Rupiah Melemah, Daya Beli Masyarakat Berisiko Turun
- Ekonom Center of Reform on Economics (Core) Yusuf Rendy Manilet mengatakan adanya risiko pelemahan daya beli masyarakat akibat rupiah melemah.
Memang benar masyarakat tak selalu bertransaksi menggunakan dollar AS, tapi kebutuhan pokok seperti pupuk, pakan ternak, dan obat-obatan memiliki biaya produksi berbasis impor.
"Pangan dan energi menjadi komponen yang paling sensitif terhadap depresiasi kurs," ujar Yusuf dikutip dari Kontan, Minggu (17/5/2026).
Nilai tukar rupiah kembali tertekan menembus level Rp 17.600 per dollar AS
Misalnya, pakan ternak bergantung pada bungkil kedelai impor, sektor kesehatan menggunakan bahan baku aktif, lalu pupuk urea dan NPK sama halnya.
Baca juga: Purbaya: Prabowo Paham Rupiah, Jangan Salah Tafsir
Pembiayaan mereka menggunakan dollar AS, sebabkan naiknya biaya produksi dikonversi ke rupiah lalu dibebankan kepada masyarakat.
Masyarakat miskin dan rentan miskin di pedesaan paling terdampak terhadap pelemahan rupiah.
Yusuf mengingatkan, penurunan daya beli rumah tangga dengan pengeluaran Rp 2 juta hingga Rp 3 juta per bulan diperkirakan kehilangan daya beli riil sekitar 3-5 persen dalam beberapa bulan apabila rupiah terus melemah.
Ditambah ada risiko PHK jika kondisi terus memburuk.
Baca juga: Rupiah Ditutup Melemah di Level 17.667, Ini Penyebabnya Menurut Analis
Komisi XI DPR panggil BI
Komisi XI DPR RI memanggil Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo guna melaksanakan rapat kerja di Gedung DPR Senayan, Senin (18/5/2026).
Ilustrasi rupiah.
Dalam rapat tersebut, anggota Komisi XI DPR RI Harris Turino mempertanyakan kenapa rupiah masih terus melemah sementara berbagai cara sudah digunakan BI, seperti intervensi pasar keuangan, yield SRBI dinaikkan jadi 6,40 persen, lalu pembelian surat berharga negara (SBN) sebesar Rp 332 triliun pada 2025 lalu ditambah Rp 133 triliun pada tahun ini.
Baca juga: Ekonom: Tak Pakai Dollar, Warga Desa Tetap Terdampak Pelemahan Rupiah
Langkah lain ialah menurunkan batas pembelian dollar AS dari 10.000 dollar AS per orang menjadi 50.000 dollar AS.
"Maka pertanyaan kritis adalah semua instrumen yang dimiliki sudah dilakukan tetapi kenapa rupiah tetap berlanjut mengalami depresiasi?" tanya Harris ke Perry dikutip dari Kompas.com.
Harris memahami, penurunan nilai tukar rupiah karena tekanan eksternal.
Baca juga: OJK: Risiko Perbankan Tetap Terkendali Meski Rupiah Tertekan
Tapi, ada problem serius di sektor domestik yang harus segera ditangani.
"Kemungkinan penyebabnya adalah yang Bapak katakan di presentasi tekanan global sangat besar ini memang diakui tekanan global sangat besar tetapi harus diakui juga ada masalah serius di domestik," katanya.
BI masih terus berusaha untuk memperkuat nilai tukar rupiah saat ini.
Baca juga: Rupiah Anjlok ke Level Terendah, Apa Penyebabnya?
Artikel ini pernah tayang di Kontan dengan judul "Rupiah Melemah, Daya Beli Terancam Tergerus Hingga Risiko PHK Meningkat" dan "DPR Tanya BI: "Semua Instrumen Dipakai, Rupiah Kok Melemah?"
Tag: #rupiah #melemah #daya #beli #masyarakat #berisiko #turun