Kinerja Membaik, Kimia Farma Cetak Laba Rp 123,6 Miliar di Kuartal I 2026
Gedung BUMN farmasi PT Kimia Farma (KAEF).(DOK. KIMIA FARMA)
12:56
30 April 2026

Kinerja Membaik, Kimia Farma Cetak Laba Rp 123,6 Miliar di Kuartal I 2026

– Setelah melewati periode sulit selama tiga tahun terakhir, PT Kimia Farma (Persero) Tbk (KAEF), emiten BUMN farmasi, berhasil mencatatkan pembalikan kinerja (*turnaround*) pada kuartal I 2026. Perusahaan farmasi pelat merah ini membukukan laba bersih sebesar Rp 123,6 miliar, berbalik dari posisi rugi bersih Rp 126,4 miliar pada kuartal I 2025, tumbuh 197,79 persen secara tahunan.

Capaian ini menjadi sinyal pemulihan yang ditunggu-tunggu setelah Kimia Farma menghadapi tekanan keuangan berkepanjangan. Perbaikan terlihat pada tiga pilar utama laporan keuangan: laba kotor, EBITDA, dan laba bersih, yang semuanya tumbuh signifikan dibanding periode yang sama tahun lalu.

"Capaian di kuartal I 2026 ini bukan sekadar angka, melainkan bukti nyata bahwa langkah-langkah transformatif yang kami ambil kini mulai membuahkan hasil," kata Direktur Utama Kimia Farma, Djagad Prakasa Dwialam, melalui keterangan pers, Kamis (30/4/2026).

"Kami berkomitmen untuk terus melakukan perbaikan berkelanjutan demi memastikan Kimia Farma kembali menjadi kebanggaan industri kesehatan nasional," imbuhnya.

Baca juga: Kimia Farma (KAEF) Luncurkan Stemxera, Perkuat Bisnis Bioteknologi

Tiga Pilar Perbaikan Keuangan

Secara rinci, laba kotor atau gross profit Kimia Farma tumbuh 11,06 persen menjadi Rp 824,8 miliar, dari Rp 742,6 miliar pada kuartal I 2025. Peningkatan ini didorong oleh efisiensi beban pokok penjualan sebagai hasil dari transformasi rantai pasok.

Dari sisi EBITDA, perseroan mencatatkan performa operasional yang solid dengan nilai Rp 153,8 miliar, atau tumbuh 61,29 persen dibanding Rp 95,4 miliar pada kuartal I 2025. Angka ini mencerminkan kemampuan perusahaan dalam menghasilkan arus kas yang kuat dari aktivitas operasional inti.

Djagad menyatakan, kunci utama pemulihan ini adalah keberhasilan restrukturisasi keuangan yang dijalankan sejak dua tahun lalu serta transformasi model bisnis yang lebih ramping dan efisien.

Salah satu program efisiensi yang berhasil dilakukan adalah penataan sumber daya manusia (SDM) dan struktur organisasi, dengan tetap memenuhi aspek kepatuhan terhadap peraturan perundang-undangan serta prinsip good corporate governance.

Dukungan penuh dari Danantara Asset Management dan Bio Farma selaku pemegang saham perseroan juga menjadi salah satu faktor kunci dalam proses transformasi.

Selama kuartal I 2026, peran Danantara melalui Bio Farma dinilai sangat krusial dalam memberikan dukungan pendanaan strategis yang menjaga stabilitas likuiditas perusahaan dan mempercepat proses restrukturisasi utang, sehingga beban bunga dapat dikelola secara lebih optimal.

Baca juga: Kimia Farma (KAEF) Catat Pemulihan Kinerja Usai Restrukturisasi 2025

Waspada Ketidakpastian Global

Di tengah optimisme tersebut, Kimia Farma tetap mewaspadai sejumlah tantangan eksternal. Dinamika global yang masih diwarnai ketidakpastian, termasuk dampak konflik geopolitik dan perlambatan perekonomian dunia, telah mendorong kenaikan harga bahan baku serta tekanan pada nilai tukar rupiah.

Pelemahan rupiah menjadi tantangan tersendiri bagi industri farmasi, termasuk Kimia Farma, mengingat sebagian bahan baku masih bergantung pada impor dan berdenominasi mata uang asing. Kondisi ini berpotensi meningkatkan biaya produksi serta menekan margin, khususnya pada produk-produk dengan struktur harga yang lebih rigid, seperti obat program pemerintah.

Untuk mengantisipasi risiko tersebut, perseroan menjalankan sejumlah langkah strategis, antara lain pengelolaan biaya secara menyeluruh pada komponen harga pokok produksi maupun biaya operasional, optimalisasi portofolio produk menuju produk bermargin lebih sehat, serta pengelolaan risiko nilai tukar melalui pengaturan waktu pembelian bahan baku, diversifikasi pemasok, dan peningkatan penggunaan bahan baku lokal secara bertahap.

Transformasi perseroan juga difokuskan pada penguatan fundamental bisnis melalui enam pilar strategi: ketahanan modal kerja, penguatan kompetensi SDM, digitalisasi proses bisnis, efisiensi operasional, penguatan tata kelola perusahaan, dan sinergi antar-entitas KAEF Grup.

Perseroan menyatakan optimistis dapat mempertahankan momentum pertumbuhan ini di kuartal-kuartal berikutnya pada 2026 dan terus memperkuat posisinya di industri kesehatan nasional melalui strategi bisnis yang lebih fokus, efisien, dan berkelanjutan, serta didukung oleh inovasi produk dan layanan farmasi yang terintegrasi.

Tag:  #kinerja #membaik #kimia #farma #cetak #laba #1236 #miliar #kuartal #2026

KOMENTAR