faktor penting.
Ilustrasi pertumbuhan ekonomi.
Rekomendasi ini mencerminkan dilema yang dihadapi banyak bank sentral di kawasan: menjaga inflasi tanpa memperbesar tekanan terhadap pertumbuhan.
Pengendalian permintaan energi
Selain kebijakan fiskal dan moneter, ADB juga mendorong langkah pengelolaan permintaan energi.
Baca juga: Purbaya Pede Pertumbuhan Ekonomi Berpotensi Akselerasi, Kuartal I Jadi Penentu
Pemerintah dinilai perlu menekan konsumsi energi bila memungkinkan melalui langkah-langkah praktis, mulai dari pengaturan suhu pendingin ruangan, pengurangan penerangan non-esensial, hingga kampanye penghematan listrik saat beban puncak.
ADB juga menyebut pengaturan kerja dari rumah (work from home/WFH) atau jadwal kerja bergilir dapat menjadi opsi untuk mengurangi penggunaan energi dan bahan bakar transportasi.
Di kawasan perkotaan, insentif penggunaan transportasi publik dan penerapan hari bebas kendaraan pada hari libur juga disebut dapat membantu menekan konsumsi bahan bakar.
“Pemerintah harus mengekang permintaan energi jika memungkinkan,” demikian salah satu rekomendasi ADB.
Baca juga: Harga Energi Naik, Pertumbuhan Ekonomi Vietnam Berisiko Terpangkas
Dorongan penghematan energi ini diposisikan bukan hanya sebagai respons jangka pendek terhadap lonjakan harga, tetapi juga bagian dari penyesuaian menghadapi guncangan pasokan berkepanjangan.
Ujian baru
Pembaruan proyeksi ADB menunjukkan konflik Timur Tengah kini telah berubah dari risiko eksternal menjadi tekanan nyata bagi prospek ekonomi kawasan.
Setelah sebelumnya memproyeksikan pertumbuhan relatif solid, ADB kini melihat tekanan harga energi, gangguan perdagangan, dan pengetatan keuangan mulai mengikis daya tahan ekonomi regional.
Revisi inflasi yang melonjak dari proyeksi sebelumnya juga menandakan tantangan yang dihadapi pemerintah dan bank sentral tidak hanya soal menjaga pertumbuhan, tetapi juga mengendalikan dampak sosial dari kenaikan harga.
Baca juga: Pertumbuhan Ekonomi Vietnam 7,83 Persen, Tertinggi dalam 16 Tahun
ADB menegaskan akan terus memperkuat dukungan untuk membantu negara-negara anggota menghadapi tekanan yang berkembang cepat.
“ADB akan tetap menjadi mitra yang tanggap dalam melindungi perekonomian kawasan; melacak risiko yang berkembang pesat, dan bertindak dengan cepat untuk meningkatkan dukungan kami,” kata Kanda.
Tag: #pangkas #proyeksi #pertumbuhan #ekonomi #asia #imbas #krisis #timur #tengah