Mengenal Fenomena Lipstick Effect, Kenapa Orang Tetap Belanja saat Ekonomi Sulit?
Di tengah kondisi ekonomi yang tidak menentu, banyak orang mulai menekan pengeluaran besar.
Namun di saat yang sama, pembelian barang seperti lipstik, skincare, parfum, kopi, hingga aksesori fesyen justru tetap ramai.
Fenomena ini dikenal sebagai lipstick effect atau efek lipstik, yakni kondisi ketika konsumen tetap membeli “kemewahan kecil” yang memberi kepuasan emosional meski sedang berhemat.
Melansir Antara pada Kamis (1/9/2025), lipstick effect muncul ketika masyarakat mencari cara sederhana untuk mengurangi stres akibat tekanan ekonomi.
Baca juga: Jaket Adidas Bergaya Mandarin Laris Saat Imlek, Dibanderol hingga Rp 6 Jutaan
Apa itu lipstick effect?
Secara sederhana, lipstick effect adalah konsep ekonomi yang menggambarkan kebiasaan konsumen membeli barang kecil yang memberi rasa nyaman atau penghargaan diri saat kondisi keuangan sedang sulit.
Barang yang dibeli biasanya bukan kebutuhan utama, tetapi tetap dianggap “terjangkau”, seperti kosmetik, parfum, kopi, atau makan di luar setelah gajian.
Fenomena ini pertama kali populer setelah Leonard Lauder dari perusahaan kosmetik Estée Lauder melihat penjualan lipstik meningkat saat ekonomi melemah.
Dilansir dari Forbes (1/6/2022), istilah ini kemudian dikenal sebagai salah satu indikator perilaku konsumen saat resesi.
Baca juga: Tren Audio Wearable, Saat Earphone dan Headphone Jadi Bagian Fashion
Bukan sekadar ingin tampil cantik
Ilustrasi lipstik. Lipstick effect menggambarkan kebiasaan membeli barang kecil seperti makeup atau skincare untuk memperbaiki suasana hati.
Selama bertahun-tahun, lipstick effect sering dikaitkan dengan anggapan bahwa perempuan membeli produk kecantikan untuk menarik perhatian pasangan atau meningkatkan peluang kerja.
Namun, penelitian terbaru menunjukkan alasannya lebih kompleks.
Ekonom Yasemin Dildar dari California State University, San Bernardino, mengatakan peningkatan pembelian produk kecantikan saat ekonomi sulit sebenarnya lebih berkaitan dengan kebutuhan emosional.
“Itu hanyalah bentuk hiburan kecil,” kata Dildar, seperti dikutip dari Bloomberg (15/11/2025).
Menurut penelitian yang ia lakukan saat periode resesi besar, konsumen cenderung mengurangi pembelian mahal seperti tas, pakaian, atau perhiasan, lalu menggantinya dengan produk yang lebih murah tetapi tetap memberi rasa puas.
Baca juga: Trik Simpel Biar Lipstik Lebih Awet Dipakai Seharian
Self-reward dan kesehatan mental
Fenomena ini juga terlihat di Indonesia. Banyak orang tetap mengalokasikan uang untuk self-reward, mulai dari membeli hijab premium, skincare, pergi ke gym, hingga melakukan perjalanan singkat untuk healing.
Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Abra Talattov mengatakan perilaku tersebut muncul karena masyarakat tetap membutuhkan ruang untuk menjaga kesehatan mental dan motivasi kerja.
“Motivasinya untuk mengurangi stres dan kelelahan akibat pekerjaan. Mereka membutuhkan ruang hiburan atau rekreasi,” ujar Abra.
Menurut dia, kebutuhan masyarakat kini tidak hanya soal kebutuhan fisik, tetapi juga kebutuhan emosional dan psikologis.
Karena itu, pengeluaran untuk olahraga, komunitas hobi, atau perawatan diri mulai dianggap bagian dari kualitas hidup.
Media sosial ikut memperkuat tren
Fenomena lipstick effect juga semakin besar karena pengaruh media sosial.
Bloomberg menulis generasi muda kini menjadi salah satu konsumen terbesar produk kecantikan.
Tren seperti Get Ready With Me, glass skin, hingga kosmetik premium membuat produk kecantikan semakin dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Penulis dan kreator konten Kyla Scanlon mengatakan media sosial membuat penampilan fisik menjadi semakin diperhatikan.
“Obsesi terhadap kecantikan adalah konsekuensi nyata dari ekonomi digital,” ujarnya.
Hal ini membuat banyak orang tetap rela mengeluarkan uang untuk produk yang dianggap bisa meningkatkan rasa percaya diri.
Baca juga: Angelina Jolie Tampil Beda di Shanghai, Rambut Pirang dan Lipstik Merah Jadi Sorotan
Mengapa lipstik jadi simbol?
Produk lipstik dianggap mewakili lipstick effect karena harganya relatif lebih terjangkau dibanding barang mewah lain, tetapi tetap memberi efek emosional yang kuat.
Wakil Presiden NPD Group sekaligus penasihat industri kecantikan Larissa Jensen mengatakan lipstik bisa memberi perubahan instan pada penampilan seseorang.
“Lipstik bersifat transformatif. Sapuan kecil pada bibir bisa langsung membuat wajah terlihat berbeda,” katanya kepada Forbes.
Meski terlihat sederhana, lipstick effect menunjukkan bahwa di tengah tekanan ekonomi, banyak orang tetap mencari cara kecil untuk merasa lebih baik, lebih percaya diri, dan lebih nyaman menjalani hari.
Baca juga: Tren Warna Lipstik 2025, dari Burgundy hingga Pink Nude
Tag: #mengenal #fenomena #lipstick #effect #kenapa #orang #tetap #belanja #saat #ekonomi #sulit