Perang Iran Bikin Harga Energi Meledak, Bank dan Industri Senjata Raup Cuan Besar
— Konflik Amerika Serikat dan Israel melawan Iran memicu lonjakan harga energi global. Dampaknya terasa luas, mulai dari kenaikan biaya hidup hingga tekanan terhadap anggaran perusahaan dan pemerintah di banyak negara.
Gejolak tersebut juga memunculkan pemenang baru. Sejumlah sektor bisnis justru menikmati lonjakan keuntungan sejak perang pecah dan Selat Hormuz terganggu.
Selat Hormuz menjadi jalur vital distribusi energi dunia. Sekitar seperlima pasokan minyak dan gas global melewati kawasan itu. Penutupan jalur sejak akhir Februari membuat harga minyak melonjak tajam dan memicu volatilitas pasar global.
Baca juga: Trump dan Xi Bertemu Pekan Depan, Perang Iran Diprediksi Bayangi Negosiasi Tarif
Berikut sektor yang paling diuntungkan dari perang Iran:
Minyak dan gas
Sektor energi menjadi penerima manfaat terbesar dari lonjakan harga minyak dunia.
Perusahaan minyak besar memanfaatkan volatilitas harga melalui perdagangan energi. Kondisi itu mendorong laba sejumlah raksasa migas naik signifikan.
BP melaporkan laba kuartal I 2026 mencapai 3,2 miliar dollar AS atau sekitar Rp 55,55 triliun. Nilai itu lebih dari dua kali lipat dibanding periode sebelumnya.
Perusahaan menyebut hasil tersebut ditopang performa “luar biasa” dari divisi perdagangan energi mereka.
Shell juga melampaui ekspektasi analis setelah membukukan laba 6,92 miliar dollar AS atau sekitar Rp 120,17 triliun.
TotalEnergies mencatat laba 5,4 miliar dollar AS atau sekitar Rp 93,74 triliun pada kuartal I 2026. Angka itu naik hampir sepertiga dibanding tahun sebelumnya.
Perusahaan minyak asal Amerika Serikat, ExxonMobil dan Chevron, memang mencatat penurunan pendapatan dibanding tahun lalu. Meski begitu, keduanya tetap melampaui perkiraan pasar dan optimistis laba terus meningkat selama harga minyak bertahan tinggi.
Baca juga: Harga Minyak Turun dan Perang Mereda, IHSG Rebound? Ritel Disarankan Akumulasi Bertahap
Bank-bank besar Wall Street
Gejolak pasar akibat perang ikut menguntungkan bank investasi global.
Investor memindahkan dana dari aset berisiko ke instrumen yang dianggap aman. Pergerakan dana besar-besaran itu meningkatkan aktivitas perdagangan di pasar keuangan.
JP Morgan mencatat pendapatan perdagangan sebesar 11,6 miliar dollar AS atau sekitar Rp 201,37 triliun pada kuartal I 2026. Kinerja itu membantu bank mencetak laba kuartalan terbesar kedua sepanjang sejarah perusahaan.
Enam bank besar Wall Street, yakni JP Morgan, Bank of America, Morgan Stanley, Citigroup, Goldman Sachs, dan Wells Fargo, membukukan laba gabungan 47,7 miliar dollar AS atau sekitar Rp 828,07 triliun pada tiga bulan pertama tahun ini.
Kepala strategi investasi Wealth Club, Susannah Streeter, mengatakan volatilitas pasar menjadi sumber keuntungan bagi bank investasi.
“Volume perdagangan yang tinggi telah menguntungkan bank investasi, khususnya Morgan Stanley dan Goldman Sachs,” kata Streeter.
“Volatilitas yang ditimbulkan oleh perang telah menyebabkan lonjakan perdagangan, karena beberapa investor menjual saham karena kekhawatiran akan eskalasi, sementara yang lain membeli saat harga turun, membantu memicu reli pemulihan,” sambungnya.
Industri pertahanan
Perang juga mendorong lonjakan permintaan alat pertahanan dan persenjataan.
Analis senior RSM UK, Emily Sawicz, mengatakan konflik Iran mempercepat investasi pemerintah pada sistem pertahanan udara, rudal, dan teknologi anti-drone.
“Konflik tersebut telah memperkuat kesenjangan dalam kemampuan pertahanan udara, mempercepat investasi dalam pertahanan rudal, sistem anti-drone, dan perangkat keras militer di seluruh Eropa dan AS,” ujarnya kepada BBC.
Perusahaan pertahanan Inggris, BAE Systems, menyatakan penjualan dan laba diperkirakan tumbuh kuat sepanjang tahun ini akibat meningkatnya ancaman keamanan global.
BAE Systems memproduksi berbagai komponen militer, termasuk untuk jet tempur F35.
Sementara tiga kontraktor pertahanan terbesar dunia, yakni Lockheed Martin, Boeing, dan Northrop Grumman, melaporkan nilai pesanan tertunda mencapai rekor tertinggi pada akhir kuartal I 2026.
Meski begitu, saham sektor pertahanan mulai terkoreksi sejak pertengahan Maret. Investor mulai khawatir valuasi perusahaan sudah terlalu mahal.
Energi terbarukan
Lonjakan harga minyak dan gas ikut memperkuat dorongan menuju energi bersih.
Investor mulai melihat energi terbarukan sebagai cara mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar fosil yang rentan terguncang konflik geopolitik.
Menurut Streeter, perang Iran membuat investasi energi hijau dipandang semakin penting untuk menjaga stabilitas energi jangka panjang.
Perusahaan energi bersih asal AS, NextEra Energy, menjadi salah satu yang diuntungkan. Harga sahamnya melonjak 17 persen sepanjang tahun ini.
Produsen turbin angin Denmark, Vestas dan Orsted, juga melaporkan kenaikan laba.
Perusahaan energi Inggris, Octopus Energy, menyebut permintaan panel surya dan pompa panas meningkat tajam sejak perang pecah.
Perusahaan mengatakan penjualan panel surya naik 50 persen sejak akhir Februari.
Kenaikan harga bensin juga ikut mendongkrak permintaan kendaraan listrik. Produsen mobil listrik asal China menjadi salah satu yang paling agresif memanfaatkan momentum tersebut.
Tag: #perang #iran #bikin #harga #energi #meledak #bank #industri #senjata #raup #cuan #besar