Ekonom: Pelemahan Rupiah Ancam Ekspansi Industri dan PHK
- Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (CELIOS) Bhima Yudhistira memperkirakan nilai tukar rupiah berpotensi menembus level Rp 20.000 per dollar AS apabila pelemahan terus berlangsung tanpa intervensi yang efektif.
Mengutip Bloomberg, pada penutupan perdagangan pasar spot Senin (18/5/2026), rupiah bertahan melemah pada level Rp 17.667 per dollar AS.
“Kalau hari ini kurs sekitar Rp 17.600 dan pelemahannya rata-rata 0,5 persen per hari, maka pada 9 Juni 2026 rupiah bisa tembus di atas Rp 20.000 per dollar AS,” ujar Bhima kepada Kompas.com, Senin (18/5/2026).
Baca juga: Rupiah Melemah, Tetap Bisa Liburan ke Luar Negeri? Ini Kata Pakar
Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies, Bhima Yudhistira Adhinegara dalam diskusi Polemik Harga Beras dan Kebijakan Pangan di Tengah Krisis Iklim, Selasa (16/9/2025).
Menurut Bhima, tekanan eksternal global memang menjadi salah satu faktor utama pelemahan rupiah.
Namun ia menilai kondisi fundamental ekonomi domestik dan komunikasi pemerintah juga turut memengaruhi persepsi investor.
“Siapa yang mau berinvestasi dalam kondisi ekonomi yang dianggap shaky atau sangat fluktuatif seperti sekarang?” kata Bhima.
Bhima menilai pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dollar AS juga memunculkan kekhawatiran serius di kalangan pelaku usaha dan investor.
Baca juga: Bos BI Optimistis Rupiah Bakal Menguat ke Kisaran 16.000 pada Juli-Agustus
Kondisi tersebut bukan hanya meningkatkan biaya produksi industri, tetapi juga berpotensi memicu keluarnya modal asing hingga menghambat ekspansi usaha yang berdampak pada ancaman PHK.
“Pelemahan rupiah itu mengirim sinyal bahwa kondisi makroekonomi sedang penuh tantangan,” ujar Bhima.
“Semakin melemah nilai tukar, pelaku usaha juga mulai khawatir terhadap kenaikan biaya impor bahan baku, impor mesin industri, sampai biaya logistik,” lanjut Bhima.
Ilustrasi rupiah.
Menurut dia, kondisi tersebut membuat investor semakin berhati-hati untuk menanamkan modal di Indonesia, terutama untuk investasi jangka panjang seperti pembangunan pabrik dan ekspansi industri.
Baca juga: Rupiah Melemah, Daya Beli Masyarakat Berisiko Turun
Bhima menjelaskan, pelemahan kurs turut meningkatkan biaya investasi karena muncul tambahan risiko atau risk premium yang harus ditanggung investor.
“Investor jadi mempertimbangkan ulang untuk masuk ke Indonesia karena biaya investasinya lebih mahal. Risiko kurs meningkat, bunga obligasi lebih tinggi, dan biaya pinjaman perbankan juga berpotensi naik,” katanya.
Bhima menilai gejolak nilai tukar yang terus berfluktuasi membuat investor kehilangan kepastian dalam menyusun rencana bisnis jangka panjang.
Menurut dia, investor yang sebelumnya memiliki horizon investasi lima hingga 10 tahun kini cenderung memilih strategi jangka pendek karena khawatir terhadap ketidakstabilan ekonomi.
Baca juga: IHSG Ditutup Anjlok 1,85 Persen, Rupiah Tembus Rekor Terlemah Baru
“Kalau kondisi kurs terus berubah-ubah seperti sekarang, rencana bisnis investor juga ikut berubah. Akibatnya ada potensi capital flight, investor yang tadinya mau masuk akhirnya batal, sementara industri yang sudah ada bisa menunda ekspansi atau bahkan relokasi,” ucap Bhima.
Ia menambahkan pelemahan rupiah juga akan berdampak terhadap daya beli masyarakat karena berpotensi memicu inflasi dalam beberapa bulan ke depan.
“Pelaku usaha pasti melihat pelemahan kurs akan memengaruhi daya beli dan inflasi, sehingga mereka mulai merombak strategi bisnisnya di Indonesia,” katanya.
Selain menghambat investasi baru, Bhima menyebut pelemahan rupiah juga membuat akses pembiayaan perusahaan menjadi lebih sulit dan mahal.
Baca juga: Purbaya: Prabowo Paham Rupiah, Jangan Salah Tafsir
Ilustrasi rupiah.
Ia mencontohkan perusahaan yang ingin menerbitkan saham di pasar modal kini menghadapi tantangan karena kondisi bursa saham yang melemah.
“Jalur yang paling terasa dampaknya adalah pembiayaan. Jadi lebih mahal dan lebih sulit. Kalaupun perusahaan tetap ekspansi, mereka harus membayar biaya yang jauh lebih tinggi,” tegasnya.
Meskipun rupiah melemah, pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai angka 5,61 persen (yoy) pada kuartal I 2026.
Nilai itu melampaui ekspektasi pasar dan menjadi capaian tertinggi dalam 13 triwulan terakhir.
Baca juga: Rupiah Ditutup Melemah di Level 17.668, Ini Penyebabnya Menurut Analis
Lonjakan ini didorong oleh kuatnya konsumsi selama periode Ramadhan dan Lebaran, serta peningkatan signifikan pada belanja pemerintah.
Pertumbuhan ekonomi RI tersebut menunjukkan resiliensi ekonomi yang baik, bahkan melampaui rata-rata pertumbuhan negara mitra dagang utama (seperti China, Singapura, dan Malaysia) di tengah ketidakpastian global.
Hal ini juga ditegaskan oleh Menteri Koordinator (Menko) Perekonomian Airlangga Hartarto.
Dia bilang, pertumbuhan ekonomi Indonesia tersebut merupakan yang tertinggi di antara negara-negara G20.
Baca juga: Ekonom: Tak Pakai Dollar, Warga Desa Tetap Terdampak Pelemahan Rupiah
“Tadi pengumuman BPS di kuartal pertama baik, kita pertumbuhannya di 5,61. Dan pertumbuhan ini adalah di antara negara G-20 tertinggi. Jadi kita di atas China, di atas Singapura, Korea Selatan, Arab, bahkan Amerika,” kata Airlangga di Istana Merdeka, Jakarta, Selasa (5/5/2026) lalu.