Rupiah Melemah dan Gas Mahal, Industri Keramik: Ibarat Sudah Jatuh Tertimpa Tangga...
Ilustrasi rupiah dan dollar AS(THINKSTOCKS)
11:12
6 Mei 2026

Rupiah Melemah dan Gas Mahal, Industri Keramik: Ibarat Sudah Jatuh Tertimpa Tangga...

- Industri keramik nasional tengah berada di bawah tekanan berat selama empat bulan pertama 2026.

Asosiasi Aneka Industri Keramik Indonesia (ASAKI) mengungkapkan gangguan pasokan gas, serta pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika Serikat (AS) menjadi pukulan ganda yang menggerus daya saing industri keramik nasional.

Rupiah kembali melemah pada penutupan perdagangan Selasa, (5/5/2026). Mata uang Garuda turun 30 poin atau 0,17 persen ke level Rp 17.424 per dollar Amerika Serikat.

Tekanan berasal dari eskalasi konflik di Timur Tengah. Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali meningkat sejak awal pekan.

Baca juga: Inaplas Sebut Tidak Ada PHK di Industri Petrokimia dan Plastik

Ketua ASAKI, Edy Suyanto, menyebut penurunan alokasi gas industri tertentu (AGIT) menjadi faktor utama yang memperparah kondisi.

Di wilayah Jawa Bagian Barat, misalnya, realisasi AGIT pada April 2026 hanya mencapai 37,5 persen, angka terendah sejak kebijakan Harga Gas Bumi Tertentu (HGBT) diberlakukan pada 2021.

Situasi itu berdampak langsung pada lonjakan biaya energi.

Saat ini, harga gas yang harus ditanggung industri keramik mencapai kisaran 11,5-12 dollar AS per MMBTU, atau melonjak lebih dari 60 persen dibandingkan harga HGBT yang ditetapkan sebesar 7 dollar AS per MMBTU.

Padahal, komponen energi gas menyumbang porsi terbesar dalam struktur biaya produksi industri keramik, yakni sekitar 35 hingga 38 persen.

Kondisi ini semakin membebani pelaku industri karena transaksi pembayaran gas masih menggunakan dollar AS, sehingga pelemahan rupiah turut memperbesar beban biaya.

“Ibarat sudah jatuh tertimpa tangga, industri menghadapi kenaikan biaya produksi sekaligus kerugian akibat kurs,” kata Edy lewat keterangan pers diterima Kompas.com, Selasa malam.

Jika dibandingkan dengan negara tetangga, posisi Indonesia semakin tertekan.

Harga gas industri di Malaysia dan Thailand diketahui berada di kisaran 9,5 hingga 9,9 dollar AS per MMBTU, lebih rendah dari yang saat ini dibayar industri dalam negeri.

ASAKI pun mendesak pemerintah, khususnya Kementerian ESDM, SKK Migas, dan PT PGN, untuk segera mengambil langkah konkret.

Salah satu yang diharapkan adalah solusi cepat untuk menjamin pasokan gas agar industri tidak kolaps dan terhindar dari potensi pemutusan hubungan kerja (PHK).

Selain itu, ASAKI juga menekankan pentingnya transparansi data dari PGN terkait penurunan AGIT yang dinilai semakin memburuk dari waktu ke waktu.

Tak hanya itu, ASAKI juga mendorong penerapan kebijakan Domestic Market Obligation (DMO) gas untuk sektor manufaktur nasional.

Mereka juga mengusulkan agar pembayaran gas dapat dilakukan dalam mata uang rupiah guna mengurangi risiko fluktuasi nilai tukar.

Di tengah tekanan tersebut, ASAKI menilai ketahanan energi menjadi kunci utama untuk menjaga keberlangsungan dan pertumbuhan industri keramik nasional yang saat ini masih berada dalam fase ekspansif.

Tanpa intervensi cepat dan kebijakan yang tepat sasaran, bukan tidak mungkin industri keramik Indonesia akan kehilangan daya saingnya di pasar global.

Baca juga: Kalah Saing dengan China-Vietnam, Apa Kesalahan Industri Kriya RI?

Tag:  #rupiah #melemah #mahal #industri #keramik #ibarat #sudah #jatuh #tertimpa #tangga

KOMENTAR