Retaknya OPEC: UEA Hengkang, Venezuela & Nigeria Berpotensi Menyusul?
- Uni Emirat Arab (UEA) mengumumkan keluar dari Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak atau Organization of the Petroleum Exporting Countries (OPEC).
Keputusan ini mengejutkan sekaligus mengungkap keretakan pada organisasi tersebut.
Keputusan UEA tersebut diambil setelah berminggu-minggu terjadi serangan rudal dan pesawat tak berawak oleh Iran, sesama anggota OPEC.
Baca juga: Keluar dari OPEC, UEA Tegaskan Komitmen Stabilkan Pasar Minyak
Selat Hormuz saat dilihat dari Satelit Terra milik NASA pada 5 Februari 2025.
Hal ini masih ditambah dengan blokade Selat Hormuz yang mengganggu ekspor, sehingga memberikan tekanan pada tulang punggung perekonomian UEA.
Presiden Lipow Oil Associates Andy Lipow mengungkapkan keluarnya UEA adalah babak baru dalam perubahan keanggotaan kelompok tersebut.
"Jika negara-negara yang mematuhi kuota mereka merasa muak dengan negara-negara yang tidak mematuhinya, kita bisa melihat keluarnya negara-negara lain yang pada akhirnya dapat membuat OPEC tidak relevan sebagai kartel," ujar dia dikutip dari CNBC, Rabu (29/4/2026).
Dalam beberapa tahun terakhir, negara seperti Qatar, Ekuador, dan Angola telah meninggalkan kelompok tersebut.
Baca juga: Dampak UEA Keluar dari OPEC: Harga Minyak Bisa Lebih Bergejolak
Alasannya, negara-negara tersebut frustrasi terhadap kuota dan perubahan prioritas nasional.
Sedikit catatan, Angola keluar pada 2024, sementara Qatar mengakhiri keanggotaannya pada 2019.
Kartel tersebut telah lama bergulat dengan kepatuhan yang tidak merata, dengan beberapa anggota secara historis melampaui kuota produksi mereka, termasuk Irak dan Kazakhstan.
"Meskipun UEA telah keluar dari OPEC, mereka bukanlah yang pertama dan mungkin bukan yang terakhir,” ujar Lipow.
Ilustrasi produksi minyak, kilang minyak, harga minyak.
Baca juga: Ini Alasan UEA Keluar dari OPEC Mulai 1 Mei 2026
Inti dari keputusan UEA keluar dari OPEC terletak pada ketegangan yang sudah biasa terjadi yakni negara-negara anggota yang telah berinvestasi besar-besaran dalam meningkatkan kapasitas produksi semakin enggan untuk dibatasi oleh kuota yang dirancang untuk mendukung harga.
Para analis menunjuk beberapa negara yang berpotensi keluar dari organisasi tersebut karena merasa terkekang oleh pembatasan OPEC+.
Analis minyak utama di Kpler, Matt Smith menyebut Kazakhstan menjadi kandidat utama negara yang mungkin keluar dari OPEC.
Negara ini dengan mencatat kelebihan produksi yang terus-menerus.
Baca juga: Penyebab UEA Keluar dari OPEC: Tersandera Kuota Produksi Minyak
“Kazakhstan telah mengalami kelebihan produksi yang sangat besar tahun lalu, dan karena itu mereka mungkin melihat ini sebagai potensi jalan keluar bagi mereka untuk meninggalkan grup ini juga,” kata Smith.
Ia menambahkan, Nigeria juga bisa menjadi salah satu negara yang perlu diwaspadai.
Nigeria, produsen minyak mentah terbesar di Afrika, semakin memprioritaskan penyulingan domestik, khususnya melalui kilang Dangote.
Hal ini mengurangi ketergantungannya pada pasar ekspor dan berpotensi melemahkan insentifnya untuk tetap terikat oleh kuota.
Baca juga: Uni Emirat Arab Keluar dari OPEC, Pasar Minyak Dunia Hadapi Risiko Baru
Smith menjelaskan, peningkatan kapasitas kilang Dangote berarti kilang tersebut dapat memproses lebih banyak minyak di dalam negeri dan memperoleh margin bahan bakar yang lebih tinggi.
Hal itu mengurangi ketergantungannya pada strategi OPEC untuk mendukung harga minyak mentah melalui pembatasan pasokan.
“Nigeria berada dalam posisi serupa karena tidak ingin terhambat: negara ini berpotensi mengalami risiko eksodus karena semakin mandiri,” ungkap dia.
Selain dua negara tersebut, Venezuela menjadi kandidat potensial lainnya.
Patung tangan membawa menara minyak terpasang di markas perusahaan minyak milik negara Venezuela, PDVSA, di Caracas, saat difoto pada 13 Januari 2026.
Baca juga: OPEC: Produksi Minyak Timur Tengah Anjlok 23-61 Persen, Butuh Berbulan-bulan untuk Pulih
Analis energi di MST Marquee, Saul Kavonic menyebut, dengan produksi yang pulih lebih cepat dari yang diperkirakan dan lingkungan politik yang berpotensi lebih ramah terhadap AS, pemerintah dapat mencari fleksibilitas yang lebih besar.
"Venezuela bisa jadi yang berikutnya menyusul perubahan kepemimpinan di sana ke posisi yang lebih ramah terhadap AS," ungkap dia.
Venezuela adalah kandidat potensial karena negara itu telah meningkatkan produksi dan ekspor dengan kecepatan yang lebih cepat dari yang diperkirakan.
Ekspor minyak Venezuela naik di atas satu juta barrel per hari pada Maret untuk pertama kalinya sejak September.
Baca juga: Produksi OPEC di Timur Tengah Turun Tajam, Harga Minyak Dunia Melonjak
Sebagai informasi, OPEC+ memberlakukan kuota produksi inti yang dilaporkan memangkas produksi sekitar 2 juta barrel per hari hingga akhir 2026.
Delapan produsen utama OPEC+, termasuk Arab Saudi dan Rusia, sepakat pada 5 April untuk memulai pelonggaran hati-hati terhadap pengurangan produksi sukarela mereka.
Hal tersebut dilakukan secara bertahap dengan mengembalikan sekitar 206.000 barrel per hari ke pasar pada bulan Mei dari pengurangan yang lebih luas sebesar 1,65 juta barrel per hari yang pertama kali diperkenalkan pada 2023.
Tag: #retaknya #opec #hengkang #venezuela #nigeria #berpotensi #menyusul