Apa Itu Inflasi, Deflasi, dan Stagflasi? Kenali Perbedaan serta Dampaknya
Ilustrasi Inflasi (Freepik)
09:42
5 Mei 2026

Apa Itu Inflasi, Deflasi, dan Stagflasi? Kenali Perbedaan serta Dampaknya

Ekonomi global sering kali terasa seperti roller coaster yang sulit ditebak. Harga barang bisa melonjak tiba-tiba atau justru merosot tajam. Fenomena ini biasanya berakar pada inflasi, deflasi, dan stagflasi.

Memahami ketiganya bukan sekadar urusan pakar ekonomi, melainkan kebutuhan dasar bagi siapa saja yang ingin menjaga daya beli dan merencanakan keuangan masa depan dengan lebih bijak.

Secara sederhana, ketiga kondisi ini mencerminkan "kesehatan" perputaran uang dan barang dalam suatu negara. Sementara inflasi yang stabil sering dianggap sebagai tanda pertumbuhan, deflasi yang berkepanjangan atau stagflasi yang stagnan dapat menjadi ancaman serius bagi lapangan kerja dan tabungan.

Lantas, apa perbedaan inflasi, deflasi, dan stagflasi? Simak penjelasannya berikut ini.

1. Inflasi

Menyadur accountable.de, nflasi bukan sekadar fluktuasi harga biasa, melainkan kenaikan harga secara menyeluruh yang menurunkan nilai mata uang.

Di Uni Eropa, fenomena ini diukur menggunakan Indeks Harga Konsumen Terharmonisasi (HICP), yang membandingkan total biaya belanja masyarakat saat ini dengan bulan yang sama di tahun sebelumnya.

Perhitungannya menggunakan sistem pembobotan. Barang dengan pengeluaran besar seperti bensin memiliki pengaruh sepuluh kali lipat lebih besar terhadap angka inflasi dibandingkan barang kecil seperti kopi.

Selain angka resmi, dikenal juga istilah "inflasi yang dirasakan". Hal ini terjadi karena secara psikologis kita lebih peka terhadap kenaikan harga barang yang sering dibeli, seperti makanan atau bahan bakar, dibandingkan barang yang jarang dibeli seperti mesin cuci.

Itulah sebabnya, pengemudi kendaraan pribadi sering kali merasa inflasi jauh lebih tinggi daripada pengguna transportasi umum, meskipun data statistik menunjukkan angka yang berbeda.

Penyebab inflasi

Faktor-faktor ekonomi tertentu dapat menyebabkan inflasi. Berikut penyebabnya.

1. Kekurangan bahan baku
2. Peningkatan biaya tenaga kerja berupa upah atau non-upah
3. Inflasi impor (kenaikan harga barang impor)
4. Inflasi tarikan permintaan (permintaan melebihi penawaran)

2. Deflasi

Deflasi adalah kondisi saat harga barang turun dan nilai uang meningkat. Jika berlangsung lama, deflasi justru memicu pengangguran dan lesunya ekonomi.

Fenomena ini terbagi menjadi dua tipe utama. Pertama, deflasi sirkulasi yang terjadi karena konsumen menunda belanja demi menunggu harga yang lebih murah (menyebabkan pasokan melimpah tapi sepi pembeli)

Sementara itu, deflasi strategis biasanya dipicu oleh kebijakan bank sentral dalam mengurangi jumlah uang beredar.

Bagi pemerintah, deflasi adalah momok yang menakutkan karena nilai utang negara justru terasa lebih berat saat harga-harga turun.

Itulah sebabnya otoritas keuangan menjaga agar ekonomi tidak terjebak dalam pusaran deflasi yang bisa menekan upah dan menghambat investasi.

3. Stagflasi

Stagflasi merupakan gabungan dari stagnasi (ekonomi yang mandek) dan inflasi (kenaikan harga).

Kondisi ini cukup unik sekaligus berbahaya karena pertumbuhan ekonomi melambat dan pengangguran meningkat. Namun pada saat yang sama, harga barang-barang justru melonjak naik.

Biasanya, stagflasi dipicu oleh lonjakan harga komoditas penting seperti minyak atau gas. Dampaknya bisa menciptakan spiral upah-harga, yaitu pekerja menuntut kenaikan gaji untuk menutup biaya hidup yang mahal.

Namun, perusahaan yang terbebani justru terpaksa melakukan PHK karena biaya produksi yang membengkak. Jika dibiarkan, hal ini akan menyeret perekonomian ke jurang resesi yang lebih dalam.

Editor: Agatha Vidya Nariswari

Tag:  #inflasi #deflasi #stagflasi #kenali #perbedaan #serta #dampaknya

KOMENTAR