Kulit hingga Tulang Tuna Jadi “Emas Baru”: Hilirisasi Tuna Bisa Lipatgandakan Nilai Ekonomi
Ilustrasi Kolagen(Kompas.com/Rahma Atillah )
12:20
3 Mei 2026

Kulit hingga Tulang Tuna Jadi “Emas Baru”: Hilirisasi Tuna Bisa Lipatgandakan Nilai Ekonomi

- Potensi hilirisasi ikan tuna kian dinilai memiliki prospek cerah di masa depan, terutama dari pemanfaatan bagian non-primer seperti kulit, tulang, dan sisik yang selama ini belum dimaksimalkan.

Indonesia Tuna Consortium menyebut bahwa industri kolagen berbasis tuna bahkan diperkirakan memiliki nilai ekonomi lebih dari 9 miliar dollar AS pada 2030.

“Sebagai contoh, kolagen dari kulit ikan tuna memiliki nilai pasar global yang terus tumbuh dengan industri kolagen diproyeksikan mencapai lebih dari 9 miliar pada tahun 2030,” kata Indonesia Tuna Consortium Lead, Thilma Komaling di Jakarta, Sabtu (2/5/2026).

Baca juga: 9,3 Ton Tuna Asal Padang Diekspor ke Uni Emirat Arab

Menurut Thilma, saat ini masih terdapat inefisiensi dalam rantai produksi tuna.

“Saat ini diperkirakan 40–50 persen bagian tuna tidak dimanfaatkan secara optimal dalam rantai produksi konvensional,” jelasnya.

“Padahal, bagian kulit, tulang, dan sisik memiliki nilai ekonomi yang tinggi.”

Thilma menegaskan bahwa transformasi model bisnis menjadi kunci dalam menghadapi tantangan perikanan saat ini.

“Kita harus alih model berbisnis berbasis nilai maksimal perikanan. Di sinilah pentingnya pendekatan 100 persen pemanfaatan atau 100 persen utilization,” ujarnya.

Tak hanya kolagen, berbagai produk turunan lainnya juga dinilai memiliki potensi besar di pasar global.

“Produk turunan seperti gelatin, biopeptida, dan bahan-bahan farmasi memiliki nilai jual yang jauh lebih tinggi dibandingkan produk segar,” tambah Thilma.

Ia menekankan bahwa pendekatan ini memungkinkan peningkatan nilai ekonomi tanpa harus meningkatkan volume tangkapan.

“Artinya, dari satu ekor tuna, kita bisa mendapatkan nilai ekonomi berlipat tanpa harus meningkatkan tekanan terhadap stok. Transformasi itu memungkinkan dan harus dilakukan,” tegasnya.

Namun, tantangan tidak hanya terletak pada aspek produksi dan inovasi.

Thilma menyoroti masih rendahnya penyerapan tenaga kerja di sektor kelautan dan perikanan, meskipun setiap tahun Indonesia menghasilkan ratusan ribu lulusan di bidang tersebut.

“Banyak lulusan akhirnya bekerja di luar bidangnya. Ini adalah kehilangan besar,” katanya.

Padahal, sektor ini membutuhkan berbagai keahlian untuk berkembang lebih jauh.

“Kita membutuhkan ilmuwan untuk memperkuat basis data stok ikan, teknologi untuk mengembangkan industri hilir, hingga expert untuk memperjuangkan kepentingan Indonesia di forum internasional,” jelasnya.

Sebagai komoditas lintas batas, pengelolaan tuna tidak hanya ditentukan di laut, tetapi juga dalam forum global.

“Jika kita tidak aktif, maka kita hanya akan menjadi price taker, bukan rule maker,” ujarnya.

Thilma juga menyoroti adanya ketidakseimbangan antara potensi dan realisasi di sektor ini.

Di satu sisi, Indonesia memiliki sumber daya laut yang luas, biodiversitas tinggi, dan posisi strategis global.

Ikan tuna segar yang didapat petani Kabupaten Kaur, Bengkulu, untuk memenuhi kebutuhan program MBG.KOMPAS.com/FIRMANSYAH Ikan tuna segar yang didapat petani Kabupaten Kaur, Bengkulu, untuk memenuhi kebutuhan program MBG.

Namun di sisi lain, masih terdapat stagnasi ekonomi, tekanan terhadap sumber daya, serta minimnya inovasi terintegrasi.

“Ini artinya kita membutuhkan pendekatan baru, mulai dari pemanfaatan kecerdasan buatan dengan data oseanografi dan biologi untuk prediksi stok, bioteknologi untuk mengolah limbah menjadi produk bernilai tinggi, hingga strategi pemasaran global untuk meningkatkan posisi tawar Indonesia,” pungkasnya.

Berdasarkan data Kementerian Perdagangan, kinerja ekspor tuna Indonesia menunjukkan tren positif dalam beberapa tahun terakhir, dengan pertumbuhan sekitar 7,46 persen sepanjang 2021–2025.

AS, Thailand, dan Jepang menjadi pasar utama dengan komposisi ekspor masing-masing sebesar 19,59 persen, 16,38 persen, dan 15,58 persen dari total nilai ekspor tuna Indonesia sebesar 1.038 miliar dollar AS pada 2025.

Seiring meningkatnya permintaan global terhadap produk seafood berkelanjutan, aspek tata kelola dan transparansi menjadi faktor kunci.

Pemerintah Indonesia terus memperkuat pengelolaan perikanan tuna melalui pendekatan berbasis kuota, pengawasan, serta sertifikasi internasional.

Baca juga: Ada Tarif Trump, RI Berencana Perluas Ekspor Tuna ke Eropa hingga Timur Tengah

Tag:  #kulit #hingga #tulang #tuna #jadi #emas #baru #hilirisasi #tuna #bisa #lipatgandakan #nilai #ekonomi

KOMENTAR