Bos Danantara: Dunia Sudah Masuk Era AGI, Bursa RI Masih Andalkan Bank dan Tambang
Chief Investment Officer Danantara Pandu Sjahrir menjelaskan penunjukan investor untuk proyek PSEL Bogor Raya di Jakarta.(Dok. Biro Pers, Media, dan Informasi Sekretariat Presiden)
09:04
12 Mei 2026

Bos Danantara: Dunia Sudah Masuk Era AGI, Bursa RI Masih Andalkan Bank dan Tambang

- Saat bursa di negara lain berlomba membangun ekosistem artificial intelligence (AI) dan artificial general intelligence (AGI), pasar modal Indonesia dinilai masih tertinggal karena terlalu bergantung pada saham perbankan dan pertambangan.

Chief Investment Officer (CIO) Danantara Indonesia, Pandu Patria Sjahrir, menilai pasar modal tanah air masih tertinggal dalam menangkap gelombang besar AI dan AGI yang kini menjadi cerita utama pertumbuhan ekonomi negara lain.

Menurutnya, performa pasar saham terbaik di Asia saat ini hanya terjadi di Taiwan dan Korea Selatan karena kedua negara itu berhasil membangun ekosistem teknologi berbasis AI yang kuat.

“Memang kalau lihat performance terbaik di Asia sebenarnya hanya di dua tempat, Taiwan dan Korea. Kenapa? Karena the story today di dunia itu hanyalah soal AI. Malah sekarang bukan lagi soal artificial intelligence, sekarang sudah mulai ngomong soal general intelligence atau AGI,” ujar Pandu di gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), Senin (11/5/2026).

Baca juga: Soal Investasi di GOTO, Danantara Harap Bisa Hasilkan Profit

Ia mengaku baru kembali dari Amerika Serikat (AS). Dari kunjungan tersebut, ia melihat arah perkembangan dunia kini sudah bergerak lebih jauh dari sekadar AI menuju AGI.

Pandu bahkan mengungkapkan dirinya sempat bertemu dengan perusahaan pengembang humanoid atau robot berbentuk manusia yang kini sudah mampu membantu pekerjaan rumah tangga dengan harga yang lebih murah dibandingkan sebuah mobil.

“Malah kemarin saya sempat ketemu sama satu perusahaan yang bikin humanoids, dimana humanoids itu sekarang bisa bantu bersihin rumah. Dan harganya untuk satu humanoids dibawah harga satu mobil,” paparnya.

Namun di tengah perkembangan teknologi global tersebut, Pandu menilai pasar modal Indonesia masih terlalu didominasi sektor tradisional seperti perbankan dan pertambangan.

“Kalau Anda lihat tentang Indonesia, kita turun year to date 20 persen. Dinamika di Indonesia yang listed hanya apa? Bank dan mining companies,” beber dia.

Ia kemudian mencontohkan Taiwan Semiconductor Manufacturing Company (TSMC) di Taiwan yang memiliki kapitalisasi pasarnya dan disebut lebih besar dibandingkan seluruh pasar modal Asia Tenggara (ASEAN)

“Di Taiwan ada satu perusahaan, ada yang pernah dengar enggak namanya TSMC? Satu perusahaan TSMC market cap-nya lebih besar dari seluruh Asia Tenggara,” lanjut Pandu.

Sementara itu, Korea Selatan mencatat kenaikan pasar sekitar 80 persen secara year to date karena kuatnya sentimen AI.

Indonesia dipandang memiliki peluang besar untuk masuk dalam rantai pengembangan AI global, terutama melalui sektor energi. Namun, belum ada emiten yang benar-benar mampu mengikuti tren AI yang kini menjadi pusat perhatian dunia.

Padahal perkembangan AI membutuhkan dukungan sektor energi dalam skala besar. Karena itu, bisnis energi seharusnya ikut berkembang seiring meningkatnya kebutuhan infrastruktur AI global.

“Jadi mungkin kalau saya lihat, maybe fundamentally di Indonesia it's been dominated by traditional industries. Belum ada satupun yang mengikuti trend AI. Padahal untuk AI berkembang seharusnya business energy yang mengikuti itu,” tukasnya.

Karena itu, menurut Pandu, persoalan utama Indonesia bukan hanya terkait sentimen Morgan Stanley Capital International (MSCI), melainkan bagaimana membangun kreativitas dan cerita pertumbuhan baru di tengah perubahan global.

“Jadi ya boleh dibilang apakah ini soal MSCI. I think MSCI is relatively soft. Mungkin adalah soal kreativitas kalau mau lihat,” ucap dia.

Pandu juga membandingkan Indonesia dengan India yang kini mulai agresif membangun kapasitas energi baru berbasis tenaga surya hingga 30 gigawatt dengan biaya produksi sekitar 3-4 sen dollar AS per kilowatt hour (kWh).

“India barusan membangun juga satu pemain membuat 30 gigawatt listrik. Semuanya solar dengan harga 3-4 cent per kWh. Tapi ini factual ya,” lanjut dia.

Padahal, secara peringkat kredit Indonesia sebenarnya berada di atas India.

Meski demikian, Pandu mengakui valuasi saham Indonesia saat ini masih murah, terutama saham sektor perbankan yang menawarkan dividend yield dua digit.

Ia bahkan menyebut dividend yield saham PT Bank Mandiri (Persero) Tbk bisa mencapai sekitar 11 persen.

Namun investor global kini tidak hanya mencari valuasi murah, tetapi juga cerita pertumbuhan jangka panjang yang kuat. Pandu menilai pertanyaan terbesar investor global terhadap Indonesia adalah mengenai arah cerita pertumbuhan ekonomi nasional ke depan.

“Kalau saya lihat secara global, Indonesia ini mungkin ceritanya kalau dari sisi luar negeri adalah what’s your story?” ungkapnya.

Tag:  #danantara #dunia #sudah #masuk #bursa #masih #andalkan #bank #tambang

KOMENTAR