IHSG Dibayangi Isu BUMN Ekspor, Bagaimana Pergerakan Bursa Jumat (22/5)?
- Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup anjlok pada perdagangan Kamis (21/5/2026). Indeks melemah 3,54 persen ke level 6.094,94 sekaligus menembus area psikologis 6.100.
Pengamat pasar modal sekaligus Founder Republik Investor, Hendra Wardana, mencatat pelemahan tajam itu menunjukkan tekanan pasar yang masih sangat besar, bahkan ketika mayoritas bursa saham Asia justru bergerak positif.
Menurutnya, tekanan utama datang dari sentimen domestik dan global. Dari dalam negeri, pasar merespons negatif meningkatnya ketidakpastian kebijakan pemerintah terkait pembentukan PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI), badan pengatur ekspor sumber daya alam (SDA), yang dinilai dapat memperpanjang birokrasi dan menurunkan daya saing ekspor nasional.
“Dari dalam negeri, pasar merespons negatif meningkatnya ketidakpastian kebijakan pemerintah terkait rencana pembentukan badan pengatur ekspor sumber daya alam yang dinilai dapat memperpanjang birokrasi dan menurunkan daya saing ekspor nasional,” ujar Hendra kepada Kompas.com, Kamis.
Baca juga: Penyebab IHSG Ambruk Saat Bursa Asia Hijau: Sentimen BUMN Ekspor dan Suku Bunga BI
Sebagai informasi, pembentukan PT DSI merupakan tindak lanjut dari Peraturan Pemerintah (PP) tentang Tata Kelola Ekspor Komoditas SDA yang diterbitkan Presiden Prabowo Subianto.
Dalam aturan tersebut, ekspor sejumlah komoditas strategis wajib dilakukan melalui BUMN yang ditunjuk pemerintah.
Saat ini, Danantara Indonesia resmi menunjuk mantan Direktur PT Vale Indonesia Tbk (INCO), Luke Thomas Mahony, sebagai Direktur Utama DSI. Penunjukan eks petinggi perusahaan tambang itu dinilai menjadi langkah awal pemerintah memperkuat tata kelola ekspor sumber daya alam.
Hendra juga menilai kekhawatiran investor diperparah oleh pelemahan nilai tukar rupiah yang masih berada di atas Rp 17.600 per dollar AS, serta derasnya arus keluar dana asing yang sejak awal tahun tercatat telah mencapai lebih dari Rp 51 triliun.
“Kekhawatiran tersebut diperparah oleh pelemahan rupiah yang masih berada di kisaran Rp 17.600 per dollar AS, serta derasnya arus keluar dana asing yang sejak awal tahun sudah mencapai lebih dari Rp 51 triliun,” paparnya.
Sikap Hawkish The Fed
Dari eksternal, pasar juga masih dibayangi sikap hawkish bank sentral Amerika Serikat atau The Fed, setelah risalah Federal Open Market Committee (FOMC) menunjukkan kekhawatiran terhadap inflasi AS yang berpotensi membuat suku bunga tinggi bertahan lebih lama.
Akibat kondisi tersebut, sektor berbasis komoditas dan energi mengalami tekanan paling besar, sementara investor cenderung menghindari aset berisiko di pasar emerging market, termasuk Indonesia.
Secara teknikal, ia mencatat bahwa posisi IHSG masih berada dalam tren bearish yang kuat dan belum menunjukkan sinyal pembalikan arah yang solid. Penurunan tajam hingga menembus area support penting di level 6.200 dan 6.100 menunjukkan dominasi tekanan jual masih sangat tinggi.
Baca juga: Kevin Warsh jadi Gubernur The Fed, Ancaman Inflasi Menanti
Saat ini area 6.000 menjadi support psikologis yang krusial. Jika level tersebut kembali ditembus, IHSG berpotensi lanjutkan pelemahan menuju area 5.880-5.900 sebagai support berikutnya.
Sementara itu, resistance jangka pendek berada di kisaran 6.120-6.250. Indeks baru akan memiliki peluang technical rebound yang lebih meyakinkan apabila mampu kembali bertahan di atas area 6.200 dengan dukungan volume beli yang meningkat.
Namun untuk sementara, pergerakan indeks masih cenderung berada dalam fase panic selling dan high volatility sehingga investor perlu lebih selektif dan disiplin dalam mengelola risiko investasi.
Baca juga: Profil Kevin Warsh, Sosok Pilihan Donald Trump yang Jadi Ketua The Fed
Rupiah dan harga minyak dunia
Hendra menilai pasar saham masih dipengaruhi sentimen nilai tukar rupiah, arus dana asing, perkembangan konflik geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran, serta respons pelaku pasar terhadap kebijakan ekonomi domestik.
Menurutnya, jika rupiah kembali melemah dan tekanan jual investor asing berlanjut, IHSG berpotensi kembali menguji area support di level 6.000.
Meski demikian, setelah mengalami koreksi yang cukup dalam dalam beberapa hari terakhir, peluang terjadinya technical rebound jangka pendek mulai terbuka.
“Terutama apabila muncul aksi bargain hunting pada saham-saham big caps yang saat ini sudah berada pada kondisi oversold,” ujar Hendra kepada Kompas.com, Kamis malam (21/5/2926).
Baca juga: Kenaikan BI Rate Jadi Beban Emiten Berutang Tinggi, Saham Bank Diuntungkan
Rekomendasi saham
Pelaku pasar juga akan mencermati stabilitas harga minyak dunia, serta arah pergerakan yield obligasi Amerika Serikat yang masih menjadi indikator penting bagi aliran dana global ke pasar negara berkembang atau emerging market.
Dalam jangka pendek, investor ritel disarankan fokus pada saham-saham defensif dan emiten dengan fundamental kuat yang relatif tahan terhadap tekanan eksternal.
Hendra merekomendasikan beberapa saham untuk perdagangan Jumat, berikut daftarnya:
Saham PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM) dinilai menarik dicermati dengan strategi buy on weakness di area Rp 2.860 dan target jangka pendek menuju Rp 3.200, seiring valuasi yang mulai murah serta potensi rebound sektor telekomunikasi.
Saham PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk (CPIN) masih layak untuk trading buy dengan target Rp 4.500, didukung sentimen pembagian dividen dan prospek konsumsi domestik yang tetap solid.
Saham PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF) menarik untuk speculative buy sebagai saham defensif sektor konsumer dengan target penguatan menuju area Rp 7.000.
Dari sektor komoditas, PT Timah Tbk (TIND) juga mulai menarik untuk speculative buy dengan target Rp 3.700, memanfaatkan potensi rebound harga timah global.
“Meski demikian, volatilitas sektor komoditas masih tergolong tinggi sehingga investor tetap perlu menerapkan manajemen risiko secara ketat,” tukasnya.
Disclaimer: Artikel ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Seluruh rekomendasi berasal dari analis sekuritas. Keputusan investasi menjadi tanggung jawab investor. Pastikan melakukan riset mandiri sebelum menentukan pilihan.
Tag: #ihsg #dibayangi #bumn #ekspor #bagaimana #pergerakan #bursa #jumat