Gubernur BI Ungkap Alasan Rupiah Melemah di Kala Ekonomi Tumbuh 5,61 Persen
Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo membeberkan penyebab nilai tukar rupiah melemah di tengah pertumbuhan ekonomi Indonesia yang mencapai 5,61 persen pada Kuartal I 2026.
Perry menjelaskan, pelemahan rupiah lebih dipengaruhi faktor eksternal. Kondisi tersebut juga terjadi pada banyak mata uang negara lain.
Rupiah tertekan sentimen global, mulai dari kenaikan harga minyak dunia, kenaikan suku bunga Amerika Serikat (AS), hingga penguatan dollar AS yang memicu arus keluar modal asing dari negara berkembang, termasuk Indonesia.
"Secara indikator itu fundamental ekonomi kita itu kuat. Nah pertanyaannya, lalu kok ada pelemahan rupiah? Seluruh mata uang dunia itu melemah," ujarnya saat konferensi pers KSSK di Menara Radius Prawiro, Jakarta, Kamis (7/5/2026).
Baca juga: Konflik Iran-AS Bikin Rupiah Makin Terpuruk
Tekanan eksternal tersebut diperkuat faktor domestik yang bersifat musiman.
Perry mengatakan, permintaan dollar AS di dalam negeri meningkat pada April sampai Mei 2026. Kenaikan itu dipicu repatriasi dividen korporasi, pembayaran utang luar negeri, serta kebutuhan jemaah haji dan umrah.
Kondisi tersebut membuat rupiah melemah meski ekonomi domestik tumbuh tinggi dan inflasi tetap rendah.
Ekonomi Indonesia tercatat tumbuh 5,61 persen pada Kuartal I 2026. Inflasi berada di level 2,42 persen.
Neraca perdagangan Indonesia juga mencatat surplus 3,32 miliar dollar AS pada Maret 2026. Cadangan devisa Indonesia tetap tinggi di level 148,2 miliar dollar AS.
Perry menilai nilai tukar rupiah saat ini berada di bawah nilai fundamentalnya atau undervalue. Menurut dia, rupiah berpotensi kembali menguat ketika tekanan eksternal dan faktor musiman mulai mereda.
"Secara fundamental rupiah itu kan undervalue," kata dia.
Baca juga: Pertumbuhan Ekonomi Tinggi tapi Rupiah Melemah, Investor Belum Percaya?
BI saat ini fokus menjaga stabilitas nilai tukar agar pelemahan rupiah tidak semakin dalam.
Perry mengatakan, BI mengoptimalkan berbagai instrumen operasi pasar valuta asing. Langkah itu mencakup transaksi Non Deliverable Forward (NDF) di pasar offshore, transaksi spot dan Domestic Non Deliverable Forward (DNDF) di pasar domestik, serta pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder.
"Bank Indonesia all out jaga rupiah, koordinasi erat dengan pemerintah dan terus juga mendapat dukungan penuh dari Bapak Presiden," tuturnya.
Tag: #gubernur #ungkap #alasan #rupiah #melemah #kala #ekonomi #tumbuh #persen