Begini yang Terjadi Pada Tubuh Saat Seseorang Terlalu Lama Stres
Stres merupakan bagian alami dari kehidupan. Dalam situasi tertentu, stres bahkan membantu seseorang tetap fokus, waspada, dan mampu menghadapi tantangan.
Namun, ketika stres dipendam terlalu lama atau terus-menerus terjadi tanpa pemulihan yang cukup, tubuh dapat mengalami berbagai dampak fisik maupun mental.
Belakangan, istilah nervous system regulation atau regulasi sistem saraf semakin sering dibahas dalam dunia kesehatan mental.
Konsep ini menjelaskan bagaimana tubuh merespons tekanan dan bagaimana sistem saraf bekerja untuk mengembalikan tubuh ke kondisi tenang setelah menghadapi stres.
Menurut Dr. Aaron Block, dokter spesialis Family Medicine dan pendiri The Cove, stres sebenarnya merupakan mekanisme biologis normal yang membantu manusia bertahan dalam situasi sulit.
“Ada juga stres positif atau eustress yang dapat membantu kita tetap termotivasi dan fokus,” jelas Dr. Block, dikutip dari Healthline, Rabu (13/5/2026).
Baca juga: WFH di Kost? Ini Cara Atasi Stres Akibat Ruangan yang Sempit
Tubuh terus berada dalam mode siaga
Saat seseorang mengalami stres, tubuh akan mengaktifkan sistem saraf simpatik atau respons fight or flight.
Pada kondisi ini, tubuh melepaskan hormon seperti adrenalin dan kortisol untuk membantu menghadapi ancaman.
Akibatnya, detak jantung meningkat, napas menjadi lebih cepat, fokus meningkat, dan otot tubuh menegang. Respons ini sebenarnya berguna jika terjadi dalam waktu singkat.
Namun masalah muncul ketika tubuh terlalu lama berada dalam mode siaga.
Menurut Dr. Block, tubuh manusia sering kali merespons tekanan sehari-hari, seperti pekerjaan, kurang tidur, masalah keuangan, atau konflik hubungan dengan cara yang sama seperti saat menghadapi bahaya nyata.
Jika berlangsung terus-menerus, tubuh dapat kesulitan kembali ke kondisi rileks.
Tanda tubuh kewalahan saat stres
Banyak orang tidak menyadari bahwa tubuh mereka sedang mengalami stres berkepanjangan karena gejalanya tampak seperti kelelahan biasa.
Padahal, sistem saraf yang terlalu lama aktif dapat memunculkan berbagai tanda fisik, seperti detak jantung meningkat, napas pendek atau cepat, otot tegang, terutama di leher dan bahu, mudah berkeringat, sulit tidur, tubuh terasa lelah terus-menerus.
Tidak hanya fisik, stres yang dipendam juga dapat memengaruhi kondisi mental.
Seseorang bisa menjadi lebih mudah marah, sulit fokus, gelisah, hingga merasa terus “on” meski sedang beristirahat.
Dr. Block menjelaskan bahwa tubuh yang terus berada dalam mode stres akan kesulitan masuk ke kondisi rest and recover atau mode pemulihan.
Baca juga: Studi Ungkap Sering Minum Soda Bisa Sebabkan Stres pada Perempuan
Berdampak pada kesehatan
Jika terjadi dalam waktu lama, stres kronis dapat memengaruhi berbagai sistem dalam tubuh.
Paparan hormon stres seperti kortisol secara terus-menerus diketahui dapat meningkatkan tekanan darah, mengganggu gula darah, hingga meningkatkan risiko penyakit jantung dan diabetes tipe 2.
Selain itu, stres berkepanjangan juga dapat berdampak pada sistem pencernaan dan memicu sakit kepala, brain fog, serta kelelahan emosional.
Kesehatan mental pun ikut terdampak. Aktivasi respons stres dalam jangka panjang berkaitan dengan meningkatnya risiko kecemasan dan depresi.
Tubuh butuh waktu untuk pulih
Menurut Dr. Block, tujuan utama regulasi sistem saraf bukan menghilangkan stres sepenuhnya, melainkan membantu tubuh memiliki kemampuan untuk pulih setelah menghadapi tekanan.
Karena itu, pemulihan menjadi hal penting agar tubuh tidak terus berada dalam kondisi siaga.
Beberapa hal sederhana yang dapat membantu tubuh lebih rileks antara lain tidur cukup, rutin bergerak, menjaga pola makan, mengatur napas, dan memiliki hubungan sosial yang suportif.
Tag: #begini #yang #terjadi #pada #tubuh #saat #seseorang #terlalu #lama #stres