Ekonomi Tumbuh 5,61 Persen, INDEF: Masyarakat Bawah Belum Merasakan
Ilustrasi pertumbuhan ekonomi(shutterstock.com)
09:40
12 Mei 2026

Ekonomi Tumbuh 5,61 Persen, INDEF: Masyarakat Bawah Belum Merasakan

Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) mengatakan, ekonomi Indonesia pada kuartal I-2026 memang menunjukkan pertumbuhan.

Kendati demikian, distribusi efek dari pertumbuhan tersebut belum merata.

Kepala Center of Macroeconomics and Finance INDEF M. Rizal Taufikurahman mengatakan, pertumbuhan ekonomi kuartal I-2026 ini menunjukkan ekonomi domestik tumbuh cukup kuat.

Baca juga: Pertumbuhan Ekonomi RI Diprediksi Melambat Pada Kuartal II Menjadi 5,1-5,5 Persen

Ilustrasi pertumbuhan ekonomi. Freepik Ilustrasi pertumbuhan ekonomi.

Namun demikian, angka pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I-2026 ini belum mencerminkan kondisi riil masyarakat secara menyeluruh.

"Artinya, kue ekonomi yang terbentuk itu tidak terdistribusi secara proporsional dan merata," kata dia dalam Diskusi Publik Menjaga Stamina Pertumbuhan Ekonomi Indonesia, Senin (11/5/2026).

Ia menambahkan, angka pertumbuhan ekonomi sebesar 5,61 persen merupakan angka yang tinggi.

Namun demikian, kondisi ini tidak dirasakan oleh masyarakat pada umumnya.

Baca juga: Purbaya Bantah Pertumbuhan Ekonomi 5,61 Persen Hanya Efek Basis Rendah

"Karena tadi, justru yang melakukan pertumbuhan konsumsi dan lain-lain adalah menengah dan menengah ke atas. Masyarakat menengah ke bawah tidak dapat merasakan itu," terang dia.

Pertumbuhan ekonomi ditopang konsumsi

Pria yang karib disapa Rizal tersebut menuturkan, pertumbuhan masih ditopang oleh konsumsi dan belanja yang sangat ekspansif, termasuk adanya berbagai hari raya.

Hal tersebut masih ditambah dengan adanya Tunjangan Hari Raya (THR) dan pembagian bonus bagi pekerja.

Ilustrasi bansos. Thinkstockphotos.com Ilustrasi bansos.

Dari sisi pemerintah, terdapat percepatan belanja pemerintah di awal tahun, terutama untuk kegiatan bantuan sosial (bansos).

Baca juga: Menyoal Konsep Pertumbuhan Ekonomi

"Tentu pada saat triwulan I-2026 yang sifatnya front loading di bujet, sifatnya jor-joran ini belum sepenuhnya menggambarkan penguatan fundamental ekonomi," ungkap dia.

Menurut dia, ekonomi dalam hal ini tidak berbicara terkait besaran angka-angka indikator fiskal.

Sebaliknya, ekonomi seharusnya mampu memberikan nilai tambah secara riil dari setiap anggaran fiskal.

"Bagaimana dari Rp 1 fiskal, meng-create nilai tambah secara riil itu bisa Rp 5 sampai Rp 15, bisa Rp 20," ungkap dia.

Baca juga: Purbaya Sindir Ekonom yang Ragukan Pertumbuhan Ekonomi: Kok Malah Tumbuh Kencang?

Rizal menekankan, dalam hal ini kue ekonomi yang paling penting bukan hanya besaran angkanya, tetapi juga distribusinya.

Rupiah dan IHSG melemah

Di tengah pertumbuhan ekonomi Indonesia senilai 5,61 persen pada kuartal I-2026, kurs rupiah dan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) justru mengalami tren pelemahan.

"Artinya pelemahan itu menunjukkan bahwa pasar belum menunjukkan pertumbuhan ekonomi triwulan I-2026 sebagai sinyal kuat, fundamental ekonomi benar-benar seperti apa yang mereka rasakan," ucap dia.

Rizal melihat, pasar masih lebih melihat pada kualitas pertumbuhan dibandingkan dengan sekadar angka-angka pertumbuhan.

Baca juga: Bappenas Target Pertumbuhan Ekonomi Capai 7,5 Persen pada 2027

Di sisi lain, investor saat ini juga sangat sensitif terhadap risiko global, tekanan fiskal, stabilitas eksternal, dan daya tahan di sektor riil domestik.

"Jadi pertumbuhan ekonomi tinggi ternyata tidak otomatis ya memperkuat rupiah dan juga IHSG. Justru yang paling penting adalah pertumbuhan ekonomi yang didasari oleh fundamental makro yang sangat kuat," ungkap Rizal.

Ilustrasi Rupiah. Anggota Komisi XI DPR RI Bertu Merlas mengingatkan pemerintah agar mewaspadai pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS yang terjadi saat ini.PIXABAY/DARNO BEGE Ilustrasi Rupiah. Anggota Komisi XI DPR RI Bertu Merlas mengingatkan pemerintah agar mewaspadai pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS yang terjadi saat ini.

Publik nilai pelemahan rupiah berdampak pada kenaikan harga

Data Scientist Continuum INDEF Wahyu Tri Utomo menjelaskan, berdasarkan analisis yang dilakukan INDEF, kondisi rupiah yang melemah ini kerap diartikan publik berdampingan dengan tingkat pengangguran.

"Karena memang kondisi rupiah yang melemah ini di publik juga kerap diasosiasikan dengan kenaikan harga," imbuh dia.

Baca juga: Pertumbuhan Ekonomi Tinggi tapi Rupiah Melemah, Investor Belum Percaya?

Ia menambahkan, dengan rupiah yang semakin melemah dan impor bahan baku industri semakin mahal pada akhirnya akan berdampak pada harga produk yang semakin mahal.

Menurut dia, publik menyimpan pertanyaan mengapa pertumbuhan ekonomi yang tinggi tersebut diiringi dengan rupiah yang semakin melemah.

"Kondisi ini menciptakan kecemasan atau kepanikan publik klaim terkait ekonomi aman, padahal rupiah terus dalam tanda kutip berdarah-darah di pasar valas," imbuh dia.

Pasalnya secara teori, pertumbuhan ekonomi yang kuat seharusnya dibarengi dengan mata uang yang stabil.

Baca juga: Rupiah Melemah di Tengah Pertumbuhan Ekonomi 5,61 Persen, Ada Apa?

Namun saat ekonomi tumbuh 5,61 persen, rupiah justru terperosok hingga menyentuh Rp 17.400 per dollar AS Sebagai informasi, data yang dikumpulkan INDEF ini merupakan analisis yang berbasis pada media sosial X dan Threads.

Pengumpulan data digunakan dengan menggunakan Continuum Data Collection tool, berbasis pada kata kunci yang telah melalui proses kurasi terlebih dahulu.

Kata kunci yang digunakan adalah kata kunci yang berkaitan dengan pertumbuhan ekonomi kuartal I-2026.

Filter data dilakukan dengan pendekatan machine learning atau artificial intelligence (AI) yang dibangun dengan mempelajari perilaku dari user yang terindikasi robot.

Baca juga: Purbaya Yakin Pertumbuhan Ekonomi Bisa Dekati 6 Persen, APBN Jadi Tameng

Ilustrasi pertumbuhan ekonomi Indonesia.PIXABAY Ilustrasi pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Total jumlah data yang dikumpulkan sebanyak 12.352 dengan periode pengumpulan data pada 2-7 Mei 2026.

Dari hasil riset tersebut, INDEF menjelaskan, perbincangan masyarakat didominasi sentimen skeptis.

Analisis terhadap 12.352 perbincangan di media sosial menunjukkan bahwa 94,06 persen publik merespons dengan sentimen negatif dan netral yang mencerminkan ketidakpercayaan tajam terhadap angka pertumbuhan 5,61 persen.

Di balik pertumbuhan ekonomi, kelas menengah masih rentan

Guru Besar FEB Undip Akhmad Syakir Kurnia menjelaskan, selain angka pertumbuhan, ekonomi Indonesia juga perlu ditinjau dari distribusinya.

Baca juga: Hati-hati Membaca Pertumbuhan Ekonomi 5,61 Persen

"Distribusinya itu artinya siapa pihak yang paling banyak merasakan nilai tambah yang terpotret melalui pertumbuhan ekonomi itu sendiri," ungkap dia.

Ia menjelaskan, secara spasial, kontribusi terbesar masih berada di pulau Jawa dengan angka sekitar 56,9 persen.

Pulau Sumatera berkontribusi sekitar 22 persen.

Sementara itu, wilayah Bali dan Nusa Tenggara itu hanya 2,8 persen kontribusinya.

Baca juga: Pertumbuhan Ekonomi RI Kuartal I 2026 Tertinggi dalam 13 Tahun, Momentum Tumbuh Harus Dijaga

Selain itu, Akhmad bilang, aktivitas ekonomi Indonesia banyak ditopang oleh aktivitas ekonomi kelompok menengah.

"Sehingga kerentanan yang terjadi di ekonomi Indonesia itu kalau dia terdampak di kelompok masyarakat berpendapatan menengah itu akan memberikan pengaruh yang besar terhadap pertumbuhan ekonomi kita," ungkap dia.

Akhmad menjelaskan, secara kualitas ekonomi Indonesia dapat ditinjau dengan indikator non-moneter seperti apakah layanan publik semakin baik, kualitas pendidikan, hingga pengentasan kemiskinan.

"Pertumbuhan ekonomi itu membaca angka agregat saja. Lalu kita mestinya harus membaca angka-angka indikator non moneter," ucap dia.

Baca juga: Purbaya Bersiap Ibadah Haji, Siapkan Doa Pertumbuhan Ekonomi Makin Kencang

Salah satu cara yang dapat dipertimbangkan adalah mengukur seberapa kuat atau elastis satu persen pertumbuhan ekonomi itu dapat menurunkan angka kemiskinan.

"Itu harus dilihat untuk memberi makna atau dimensi kualitatif dari angka pertumbuhan itu," tutup dia.

Tag:  #ekonomi #tumbuh #persen #indef #masyarakat #bawah #belum #merasakan

KOMENTAR