Pelemahan Rupiah Tingkatkan Biaya Produksi Industri Manufaktur
Ilustrasi rupiah, nilai tukar rupiah. (PEXELS/DEFRINO MAASY)
16:20
13 Mei 2026

Pelemahan Rupiah Tingkatkan Biaya Produksi Industri Manufaktur

- Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Shinta Widjaja Kamdani mengakui pelemahan rupiah meningkatkan biaya produksi sektor industri manufaktur.

Shinta khawatir tekanan ini bukan bersifat sementara, tapi lanjut dalam waktu lama.

"Tekanan yang terjadi bukan bersifat sementara, tetapi berpotensi berlanjut selama faktor global masih belum mereda," ujar Shinta dikutip dari Kontan, Rabu (13/5/2026).

Baca juga: Rupiah Anjlok, Apindo: Tekanan bagi Dunia Usaha Bukan Lagi Sementara

Industri manufaktur masih bertumpu pada bahan baku impor.

Pelemahan rupiah meningkatkan biaya produksi, Apindo mencatat 70 persen bahan baku masih diimpor.

Lalu, 55 persen struktur biaya produksi industri kontribusi terbesarnya dari bahan baku. Kondisi ini menciptakan ketergantungan pada nilai tukar rupiah, depresiasi mata uang tersebut berimbas pada penentuan harga akhir produk yang siap jual.

Baca juga: BI Sebut Rupiah Tembus Rp 17.500 Dipicu Tekanan Global, Bukan Domestik

Sektor industri manufaktur yang paling terdampak akibat pelemahan rupiah yang menggunakan bahan baku petrokimia, plastik, makanan dan minuman, farmasi, serta manufaktur berbasis energi.

"Ini menunjukkan adanya cost-push inflation pressure yang memiliki efek transmisi luas ke seluruh rantai pasok," jelasnya.

Kemudian, pelemahan rupiah membuat perusahaan menambah jumlah pembayaran ke importir asing yang menggunakan mata uang dollar AS.

Baca juga: BI Rilis Daftar Uang Rupiah yang Tak Berlaku, Ada Pecahan Rp 1.000 Hingga Rp 5.000

Itu belum termasuk pembayaran bunga dan pokok uang dengan mata uang dollar AS. Efeknya berantai, arus kas perusahaan terganggu, sementara harga barang tak bisa dinaikkan terlalu tinggi karena daya beli masyarakat belum pulih sepenuhnya.

Efek samping lainnya, perusahaan tak bisa berekspansi berimbas pada menurunnya penyerapan kerja.

"Investasi yang bersifat lebih spekulatif atau sangat bergantung pada kondisi eksternal cenderung ditunda," jelas Shinta.

Untuk mengakali agar harga tak melonjak tinggi, perusahaan mulai melakukan diversifikasi pemasok dan substitusi impor.

Baca juga: BI Rilis Daftar Uang Rupiah yang Tak Berlaku, Ada Pecahan Rp 1.000 Hingga Rp 5.000

Nilai tukar rupiah akan menguat

Sementara itu, Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti menyakini nilai tukar rupiah bakal kembali ke level fundamentalnya. 

"BI memperkirakan tekanan yang bersifat musiman ini akan mereda sehingga nilai tukar rupiah bisa kembali ke level fundamentalnya," jelasnya dikutip dari Kompas.com, Selasa (12/5/2026). 

Hal ini didasari adanya aliran modal asing yang masuk ke dalam negeri terutama di pasar Surat Berharga Negara (SBN) lalu Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI).

Baca juga: Rupiah Tembus 17.500, Kementerian ESDM Kaji Dampaknya ke Subsidi BBM

Selama April 2026, inflow di pasar SBN dan SRBI mencapai Rp 61,6 triliun. 

Likuiditas valas di dalam negeri juga memadai. Lalu, pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK) per Maret 2026 mencapai 10,9 persen secara year to date.

Ekonomi terus tumbuh diyakini mempercepat penguatan rupiah. 

"BI akan terus berkomitmen untuk selalu berada di pasar dan juga mengoptimalkan penggunaan semua instrumen operasi moneter sehingga diharapkan dapat mengurangi tekanan pada rupiah," kata Destry.

Baca juga: Purbaya Mulai Upaya Penyelamatan Rupiah Hari Ini

Artikel ini pernah tayang di Kontan dengan judul "Apindo Sebut Pelemahan Rupiah Tekan Biaya Produksi Industri Manufaktur" dan "BI Yakin Nilai Tukar Rupiah Segera Kembali ke Level Fundamentalnya"

Tag:  #pelemahan #rupiah #tingkatkan #biaya #produksi #industri #manufaktur

KOMENTAR