AS Sanksi Entitas di China dan Timur Tengah yang Dituding Bantu Militer Iran
Seorang pria berdiri membawa bendera Iran di persimpangan Valiasr Square di Teheran, Senin (6/4/2026). Amerika Serikat dan Iran pada Rabu (8/4/2026) mengumumkan gencatan senjata selama dua minggu. Respons Negara-negara soal Gencatan Senjata Iran-AS: Sambut Positif dan Desak Perdamaian Abadi(AFP/ATTA KENARE)
09:08
10 Mei 2026

AS Sanksi Entitas di China dan Timur Tengah yang Dituding Bantu Militer Iran

– Pemerintah Amerika Serikat (AS) menjatuhkan sanksi terhadap perusahaan dan individu yang berbasis di Timur Tengah, China, Belarus, hingga Uni Emirat Arab (UEA) atas dugaan keterlibatan dalam mendukung aktivitas militer Iran.

Langkah tersebut menyasar total 11 entitas dan tiga individu yang disebut terlibat dalam jaringan pendukung program rudal balistik dan pesawat nirawak (UAV) Iran.

Dikutip dari CNBC, Minggu (10/5/2026), Departemen Luar Negeri AS menyebut sebagian pihak yang disanksi termasuk entitas berbasis di China yang menyediakan citra satelit untuk membantu operasi militer Iran.

Baca juga: Perang Iran Picu Aksi Borong Barang dari China, Ekspor Melonjak Tajam

"Dalam tindakan hari ini termasuk beberapa entitas berbasis di China yang menyediakan citra satelit untuk mendukung serangan militer Iran terhadap pasukan AS di Timur Tengah," ujar Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio.

Selain itu, AS juga menargetkan pihak-pihak yang disebut membantu militer Iran memperoleh persenjataan serta bahan baku yang digunakan dalam pengembangan rudal balistik dan drone.

Rubio menegaskan langkah tersebut merupakan bagian dari upaya menekan kemampuan militer Iran di tengah eskalasi konflik yang masih berlangsung.

Di sisi lain, Washington juga masih menunggu respons Iran terhadap proposal yang diajukan AS untuk mengakhiri perang. Rubio menyebut respons tersebut diharapkan pada hari yang sama saat pernyataan disampaikan.

Baca juga: Qatar Kembali Kirim LNG Lewat Selat Hormuz di Tengah Konflik Iran

Namun, media pemerintah Iran melaporkan Teheran masih meninjau pesan yang disampaikan melalui perantara Pakistan dan belum mengambil keputusan akhir.

Sebelumnya, sejumlah laporan media internasional seperti Axios menyebut AS dan Iran tengah mendekati kesepakatan awal berupa nota kesepahaman 14 poin.

Kesepakatan itu dirancang untuk mengakhiri perang sekaligus membuka kembali pembicaraan terkait program nuklir Iran.

Ketegangan di lapangan masih berlanjut, termasuk di kawasan strategis Selat Hormuz. Kedua pihak saling menuduh telah lebih dulu melancarkan serangan, meski status gencatan senjata masih belum jelas.

Presiden AS, Donald Trump sebelumnya menyatakan gencatan senjata masih berlaku dan menyebut serangan yang terjadi sebagai “love tap”. Ia juga mengklaim Iran menunjukkan keinginan untuk mencapai kesepakatan damai.

Baca juga: Wapres AS Bertemu PM Qatar, Minta Bantu Urusi Mediasi AS dan Iran

Namun Rubio memperingatkan rencana Iran membentuk lembaga yang akan mengatur lalu lintas di Selat Hormuz akan dianggap tidak dapat diterima oleh Washington.

Selat Hormuz merupakan jalur vital yang dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dunia. Gangguan di kawasan tersebut telah memicu tekanan besar di pasar energi global.

Badan Energi Internasional (IEA) menyebut situasi ini sebagai “ancaman keamanan energi terbesar dalam sejarah”.

Tag:  #sanksi #entitas #china #timur #tengah #yang #dituding #bantu #militer #iran

KOMENTAR