OJK Nilai Koreksi IHSG usai MSCI Masih Wajar, Tak Ada Saham Kena ARB
Konferensi pers OJK dan BEI usai MSCI umumkan hasil rebalancing indeks global, Rabu (13/5/2026)(KOMPAS.com/SUPARJO RAMALAN)
14:04
13 Mei 2026

OJK Nilai Koreksi IHSG usai MSCI Masih Wajar, Tak Ada Saham Kena ARB

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menilai pelemahan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) usai rebalancing indeks global Morgan Stanley Capital International (MSCI) masih berada dalam batas wajar.

IHSG pada perdagangan sesi satu, Rabu (13/5/2026), ditutup melemah 124,36 poin atau 1,81 persen ke level 6.734,537.

Tekanan terjadi sejak awal perdagangan. IHSG dibuka di posisi 6.763,945 dan sempat menyentuh level tertinggi 6.787,345 sebelum turun ke area terendah 6.726,575.

Baca juga: Rebalancing MSCI Jadi Titik Balik, OJK Janji Perkuat Kualitas Saham di BEI

Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK Hasan Fawzi mengatakan, koreksi pasar merupakan respons atas rebalancing MSCI.

Meski begitu, aktivitas perdagangan dinilai masih normal dan terkendali.

“Hari ini kalau kita cermati tadi sampai pukul 10.00 terkonfirmasi ada penurunan indeks, tapi dengan tingkat aktivitas yang kami nilai masih dalam batasan wajar,” ujar Hasan saat konferensi pers di gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), Rabu (13/5/2026).

Hasan memastikan tidak ada saham terdampak rebalancing MSCI yang mengalami auto rejection bawah (ARB).

“Dan sebagai konsekuensi reaksi dari rebalancing. Kalau kita lihat saham-saham yang terdampak sekalipun tidak ada satupun yang mengalami misalnya kondisi auto rejection bawah gitu ya,” katanya.

Baca juga: Besok Rebalancing MSCI, OJK Beri Sinyal Ada Saham RI yang Terdepak dari Indeks

Sejumlah saham yang keluar dari indeks MSCI memang langsung dibanjiri aksi jual sejak awal perdagangan.

Saham PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN), PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA), PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA), dan PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN) sempat melemah mendekati 10 persen.

MSCI sebelumnya mengumumkan hasil tinjauan berkala atau index review periode Mei 2026.

Dalam rebalancing terbaru, MSCI mengeluarkan enam saham dari MSCI Global Standard Indexes.

Saham tersebut yakni PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN), PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN), PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA), PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA), PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN), dan PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT).

Khusus AMRT, MSCI memindahkan saham tersebut ke MSCI Small Cap Indexes.

Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia, per pukul 09.50 WIB saham BREN turun 8,03 persen atau 290 poin ke level Rp 3.320.

Saham TPIA anjlok 9,90 persen atau 500 poin ke posisi Rp 4.550.

Saham DSSA turun 9,01 persen atau 105 poin ke level Rp 1.060. Sementara saham CUAN melemah 9,52 persen atau 90 poin ke posisi Rp 855.

Saham AMRT terkoreksi lebih terbatas, yakni 3,53 persen atau turun 50 poin ke level Rp 1.365.

Pada penutupan sesi satu, tekanan jual masih berlanjut.

Saham TPIA tercatat turun paling dalam, yakni 14,26 persen ke posisi Rp 4.330 per saham.

Saham AMMN melemah 11,30 persen ke level Rp 3.610 per saham.

Saham CUAN turun 11,11 persen ke posisi Rp 840 per saham, sedangkan DSSA terkoreksi 10,30 persen ke level Rp 1.045.

Saham BREN turun 8,31 persen ke area Rp 3.310 per saham. Sementara saham AMRT melemah 1,77 persen ke posisi Rp 1.390.

Meski IHSG terkoreksi cukup dalam, Hasan menilai kondisi pasar belum menunjukkan gejala panic selling.

Menurut dia, frekuensi transaksi, volume perdagangan, dan nilai transaksi masih relatif stabil dibandingkan perdagangan normal sebelumnya.

“Jadi masih dalam batasan koreksi yang rentang yang wajar. Kemudian tadi frekuensi dan volume serta nilai transaksi juga cukup baik. Secara rata-rata tidak ada perbedaan normal dibandingkan hari-hari sebelumnya,” ujar Hasan.

“Jadi ini juga menunjukkan tidak adanya upaya panic selling atau reaksi satu arah berupa arus katakanlah upaya menjual saham-saham tanpa diimbangi kekuatan pembelian,” lanjut dia.

Data BEI menunjukkan volume transaksi pada sesi satu mencapai 26,13 miliar saham dengan nilai transaksi Rp 10,27 triliun.

Frekuensi perdagangan tercatat sebanyak 1,47 juta kali transaksi.

Sebanyak 398 saham melemah, 262 saham menguat, dan 150 saham stagnan.

Kapitalisasi pasar hingga penutupan sesi satu mencapai Rp 11.865 triliun.

Hasan juga menilai valuasi pasar saham Indonesia kini lebih menarik dibandingkan saat IHSG mencetak rekor tertinggi pada Januari 2026.

Hal tersebut tercermin dari rasio price to earnings ratio (PER) IHSG yang kini berada di level sekitar 16 kali.

Menurut Hasan, angka tersebut bahkan lebih rendah dibandingkan rata-rata valuasi bursa saham regional.

“Kita perhatikan sebetulnya tingkat rata-rata harga-harga yang dicerminkan dari ratio price earning ratio atau PER-nya IHSG kita sekarang sudah jauh di bawah posisi pada saat terjadi all time high di pertengahan Januari. Sekarang bahkan secara PER regional tingkat rata-rata per saham kita sudah ada di bawah PER rata-rata bursa lainnya. Sekarang tingkatnya di level 16 kali,” tutur Hasan.

Tag:  #nilai #koreksi #ihsg #usai #msci #masih #wajar #saham #kena

KOMENTAR