OPEC+ Naikkan Target Produksi, Dampak Gangguan di Selat Hormuz
Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak dan sekutunya atau OPEC+ menyepakati kenaikan produksi minyak untuk Juni 2026.
Keputusan diumumkan setelah pertemuan daring pada Minggu (3/5/2026).
Tujuh negara anggota menaikkan target produksi sebesar 188.000 barel per hari. Kenaikan ini menjadi yang ketiga secara berturut-turut.
Baca juga: Lalu Lintas Selat Hormuz Terbatas, Supertanker Irak Diduga Berhasil Melintas
Tambahan produksi relatif sama dengan Mei. Penyesuaian dilakukan setelah Uni Emirat Arab keluar dari kelompok pada 1 Mei.
Secara formal, keputusan ini menunjukkan kesiapan menambah pasokan. Dampak di lapangan dinilai terbatas.
Konflik Iran masih mengganggu distribusi minyak. Selat Hormuz sebagai jalur utama belum pulih.
“OPEC+ mengirimkan pesan dua lapis ke pasar: keberlanjutan meskipun Uni Emirat Arab keluar, dan kendali meskipun dampak fisik terbatas,” kata analis Rystad Energy, Jorge Leon.
“Meskipun produksi meningkat di atas kertas, dampak sebenarnya pada pasokan fisik tetap sangat terbatas mengingat kendala Selat Hormuz. Ini bukan tentang menambah barel, tetapi lebih tentang memberi sinyal bahwa OPEC+ masih memegang kendali,” lanjutnya.
Baca juga: Iran Ajukan Proposal Baru ke AS, Selat Hormuz Masih Ditutup
Target produksi Arab Saudi naik menjadi 10,291 juta barel per hari pada Juni. Produksi aktual sebelumnya tercatat 7,76 juta barel per hari pada Maret.
Tujuh negara yang terlibat meliputi Arab Saudi, Irak, Kuwait, Aljazair, Kazakhstan, Rusia, dan Oman. Jumlah anggota OPEC+ kini menjadi 21 negara setelah keluarnya Uni Emirat Arab.
Keputusan produksi bulanan banyak ditentukan kelompok inti produsen besar. Pola ini terjadi dalam beberapa tahun terakhir.
Konflik yang dimulai pada 28 Februari berdampak langsung pada ekspor minyak kawasan Teluk. Penutupan Selat Hormuz membatasi pengiriman dari Arab Saudi, Irak, dan Kuwait.
Kawasan tersebut sebelumnya memiliki kapasitas peningkatan produksi yang cepat. Gangguan distribusi membuat kapasitas tersebut tidak tersalurkan.
Pelaku industri menilai pemulihan tidak akan instan. Normalisasi distribusi diperkirakan memakan waktu beberapa pekan hingga bulan.
Gangguan pasokan mendorong harga minyak naik tajam. Harga sempat menembus 125 dollar AS per barel atau sekitar Rp 2,17 juta per barel.
Level ini menjadi yang tertinggi dalam empat tahun terakhir.
Kenaikan harga memicu kekhawatiran pasokan bahan bakar. Avtur menjadi salah satu yang terdampak.
Tekanan inflasi global diperkirakan meningkat dalam satu hingga dua bulan ke depan.
Data OPEC menunjukkan total produksi pada Maret mencapai 35,06 juta barel per hari. Angka ini turun 7,70 juta barel per hari dibanding Februari.
Penurunan terutama berasal dari Irak dan Arab Saudi.
OPEC+ dijadwalkan kembali menggelar pertemuan pada 7 Juni. Pertemuan akan mengevaluasi kondisi pasar dan arah kebijakan produksi berikutnya.
Tag: #opec #naikkan #target #produksi #dampak #gangguan #selat #hormuz