Menanggung Anak dan Orangtua Sekaligus? Ini Cara Mengatur Keuangan
Ilustrasi generasi sandwich.(PEXELS/TIMA MIROSHNICHENKO)
14:36
31 Mei 2026

Menanggung Anak dan Orangtua Sekaligus? Ini Cara Mengatur Keuangan

Generasi sandwich semakin menjadi fenomena yang banyak dibahas seiring meningkatnya harapan hidup masyarakat dan bertambahnya kebutuhan ekonomi keluarga.

Kelompok ini merujuk pada individu yang berada di posisi “terjepit” karena harus menanggung kebutuhan dua generasi sekaligus, yakni anak-anak yang masih bergantung secara finansial dan orangtua yang memasuki usia lanjut.

Dikutip dari Britannica, Minggu (31/5/2026), istilah generasi sandwich menggambarkan orang-orang yang harus membagi waktu, tenaga, perhatian, serta sumber daya keuangan untuk anak dan orangtua pada saat bersamaan.

Baca juga: Aging Population dan Generasi Sandwich, Dua Fenomena yang Kini Bertemu

Pekerja pulang dari kantor di Jalan Embong Malang, Surabaya, Senin (26/2/2024). Saat ini, sebagian besar kelas menengah usia 17-40 tahun kerepotan mengatur pengeluaran.HARIAN KOMPAS/BAHANA PATRIA GUPTA Pekerja pulang dari kantor di Jalan Embong Malang, Surabaya, Senin (26/2/2024). Saat ini, sebagian besar kelas menengah usia 17-40 tahun kerepotan mengatur pengeluaran.

Kondisi tersebut banyak dialami oleh kelompok usia 40 hingga 60 tahun yang berada pada fase produktif sekaligus menghadapi beban keluarga yang semakin kompleks.

Bahkan, saat ini banyak generasi sandwich berusia di bawah 40 tahun, yang harus menanggung anak dan orangtua sekaligus.

Di tengah tekanan tersebut, tantangan terbesar bukan hanya soal membagi perhatian, melainkan juga menjaga kesehatan keuangan pribadi agar tidak ikut tergerus.

Sebab, tanpa perencanaan keuangan yang matang, generasi sandwich berisiko mengorbankan dana pensiun, dana darurat, bahkan stabilitas keuangan jangka panjang mereka sendiri.

Baca juga: Indonesia Masuk Fase Aging Population, Beban Generasi Sandwich Membesar

Ketika kebutuhan dua generasi datang bersamaan

Banyak orang dewasa harus memberikan dukungan finansial sekaligus bantuan fisik dan emosional kepada anak maupun orangtua.

Anak-anak membutuhkan biaya pendidikan, kebutuhan sehari-hari, hingga dukungan saat memasuki usia dewasa. Di sisi lain, orangtua lanjut usia membutuhkan biaya kesehatan, perawatan, serta bantuan dalam aktivitas harian.

Karyawan menyeberang Jalan Prof Dr Satrio di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan, saat jam makan siang. Para karyawan ini adalah potret kelas menengah Indonesia. Kelas menengah dengan gaji terbatas bersiasat untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari dan menabung untuk masa depan.HARIAN KOMPAS/PRIYOMBODO Karyawan menyeberang Jalan Prof Dr Satrio di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan, saat jam makan siang. Para karyawan ini adalah potret kelas menengah Indonesia. Kelas menengah dengan gaji terbatas bersiasat untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari dan menabung untuk masa depan.

Kondisi tersebut membuat generasi sandwich harus menghadapi pengeluaran yang terus meningkat dari berbagai arah.

Bahkan, tekanan tersebut sering kali muncul pada saat seseorang sedang berada di puncak karier dan seharusnya mulai mempersiapkan masa pensiun.

Baca juga: Jangan Salah, Besaran Dana Darurat yang Harus Dimiliki Jomblo, Sandwich Generation, dan Berkeluarga Berbeda

Fenomena ini tidak hanya berdampak pada keuangan. Britannica juga mencatat, kelompok generasi sandwich rentan mengalami stres, kelelahan (burnout), kecemasan, hingga depresi akibat tuntutan yang datang secara bersamaan dari keluarga, pekerjaan, dan kebutuhan pribadi.

Karena itu, pengelolaan keuangan menjadi salah satu aspek penting agar tanggung jawab terhadap keluarga tidak berujung pada kerentanan finansial di masa depan.

Jangan mengorbankan masa depan demi kebutuhan saat ini

Salah satu kesalahan yang paling sering dilakukan generasi sandwich adalah menunda atau menghentikan tabungan pensiun demi memenuhi kebutuhan keluarga saat ini.

Dikutip dari Yahoo Finance, para ahli menilai bahwa menjaga kondisi keuangan pribadi harus menjadi prioritas utama, meskipun seseorang memiliki tanggung jawab besar terhadap orangtua maupun anak.

Baca juga: Survei Sun Life: 90 Persen Pekerja Indonesia Terjebak Sandwich Generation

Prinsip tersebut sering dianalogikan seperti instruksi keselamatan di pesawat terbang, yakni mengenakan masker oksigen untuk diri sendiri terlebih dahulu sebelum membantu orang lain.

Dalam konteks keuangan, seseorang perlu memastikan masa depannya tetap aman agar dapat terus membantu anggota keluarga dalam jangka panjang.

Data Allianz Life yang dikutip Kiplinger menunjukkan, 75 persen anggota generasi sandwich mengaku kesulitan mencapai tujuan keuangan mereka. Sementara 70 persen menyatakan tanggung jawab tersebut berdampak negatif terhadap perencanaan pensiun.

Bahkan, 59 persen responden mengaku mengurangi atau menghentikan kontribusi tabungan pensiun untuk memenuhi kebutuhan keluarga.

Ilustrasi mengatur keuangan. SHUTTERSTOCK/PROSTOCK-STUDIO Ilustrasi mengatur keuangan.

Baca juga: Akhirnya Merdeka! Kisah Elisabeth Lepas dari Jerat Generasi Sandwich Berkat Atur Keuangan

Angka tersebut menunjukkan, banyak keluarga memilih solusi jangka pendek yang justru berpotensi menimbulkan masalah keuangan yang lebih besar di masa depan.

Menyusun anggaran secara realistis

Langkah pertama yang disarankan para perencana keuangan adalah membuat anggaran yang realistis dan mencerminkan kondisi keluarga secara menyeluruh.

Generasi sandwich perlu mengetahui secara rinci berapa besar pendapatan yang diterima setiap bulan, pengeluaran wajib yang harus dipenuhi, serta porsi dana yang digunakan untuk membantu anak maupun orangtua.

Dengan pemetaan tersebut, seseorang dapat melihat batas kemampuan finansial yang dimiliki dan menghindari keputusan emosional yang berpotensi membebani keuangan pribadi.

Baca juga: Generasi Sandwich, Beban Ganda Perempuan Indonesia meski Finansial Lebih Aman

Menjaga keuangan pribadi tidak berarti mengabaikan keluarga. Sebaliknya, pengaturan anggaran yang jelas justru membantu seseorang menentukan bentuk bantuan yang masih sesuai dengan kemampuan finansialnya.

Perencanaan anggaran juga penting untuk membedakan kebutuhan yang benar-benar mendesak dan kebutuhan yang masih dapat ditunda.

Dana darurat menjadi fondasi penting

Selain anggaran, generasi sandwich juga perlu memiliki dana darurat yang memadai.

Dana darurat berfungsi sebagai bantalan ketika terjadi kondisi tidak terduga, seperti kehilangan pekerjaan, biaya kesehatan mendadak, atau kebutuhan keluarga yang muncul secara tiba-tiba.

Baca juga: Dear Sandwich Generation, Nicholas Saputra Ingatkan Dana Darurat Nomor Satu

Sejumlah pakar keuangan menekankan pentingnya memiliki dana darurat setara tiga hingga enam bulan pengeluaran pokok. Dana tersebut dapat membantu keluarga menghadapi krisis tanpa harus menambah utang atau mengambil dana pensiun lebih awal.

Dana darurat adalah dana yang disisihkan atau dialokasikan untuk situasi darurat atau genting seperti kehilangan pekerjaan, masalah kesehatan, kecelakaan, atau kerusakan rumah SHUTTERSTOCK/PRAPAN MANUCHON Dana darurat adalah dana yang disisihkan atau dialokasikan untuk situasi darurat atau genting seperti kehilangan pekerjaan, masalah kesehatan, kecelakaan, atau kerusakan rumah

Keberadaan dana darurat menjadi semakin penting karena generasi sandwich sering menghadapi risiko pengeluaran ganda. Misalnya, ketika anak membutuhkan biaya pendidikan pada saat yang sama orangtua memerlukan perawatan kesehatan.

Tanpa cadangan dana yang cukup, tekanan tersebut dapat mendorong seseorang menggunakan kartu kredit atau sumber pembiayaan lain yang berisiko memperburuk kondisi keuangan.

Membuka komunikasi soal kondisi keuangan keluarga

Salah satu rekomendasi yang muncul dalam berbagai pembahasan mengenai generasi sandwich adalah pentingnya komunikasi terbuka di dalam keluarga.

Baca juga: Apa Itu Generasi Sandwich: Ciri, Dampak, dan Strategi Mengatasinya

Menurut MoneyWeek, diskusi mengenai kondisi keuangan, rencana perawatan orangtua, kebutuhan anak, hingga pembagian tanggung jawab keluarga perlu dilakukan sejak dini.

Langkah ini dapat membantu seluruh anggota keluarga memahami kemampuan finansial yang tersedia dan mencegah munculnya ekspektasi yang tidak realistis.

Komunikasi yang baik juga membantu generasi sandwich menghindari situasi ketika seluruh beban finansial ditanggung oleh satu orang.

Dalam banyak kasus, kebutuhan orangtua lanjut usia maupun anak dewasa dapat dibicarakan bersama sehingga solusi yang diambil tidak semata-mata bergantung pada satu sumber pendapatan.

Baca juga: Prudential dan UOB Rilis Asuransi Jiwa untuk Generasi Sandwich

Menyiapkan rencana jangka panjang

Tantangan generasi sandwich umumnya tidak bersifat sementara. Kebutuhan anak dapat berlangsung hingga bertahun-tahun, sementara kebutuhan orangtua biasanya meningkat seiring bertambahnya usia.

Karena itu, perencanaan jangka panjang menjadi faktor penting dalam menjaga kesehatan keuangan keluarga.

Britannica mencatat, kelompok generasi sandwich sering kali harus mengalokasikan waktu, energi, dan sumber daya finansial dalam jangka panjang.

Ilustrasi pensiun. Tips menyiapkan dana pensiun. Dana pensiun. Dana hari tua. Cara mengumpulkan dana hari tua.SHUTTERSTOCK/TIMESHOPS Ilustrasi pensiun. Tips menyiapkan dana pensiun. Dana pensiun. Dana hari tua. Cara mengumpulkan dana hari tua.

Tanpa perencanaan yang matang, kondisi tersebut dapat mengganggu perkembangan karier, kesehatan mental, dan kesiapan memasuki masa pensiun.

Baca juga: Orangtua, Persiapkan Hal Ini agar Anak Tak Jadi Generasi Sandwich

Perencanaan tersebut dapat mencakup target tabungan pensiun, perlindungan keuangan keluarga, strategi menghadapi biaya kesehatan orangtua, hingga batas bantuan finansial yang dapat diberikan kepada anak.

Dengan memiliki rencana yang jelas, seseorang dapat lebih mudah menyeimbangkan kebutuhan saat ini dan tujuan jangka panjang.

Menjaga diri sendiri di tengah tuntutan keluarga

Selain menjaga kesehatan finansial, generasi sandwich juga perlu memperhatikan kondisi fisik dan mental mereka sendiri.

Tekanan yang terus-menerus dapat memicu stres berkepanjangan, rasa bersalah, hingga kelelahan emosional. Banyak anggota generasi sandwich merasa ditarik ke dua arah sekaligus karena harus memenuhi kebutuhan orangtua dan anak pada saat bersamaan.

Baca juga: Memutus Rantai Generasi Sandwich, BPJS Ketenagakerjaan Bisa Jadi Solusi

Kondisi tersebut membuat sebagian orang mengabaikan kebutuhan pribadi mereka, termasuk kesehatan, waktu istirahat, maupun rencana masa depan.

Padahal, kemampuan membantu keluarga dalam jangka panjang sangat bergantung pada stabilitas kondisi pribadi, baik secara finansial maupun emosional.

Di tengah meningkatnya jumlah keluarga yang menghadapi fenomena generasi sandwich, pengelolaan keuangan yang disiplin menjadi salah satu kunci untuk menjaga keseimbangan antara tanggung jawab keluarga dan kebutuhan masa depan.

Tantangannya memang tidak ringan, tetapi berbagai ahli menilai perencanaan yang realistis, dana darurat yang memadai, komunikasi keluarga yang terbuka, serta komitmen menjaga tabungan pensiun dapat membantu generasi sandwich menghadapi tekanan tersebut tanpa mengorbankan keamanan finansial mereka sendiri.

Tag:  #menanggung #anak #orangtua #sekaligus #cara #mengatur #keuangan

KOMENTAR