IHSG Anjlok 3,8 Persen, Efek MSCI dan FTSE Russell Tekan Pasar
Bursa Efek Indonesia (BEI) merilis daftar saham dengan konsentrasi kepemilikan tinggi atau high shareholding concentration (HSC) pada Kamis (2/4/2026). Publikasi ini dilakukan sebagai bagian dari upaya meningkatkan transparansi bagi investor di pasar modal.(ANTARA FOTO/Asprilla Dwi Adha)
10:32
18 Mei 2026

IHSG Anjlok 3,8 Persen, Efek MSCI dan FTSE Russell Tekan Pasar

– IHSG hari ini kembali bergerak di zona merah pada perdagangan Senin (18/5/2026). Tekanan pasar global, pelemahan rupiah, serta sentimen rebalancing MSCI IHSG dan kebijakan FTSE Russell membuat pasar saham domestik tertekan sejak awal perdagangan.

Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI) hingga sekitar pukul 10.09 WIB, IHSG saat ini berada di level 6.466,95 atau turun 256,37 poin setara 3,81 persen.

Sebelumnya, pada perdagangan preopening, IHSG turun 94,344 poin atau 1,40 persen ke level 6.628,98. Saat sesi pembukaan dimulai, IHSG langsung bergerak di zona merah dan terus melanjutkan pelemahannya.

Baca juga: MSCI dan FTSE Coret Saham RI, Momentum Benahi Pasar Modal

IHSG dibuka di level 6.628,98 dan sempat menyentuh level tertinggi 6.631,28. Sementara level terendah indeks tercatat di posisi 6.428,93.

Bursa saham makin tertekan sejak pembukaan

Aktivitas perdagangan saham terpantau ramai dengan volume transaksi mencapai 13,61 miliar saham. Nilai transaksi tercatat sebesar Rp 7,77 triliun dengan frekuensi perdagangan mencapai 1,152 juta kali transaksi.

Dari sisi pergerakan saham, sebanyak 82 saham menguat, 703 saham melemah, dan 174 saham lainnya stagnan.

IHSG anjlok seiring mayoritas indeks saham utama yang ikut bergerak di zona merah. Indeks LQ45 turun 20,32 poin atau 3,09 persen ke level 637,56.

Baca juga: IHSG Awal Pekan Diprediksi Terkoreksi, Ritel Bisa Cermati Saham DEWA, INDY, ELSA

Kemudian, indeks Jakarta Islamic Index (JII) melemah 18,42 poin atau 4,21 persen ke posisi 419,47. Indeks KOMPAS100 juga turun 35,65 poin atau 3,99 persen ke level 857,60.

Sementara itu, indeks ISSI tercatat turun 8,95 poin atau 3,68 persen ke posisi 234,05. Pelemahan juga terjadi pada indeks IDX30 yang turun 9,51 poin atau 2,56 persen ke level 361,77.

Adapun indeks JII70 terkoreksi 6,73 poin atau 3,94 persen ke posisi 163,93.

Efek MSCI dan FTSE Russell tekan sentimen investor

Tekanan terhadap IHSG sejak akhir pekan lalu turut dipicu keluarnya sejumlah saham Indonesia dari indeks global Morgan Stanley Capital International (MSCI).

Dalam penyesuaian indeks terbaru, MSCI IHSG resmi menghapus enam saham Indonesia dari MSCI Global Standard Indexes.

Keenam saham tersebut yakni PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN), PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN), PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA), PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA), PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN), dan PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT).

Baca juga: MSCI Umumkan Rebalancing, Saham Big Banks Dibayangi Tekanan Asing

Selain itu, MSCI juga menghapus 13 saham Indonesia dari MSCI Global Small Cap Indexes. Perubahan tersebut berlaku efektif mulai 1 Juni 2026.

Sentimen negatif terhadap pasar domestik semakin bertambah setelah FTSE Russell ikut memberi sinyal keras terkait saham-saham Indonesia dengan konsentrasi kepemilikan tinggi atau high shareholding concentration (HSC).

Dalam tinjauan indeks Juni 2026, FTSE Russell menyatakan akan menghapus saham-saham terdampak HSC dengan harga nol. Kebijakan tersebut efektif berlaku mulai pembukaan perdagangan 22 Juni 2026.

Langkah itu diambil untuk menjaga integritas indeks dan mengantisipasi risiko penurunan likuiditas saham yang dinilai dapat menyulitkan investor institusi keluar dari saham terkait.

Indeks MSCI MSCI Indeks MSCI FTSE Russell juga memutuskan tetap menunda re-ranking indeks secara penuh, kenaikan free float, serta penambahan emiten baru hingga setidaknya tinjauan indeks September 2026.

Kebijakan IHSG FTSE tersebut semakin menambah kekhawatiran pelaku pasar terhadap potensi arus keluar dana asing dari pasar saham domestik.

Sejumlah saham yang selama ini dikaitkan dengan isu free float dan konsentrasi kepemilikan tinggi ikut menjadi sorotan pasar, termasuk saham PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) dan PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA).

Baca juga: Prabowo: Seluruh Rakyat Indonesia Pemegang Saham Kekayaan Bangsa

Rupiah melemah, pasar global masih bergejolak

Analis teknikal MNC Sekuritas Herditya Wicaksana menilai pergerakan pasar saham masih dipengaruhi kondisi global maupun domestik.

Investor disebut masih mencermati perkembangan geopolitik di Timur Tengah yang berpotensi meningkatkan ketidakpastian pasar keuangan global.

Pasar juga masih dibayangi tekanan jual dan potensi capital outflow imbas rebalancing MSCI IHSG.

Pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dollar AS turut menjadi perhatian utama pelaku pasar. Pelemahan rupiah dinilai dapat meningkatkan kekhawatiran pasar terhadap arus modal asing dan stabilitas pasar keuangan domestik.

Karena itu, Herditya memprediksi level support IHSG berada di 6.682. Sedangkan resistensi di posisi 6.789.

Tag:  #ihsg #anjlok #persen #efek #msci #ftse #russell #tekan #pasar

KOMENTAR