Ekonomi China Lesu, Penjualan Ritel April 2026 Melambat
- Ekonomi China mulai lesu pada April 2026 setelah pertumbuhan konsumsi, output industri, dan investasi peleset dari ekspektasi pasar.
Perlambatan ini terjadi seiring dampak perang Iran yang menekan momentum pemulihan ekonomi terbesar kedua di dunia tersebut.
Data Biro Statistik Nasional China yang dirilis Senin (17/5/2026) menunjukkan penjualan ritel hanya tumbuh 0,2 persen pada April dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Mengutip CNBC, angka tersebut jauh di bawah proyeksi ekonom yang memperkirakan kenaikan 2 persen dan melambat tajam dibanding pertumbuhan 1,7 persen pada Maret.
Baca juga: Sektor Jasa Jadi Mesin Baru Ekonomi di Tengah Ketidakpastian Global
Menurut data Wind, capaian tersebut menjadi pertumbuhan penjualan ritel terlemah sejak Desember 2022, ketika China mulai melonggarkan pembatasan Covid-19.
Sementara itu, produksi industri China tumbuh 4,1 persen secara tahunan pada April, melambat dibandingkan pertumbuhan 5,7 persen pada Maret dan di bawah ekspektasi survei Reuters yang memperkirakan kenaikan 5,9 persen.
Investasi aset tetap perkotaan, termasuk sektor properti dan infrastruktur, justru terkontraksi 1,6 persen dalam empat bulan pertama 2026 dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Padahal pasar sebelumnya memperkirakan pertumbuhan sebesar 1,6 persen.
Pada periode Januari-Maret 2026, investasi perkotaan masih tumbuh 1,7 persen.
Penurunan investasi terutama dipicu pelemahan sektor properti.
Investasi properti tercatat anjlok 13,7 persen hingga April 2026, lebih dalam dibanding penurunan 11,2 persen pada tiga bulan pertama tahun ini.
Sebaliknya, investasi di sektor infrastruktur dan manufaktur masih tumbuh masing-masing sebesar 4,3 persen dan 1,2 persen dalam empat bulan pertama tahun ini.
“Investasi properti di China kini hampir terpangkas setengah dibandingkan puncaknya pada 2021,” kata Analis Center for China Analysis, Lizzi Lee.
Menurut dia, penurunan harga rumah yang terus berlangsung dapat semakin memperburuk kondisi neraca rumah tangga.
Pelemahan sektor properti juga telah memicu kehilangan pekerjaan besar-besaran di sektor konstruksi dan industri terkait.
Data terpisah yang dirilis Senin juga menunjukkan harga rumah baru di China masih mengalami penurunan pada April, meski lajunya sedikit melambat.
Di tengah lemahnya permintaan domestik, ekspor masih menjadi penyangga ekonomi China.
“Kinerja ekspor membantu meredam tekanan ekonomi meski belum mampu sepenuhnya mengompensasi lemahnya konsumsi dalam negeri,” kata Kepala Ekonom Pinpoint Asset Management, Zhiwei Zhang.
Ekspor China melonjak 14,1 persen pada April dibandingkan tahun sebelumnya, jauh melampaui estimasi pasar sebesar 7,9 persen.
Kenaikan tersebut didorong oleh meningkatnya permintaan luar negeri karena banyak pembeli asing melakukan penimbunan barang akibat kekhawatiran kenaikan biaya produksi pascaperang Iran.
Sementara itu, tingkat pengangguran perkotaan turun tipis menjadi 5,2 persen pada April dari sebelumnya 5,4 persen pada Maret.
Meski ekspor China ke Amerika Serikat menurun, pemerintah AS pada Minggu menyatakan Beijing telah sepakat membeli sedikitnya 17 miliar dollar AS produk pertanian Amerika pada 2026 dan dua tahun berikutnya.
China juga disebut akan membeli 200 pesawat awal dari Boeing usai pertemuan antara Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping pekan lalu.
Kedua negara juga sepakat membentuk Dewan Perdagangan dan Investasi AS-China untuk membahas akses pasar dan memperluas kerja sama perdagangan dalam kerangka penurunan tarif.
Sementara itu, juru bicara biro statistik China, Fu Linghui, mengatakan volatilitas pasar energi dan gangguan rantai pasok akibat konflik Timur Tengah masih membayangi pemulihan ekonomi global.
“Volume pengolahan minyak mentah di China turun untuk bulan kedua berturut-turut pada April, merosot 5,8 persen dibandingkan tahun sebelumnya,” kata Fu.
Penurunan ini menjadi yang terdalam sejak Agustus 2024.
Sementara produksi minyak mentah China justru naik 1,2 persen secara tahunan.
Lonjakan harga komoditas akibat perang juga mendorong kenaikan harga produsen dan konsumen.
Harga produsen pada April bahkan mencatat pertumbuhan tertinggi dalam tiga tahun setelah sebelumnya lama berada dalam fase deflasi.
Fu menegaskan pemerintah masih perlu bekerja lebih keras untuk meningkatkan permintaan domestik dan mendorong perusahaan memperbaiki produk serta layanan guna menarik konsumen.
Meski begitu, sektor budaya, pariwisata, olahraga, dan hiburan menjadi titik terang.
Penjualan jasa ritel tumbuh 5,6 persen selama empat bulan pertama tahun ini, lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan total penjualan ritel yang hanya 1,9 persen.
Para analis memperkirakan pemerintah China masih akan bersikap wait and see terkait stimulus ekonomi hingga muncul tanda pelemahan ekonomi yang lebih serius.
“Beijing kemungkinan baru akan mengevaluasi ulang arah kebijakan ekonominya pada Juli mendatang setelah data Produk Domestik Bruto (PDB) kuartal kedua dirilis,” ujar Zhiwei Zhang.
Sebagai informasi, ekonomi China sempat memulai 2026 dengan cukup kuat setelah pertumbuhan PDB kuartal pertama mencapai 5 persen.
Baca juga: Unjuk Rasa Pekerja Samsung Ancam Ekonomi Korsel dan Pasokan Chip Global
Tag: #ekonomi #china #lesu #penjualan #ritel #april #2026 #melambat