Atur Strategi Saat Rupiah Melemah, Jangan Buru-buru Borong Dollar...
Ilustrasi dollar AS.(PIXABAY/PASJA1000)
09:56
18 Mei 2026

Atur Strategi Saat Rupiah Melemah, Jangan Buru-buru Borong Dollar...

- Saat rupiah melemah seperti akhir-akhir ini, tidak sedikit masyarakat melakukan sejumlah kesalahan finansial demi menjaga nilai asetnya.

Sejumlah ekonom dan perencana keuangan menilai, gejolak kurs justru sering memicu keputusan finansial yang emosional dan berisiko. Mulai dari memborong dolar saat kurs tinggi hingga memakai dana darurat untuk berspekulasi.

Berikut sejumlah kesalahan finansial yang kerap dilakukan masyarakat saat rupiah melemah:

1. Panik menukar tabungan ke dollar AS

Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede mengungkapkan kesalahan paling umum dilakukan saat rupiah melemah adalah panik mengubah seluruh simpanan rupiah menjadi dollar AS ketika kurs sudah tinggi.

Padahal kepemilikan dollar AS seharusnya disesuaikan dengan kebutuhan. Jika seluruh penghasilan dan pengeluaran masih dalam rupiah, membeli terlalu banyak dolar justru berisiko menjadi spekulasi.

"Jika semua penghasilan dan pengeluaran dalam rupiah, memiliki terlalu banyak dolar justru bisa menjadi spekulasi yang berisiko," ujarnya kepada Kompas.com, Jumat.

Lagi pula, untuk kondisi saat ini menyimpan uang di bank juga dinilai masih aman selama bank yang dipilih diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan simpanan memenuhi ketentuan penjaminan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS).

Selain itu, data OJK menunjukkan perbankan masih memiliki likuiditas yang memadai, dana pihak ketiga pada Maret 2026 masih tumbuh 13,55 persen menjadi Rp 10.231 triliun, kredit tumbuh 9,4 persen menjadi Rp 8.659 triliun, dan rasio alat likuid terhadap DPK berada di 27,85 persen atau jauh di atas ambang 10 persen.

Baca juga: Soal Rupiah Melemah, Presiden Prabowo: Orang Desa Tidak Pakai Dollar Kok...

2. Membongkar dana darurat demi beli dollar AS

Selain itu, Josua menyebut, kesalahan lainnya yang kerap dilakukan ketika rupiah melemah adalah menggunakan dana darurat untuk membeli aset berisiko dam berutang untuk membeli valuta asing (valas).

Bahkan ada juga yang sampai melakukan penundaan pembayaran cicilan karena berharap kurs membaik, membeli dollar AS tanpa tujuan yang jelas, hingga tidak mengecek jenis bunga kredit.

Josua mengingatkan, risiko terbesar ketika rupiah melemah bukan hanya kurs namun juga arus kas bulanan.

Selama pendapatan masih dalam denominasi rupiah, maka prioritas utama dalam kondisi ini berupa menjaga dana darurat, membayar cicilan tepat waktu, mengurangi utang konsumtif, dan menunda belanja besar yang tidak mendesak.

"Dana darurat dan kebutuhan 3 sampai 6 bulan tetap sebaiknya disimpan dalam rupiah di rekening tabungan atau deposito karena pengeluaran sehari-hari mayoritas tetap rupiah," ucapnya.

Senada, Perencana keuangan dari Finansialku Melvin Mumpuni mengatakan banyak masyarakat menggunakan dana darurat untuk membeli dollar AS atau aset lain karena takut tertinggal momentum.

Padahal, dana darurat seharusnya diprioritaskan untuk kebutuhan mendesak, bukan dipakai untuk spekulasi saat pasar bergejolak.

"Ada tiga kesalahan utama yang sering saya jumpai. Salah satunya, membongkar dana darurat," ucapnya kepada Kompas.com, Jumat.

3. FOMO beli dollar AS dalam jumlah besar

Melvin melanjutkan, dua kesalahan lainnya ialah ikut-ikutan membeli dollar AS dalam jumlah besar karena FOMO (fear of missing out) tanpa memahami risikonya.

"Ini bukan investasi, melainkan spekulasi," kata dia.

Kepala Ekonom Bank Central Asia David Sumual menilai FOMO beli dollar AS ketika rupiah tengah melemah menjadi keputusan yang tidak bijak karena kondisi kurs dapat berubah.

"Rupiah bisa menguat atau terus melemah. Jika kondisi eksternal misal berubah, rupiah malah bisa menguat signifikan," ujar David kepada Kompas.com, Jumat.

Pandangan serupa disampaikan Perencana keuangan Mitra Rencana Edukasi (MRE) Andy Nugroho. Menurutnya, FOMO membeli dollar sekaligus ketika kurs sedang fluktuatif menjadi kesalahan finansial yang sering terjadi.

"Jadi misalnya punya duit berapa? Rp 10 juta. Oh Rp 10 jutanya langsung dibelikan dollar AS semuanya," ucap Andy kepada Kompas.com, Jumat.

Padahal seharusnya, kata Andy, pembelian mata uang asing lebih baik dilakukan bertahap menggunakan metode dollar cost averaging agar risiko fluktuasi harga bisa terbagi.

"Jadi belinya sedikit demi sedikit. Misalnya minggu ini kita beli sedikit, terus minggu depan lagi beli lagi, beli lagi gitu ya. Itu untuk memecah resikonya juga," jelasnya.

Baca juga: WGC: Saat Rupiah Bergejolak, Emas Jadi Andalan Investor Indonesia

4. Tidak melakukan lindung nilai

Senior Vice President Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia Trioksa Siahaan mengatakan, pelaku usaha yang terdampak fluktuasi kurs sering kali lupa melakukan lindung nilai atau hedging.

Sbagian pelaku usaha justru memanfaatkan momentum pelemahan rupiah untuk berspekulasi di valuta asing, padahal bisnis mereka memiliki risiko kerugian akibat selisih kurs.

"Kesalahannya adalah dengan tidak melakukan hedging sementara usahanya terdampak potensi kerugian dari selisih kurs dan memanfaatkan momentum utk spekulasi valas," tuturnya kepada Kompas.com, Jumat.

Baca juga: Rupiah Melemah, Perlukah Punya Tabungan Dollar AS?

Tag:  #atur #strategi #saat #rupiah #melemah #jangan #buru #buru #borong #dollar

KOMENTAR