Thomas Djiwandono: Risiko Digital Bisa Guncang Sistem Keuangan Global
Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) Thomas Djiwandono membuka konferensi ICFP-JCLI di Bali, Jumat (8/5/2026). (DOK. BI)
19:04
9 Mei 2026

Thomas Djiwandono: Risiko Digital Bisa Guncang Sistem Keuangan Global

Digitalisasi sektor keuangan dinilai membawa tantangan baru bagi stabilitas sistem keuangan global. Di tengah keterhubungan antarlembaga dan lintas negara yang semakin kuat, risiko keuangan kini dinilai dapat menyebar lebih cepat dan berdampak lebih luas.

Pandangan tersebut disampaikan Deputi Gubernur Bank Indonesia Thomas A.M. Djiwandono saat membuka International Conference and Call for Papers Journal of Central Banking Law and Institutions (ICFP-JCLI) ke-4 di Bali, Jumat (8/5/2026).

“Dunia tengah memasuki arsitektur keuangan baru yang ditandai oleh semakin kuatnya keterkaitan antarlembaga, antarsektor, dan antardomain kebijakan,” kata Thomas, melalui rilis BI, dikutip Sabtu (9/5/2026).

Ia mengatakan, batas antara kebijakan moneter, fiskal, dan makroprudensial kini semakin memudar. Di sisi lain, digitalisasi dan keterkaitan lintas negara juga mempercepat transmisi risiko serta memperbesar potensi guncangan terhadap sistem keuangan.

Karena itu, menurut Thomas, setiap kebijakan kini memiliki dampak yang saling terkait dan multidimensi sehingga dibutuhkan respons kebijakan yang lebih terintegrasi.

Baca juga: Berbenah Bea Cukai Usai Diultimatum Purbaya, Percepat Transformasi Digital dengan Luncurkan Website Baru

Otonomi Regulator Dinilai Semakin Penting

Dalam kondisi tersebut, Thomas menilai diperlukan kerangka kebijakan yang terintegrasi, koordinasi antarlembaga yang erat, serta mandat hukum yang jelas di antara masing-masing lembaga.

Menurut dia, otonomi kelembagaan kini menjadi semakin krusial, tidak hanya bagi bank sentral, tetapi juga regulator dan otoritas pengawas sektor keuangan lainnya.

Konferensi ICFP-JCLI tahun ini mengangkat tema “Central Banking in Transition: Navigating Interconnected Risks and Institutional Governance and Autonomy in the New Financial Architecture”.

Forum tersebut mempertemukan peneliti, akademisi, dan praktisi dari berbagai negara untuk bertukar gagasan di bidang hukum, kelembagaan, ekonomi, dan kebanksentralan.

Luasnya perhatian terhadap isu tata kelola bank sentral dan arsitektur keuangan global tercermin dari partisipasi Call for Papers JCLI tahun ini yang menerima 291 paper dari penulis di 34 negara.

Baca juga: Rupiah Undervalue, Ini 7 Jurus Bank Indonesia Perkuat Rupiah

Transformasi Digital Perlu Pengawasan Adaptif

Melalui konferensi tersebut, Bank Indonesia mendorong penguatan perspektif serta eksplorasi ide-ide baru yang relevan untuk merespons tantangan kebijakan yang semakin kompleks.

Dalam forum diskusi yang melibatkan otoritas dan akademisi itu juga disimpulkan bahwa percepatan transformasi digital di sektor keuangan tidak hanya membuka ruang inovasi, tetapi juga menuntut penguatan tata kelola dan kesiapan menghadapi krisis.

Selain itu, kerangka pengawasan yang adaptif dinilai penting untuk menjaga stabilitas sistem keuangan di tengah perubahan arsitektur keuangan global yang semakin dinamis.

Tag:  #thomas #djiwandono #risiko #digital #bisa #guncang #sistem #keuangan #global

KOMENTAR