Iran Ajukan Proposal Baru ke AS, Selat Hormuz Masih Ditutup
- Iran mengirimkan proposal baru kepada Amerika Serikat (AS) di tengah upaya diplomasi tertutup untuk mengubah gencatan senjata yang rapuh menjadi perdamaian jangka panjang.
Di sisi lain, Presiden AS, Donald Trump menegaskan akan mempertahankan blokade laut terhadap Iran.
Mengutip Bloomberg, Jumat (1/5/2026), pemerintah Iran menyampaikan posisi terbaru mereka ke Washington melalui Pakistan. Negara tersebut sebelumnya menjadi mediator dalam putaran pertama negosiasi langsung antara kedua pihak pada bulan lalu.
Baca juga: Penutupan Selat Hormuz Ubah Jalur Perdagangan, Pengiriman Dialihkan Lewat Darat, Ini Rutenya
Selat Hormuz jadi kunci kebuntuan
Nasib Selat Hormuz menjadi isu utama dalam kebuntuan saat ini. Sebelum konflik, jalur ini dilalui sekitar 20 persen pasokan minyak dan gas alam cair dunia.
Baik Iran maupun AS sama-sama memberi sinyal menunggu langkah pihak lawan sebelum melonggarkan pembatasan lalu lintas di kawasan tersebut.
Namun, kantor berita pemerintah Iran, Islamic Republic News Agency (IRNA), tidak merinci isi proposal terbaru tersebut, termasuk terkait Selat Hormuz maupun program nuklir Iran.
Selat Hormuz saat dilihat dari Satelit Terra milik NASA pada 5 Februari 2025.
Blokade dan tekanan ekonomi
Trump menyatakan blokade terhadap pelabuhan Iran telah mengurangi pendapatan minyak negara tersebut. Ia meyakini tekanan ekonomi ini akan memaksa Teheran kembali ke meja perundingan.
Sebaliknya, Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf menilai blokade tidak akan efektif. Ia bahkan menyindir bahwa negara sebesar Iran sulit untuk diblokade sepenuhnya.
Baca juga: Setelah Krisis Selat Hormuz, Ancaman Besar Masih Menanti Dunia
Pemerintah Iran juga menegaskan, blokade harus dihentikan sebagai syarat dimulainya kembali perundingan dan pembukaan Selat Hormuz.
Mereka memperingatkan, pembatasan tersebut justru berpotensi mendorong kenaikan harga minyak global.
Harga minyak dan dinamika militer
Harga minyak Brent tercatat turun sekitar 3 persen ke level 110 dollar AS per barel pada Jumat, memangkas kenaikan mingguan menjadi sedikit di atas 5 persen.
Sementara itu, Trump disebut telah menerima pengarahan dari pejabat militer tinggi AS, termasuk pimpinan Komando Pusat AS (Centcom) dan Ketua Kepala Staf Gabungan.
Laporan Axios menyebut militer AS telah menyiapkan opsi serangan terbatas untuk memecah kebuntuan negosiasi.
AS juga mengusulkan pembentukan koalisi maritim bersama sekutu untuk mengamankan Selat Hormuz melalui inisiatif bernama “Maritime Freedom Construct”.
Namun, Selandia Baru menyatakan dukungan hanya akan diberikan jika gencatan senjata berkelanjutan tercapai.
Ilustrasi bendera Pakistan, Iran, dan Amerika Serikat. Kapan perundingan AS dan Iran di Pakistan?
Baca juga: AS Tiba-tiba Sebut Perang Iran Sudah Berakhir
Sikap keras Iran dan situasi terkini
Pemimpin tertinggi baru Iran, Mojtaba Khamenei, menyampaikan sikap tegas dengan menolak menghentikan pengembangan teknologi nuklir dan rudal. Ia juga menegaskan Iran akan tetap mengendalikan Selat Hormuz.
Di lapangan, Iran dilaporkan mengaktifkan sistem pertahanan udara di sekitar Teheran untuk menghadapi potensi ancaman drone pengintai, meski penyebabnya belum jelas.
Di Washington, perdebatan muncul terkait biaya perang. Sejumlah legislator dari Partai Demokrat menilai estimasi biaya sebesar 25 miliar dollar AS terlalu rendah dan tidak mencerminkan total beban konflik.
Di sisi lain, Trump mengundang calon perdana menteri Irak, Ali al-Zaidi, ke Washington sebagai bagian dari upaya membatasi pengaruh Iran di kawasan tersebut.
Dalam beberapa hari terakhir, tekanan terhadap ekonomi Iran mulai terlihat, termasuk pelemahan nilai mata uang yang mencapai titik terendah baru.
Tag: #iran #ajukan #proposal #baru #selat #hormuz #masih #ditutup