Mendagri Minta Kepala Daerah Cek Dampak Pelemahan Rupiah Ke Harga Barang
- Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tito Karnavian meminta kepala daerah memeriksa dampak pelemahan rupiah terhadap harga barang, jasa, dan transportasi di lapangan.
Arahan itu Tito sampaikan saat memimpin Rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi di Kementerian Dalam Negeri, Senin (18/5/2026).
Tito mengatakan, nilai tukar dollar Amerika Serikat (AS) saat ini tengah menekan sejumlah mata uang, termasuk rupiah.
“Bulan Mei ini kita harus mengamati betul perkembangan dari dampak terutama kenaikan harga minyak dan juga kurs mata uang. Apakah ada pengaruh atau tidak,” kata Tito dalam siaran YouTube Kemendagri.
Tito menekankan, pemeriksaan kondisi di lapangan secara langsung sangat penting guna mengetahui kondisi riil dampak pelemahan nilai tukar rupiah.
Baca juga: Saat Rupiah Melemah, Transportasi Umum Dinilai Jadi Jaring Pengaman
Menurutnya, meskipun secara nasional kondisi laju inflasi bulanan dan tahunan terpantau baik, kepala daerah harus memeriksa dampak pelemahan rupiah.
“Ini perlu dicek ke lapangan oleh semua daerah, pasar, harga-harga barang dan asa, transportasi, apakah terjadi kenaikan atau tidak. Sangat penting,” ujar Tito.
Mantan Kapolri itu menyebut, inflasi pada bulan April (month to month) masih terkendali dengan angka 0.13 persen.
Dalam data yang Tito sampaikan, transportasi menjadi penyumbang utama dibandingkan makanan, minuman, dan rokok.
“Beberapa komoditas yang menjadi penyumbang inflasi, terutama adalah yang untuk month-to-month dari bulan ke bulan, dari Maret ke April, itulah sektor transportasi yang tertinggi,” kata Tito.
Baca juga: IHSG Anjlok dan Rupiah Terjun: Ini Penyebab Tekanan Pasar Keuangan RI
Dalam data yang Tito paparkan, biaya transportasi mengalami kenaikan 0,99 persen pada April dan berkontribusi 0,12 persen pada inflasi berbagai jenis pengeluaran.
Sementara itu, makanan, minuman, dan tembakau justru terkendali dan menjadi penyeimbang kenaikan biaya transportasi.
Meski demikian, Tito meminta semua pihak tidak merasa puas dengan kondisi tersebut karena kondisi geopolitik masih bergejolak.
Sehingga, dampak perang Amerika Serikat (AS) dan Israel melawan Iran di Asia Barat mengerek harga minyak mentah.
“Kita jangan berpuas diri karena apa? Karena satu, geopolitik,” kata Tito.
“Kemudian juga kurs dolar kepada sejumlah mata uang termasuk Indonesia juga kita mengalami cukup tekanan,” tambahnya.
Baca juga: Benarkah Desa Tidak Terdampak Pelemahan Rupiah?
Dalam forum yang sama, Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Amalia Adininggar Widyasanti, mengatakan inflasi pada bulan April sebesar 0,13 persen dipengaruhi penurunan harga (deflasi) sejumlah komoditas pangan yang sempat bergejolak karena Idul Fitri.
Setelah momentum lebaran selesai pada April harga beberapa komoditas pangan kembali turun.
Sementara itu, kenaikan biaya transportasi didorong harga bahan bakar minyak (BBM) non subsidi dan angkutan udara.
“Tarif angkutan udara tentunya salah satunya karena dipengaruhi oleh harga avtur,” tutur Amalia.
Tag: #mendagri #minta #kepala #daerah #dampak #pelemahan #rupiah #harga #barang