Survei Edelman: Masyarakat Indonesia Makin Enggan Percaya Orang Berbeda Pandangan
Ilustrasi survei(KOMPAS.COM/Shutterstock)
14:12
8 Mei 2026

Survei Edelman: Masyarakat Indonesia Makin Enggan Percaya Orang Berbeda Pandangan

- Edelman, firma komunikasi global, merilis temuan terbaru terkait perubahan pola kepercayaan masyarakat Indonesia.

Temuan itu dipaparkan dalam laporan 2026 Edelman Trust Barometer Indonesia Report bertajuk “Trust Amid Insularity”.

Laporan tersebut menunjukkan, rata-rata 66 persen masyarakat Indonesia memiliki pola pikir insular. Kondisi itu merujuk pada keraguan atau keengganan mempercayai orang dengan nilai, sumber informasi, pendekatan isu sosial, maupun latar belakang yang berbeda.

Meski demikian, Indonesia masih masuk kelompok negara dengan tingkat kepercayaan tertinggi secara global. Indeks Kepercayaan Indonesia tercatat sebesar 73.

Skor tersebut mencakup tingkat kepercayaan terhadap sektor bisnis, pemerintah, media, dan lembaga swadaya masyarakat (LSM).

Tingkat kepercayaan tertinggi datang dari karyawan terhadap pemberi kerja atau my employer sebesar 92 persen.

Baca juga: IHSG Menguat, Analis Sebut Bukti Kepercayaan Investor Meningkat

Sektor bisnis berada di posisi berikutnya dengan tingkat kepercayaan 80 persen. Pemerintah memperoleh 68 persen, sedangkan LSM sebesar 67 persen.

Laporan Edelman juga menyoroti empat tekanan utama yang memengaruhi tingkat kepercayaan masyarakat Indonesia.

Tekanan pertama berasal dari meningkatnya kekhawatiran ekonomi.

Sebanyak 79 persen karyawan mengaku khawatir kehilangan pekerjaan akibat resesi. Selain itu, 77 persen responden merasa cemas terhadap dampak konflik perdagangan dan tarif terhadap perusahaan tempat mereka bekerja.

Tekanan kedua berasal dari penurunan optimisme masyarakat.

Sebanyak 56 persen masyarakat Indonesia masih percaya generasi mendatang akan hidup lebih baik. Namun, angka itu turun sembilan poin dibandingkan tahun sebelumnya.

Tekanan ketiga berkaitan dengan kesenjangan kepercayaan berdasarkan tingkat pendapatan.

Laporan menunjukkan terdapat selisih 26 poin antara kelompok berpenghasilan tinggi dan rendah di Indonesia. Angka tersebut menempatkan Indonesia sebagai salah satu negara dengan kesenjangan kepercayaan berbasis pendapatan terbesar.

Perbedaan itu juga terlihat dalam persepsi masyarakat terhadap etika dan kompetensi institusi yang disurvei.

Tekanan keempat berasal dari krisis informasi.

Baca juga: Tanpa Banyak Aturan, Jasa Titip Motor di Depok-Jakarta Bertumpu pada Kepercayaan

Kekhawatiran terhadap campur tangan asing dalam penyebaran misinformasi meningkat menjadi 72 persen. Angka itu naik 15 poin dibandingkan tahun sebelumnya.

Paparan masyarakat terhadap pandangan politik berbeda juga turun 11 poin dibandingkan tahun lalu.

Managing Director Edelman Indonesia Nia Pratiwi mengatakan, masyarakat Indonesia masih memiliki tingkat kepercayaan yang kuat terhadap berbagai institusi. Namun, pola membangun kepercayaan mulai berubah.

“Masyarakat kini menjadi lebih selektif, lebih memilih hal-hal yang terasa familiar, dan menghindari interaksi dengan sudut pandang yang berbeda. Kepercayaan kini semakin terkonsentrasi dalam lingkaran yang lebih dekat dan personal, sehingga insularitas dapat dilihat sebagai sebagai krisis kepercayaan berikutnya,” ujar Nia Pratiwi, Jumat (8/5/2026).

Dosen Departemen Sosiologi Universitas Indonesia sekaligus Co-Director Academic Praxis di Asia Research Centre UI, Diatyka Widya Permata Yasih, menilai kecenderungan masyarakat menarik diri dari kelompok berbeda merupakan respons atas situasi yang penuh ketidakpastian.

“Dalam masa penuh ketidakpastian, orang cenderung menarik diri untuk mengembalikan sense of control dan identitas mereka. Fenomena ini bukan semata-mata soal mencari kenyamanan, melainkan mencerminkan ketimpangan pengalaman individu terhadap institusi dan akses ke sumber daya,” kata Diatyka.

Menurut dia, masyarakat cenderung lebih percaya pada hal-hal yang dianggap dekat dan familiar ketika sistem terasa jauh atau tidak konsisten.

Akibatnya, hubungan di dalam kelompok sendiri semakin kuat, sedangkan interaksi dengan kelompok berbeda semakin terbatas.

Perubahan pola tersebut dinilai membuat organisasi publik maupun privat perlu meninjau ulang cara berinteraksi dengan pemangku kepentingan.

Managing Director of Stakeholders Management & Communications Danantara Indonesia Rohan Hafas mengatakan, membangun kepercayaan publik menjadi prioritas utama sejak awal pembentukan Danantara Indonesia.

“Sebagai sovereign fund yang melayani salah satu populasi terbesar di dunia, kami perlu berkomunikasi dengan cara yang tidak hanya kredibel secara institusional, tetapi juga benar-benar mudah diakses oleh masyarakat, sehingga media sosial menjadi sangat penting,” ucap Rohan.

Menurut dia, kepercayaan dibangun melalui keterlibatan yang konsisten dan transparan dengan masyarakat.

Laporan Edelman juga menunjukkan pola insular mulai memengaruhi lingkungan kerja dan dunia bisnis.

Sebanyak 35 persen karyawan mengaku akan mengurangi upaya membantu pimpinan proyek jika pemimpin tersebut memiliki pandangan politik berbeda.

Selain itu, 43 persen responden memilih pindah departemen dibandingkan bekerja di bawah atasan dengan nilai berbeda.

Sebanyak 38 persen responden juga mendukung pengurangan jumlah perusahaan asing di Indonesia meski berpotensi memicu kenaikan harga.

Edelman menilai kondisi tersebut dapat memengaruhi produktivitas kerja dan pengambilan keputusan ketika perbedaan nilai mulai memengaruhi relasi antartim.

Meski begitu, Nia menilai membangun kepercayaan di tengah perbedaan tetap memungkinkan.

Secara global, 49 persen responden yang telah mempercayai orang dengan pandangan berbeda menyebut kepercayaan dapat tumbuh jika individu tersebut terbuka dan tidak memaksakan pandangan.

Sebanyak 46 persen responden juga menilai keterbukaan terhadap perbedaan menjadi faktor penting dalam membangun kepercayaan.

Sebagai institusi dengan tingkat kepercayaan tertinggi dan selisih terkecil antara ekspektasi serta kinerja, pemberi kerja dinilai berada pada posisi terbaik untuk menjembatani perbedaan.

Laporan itu juga menunjukkan harapan besar masyarakat terhadap peran CEO.

Sebanyak 80 persen responden berharap pemimpin perusahaan terlibat aktif membangun kepercayaan.

Sebanyak 81 persen responden menilai CEO perlu berkonsultasi dengan individu dari nilai dan latar belakang berbeda saat mengambil keputusan.

Persentase yang sama juga menilai perusahaan perlu berinteraksi secara konstruktif dengan kelompok yang mengkritik perusahaan.

Sebagai informasi, Edelman Trust Barometer 2026 merupakan survei kepercayaan tahunan ke-26 yang diselenggarakan Edelman Trust Institute.

Studi tersebut melibatkan 33.938 responden di 28 negara, termasuk Indonesia. Pengumpulan data dilakukan pada Oktober hingga November 2025.

Tag:  #survei #edelman #masyarakat #indonesia #makin #enggan #percaya #orang #berbeda #pandangan

KOMENTAR