Cegah Hipertensi Anak Sejak Dini, Atur Gaya Hidupnya
Ilustrasi hipertensi. Studi kesehatan berskala jutaan orang mengungkap hampir semua serangan jantung dan stroke didahului faktor risiko yang sebenarnya bisa dicegah sejak dini.(Freepik)
15:24
22 Mei 2026

Cegah Hipertensi Anak Sejak Dini, Atur Gaya Hidupnya

- Hasil cek kesehatan gratis (CKG) pada periode 1 Januari-3 Mei 2026 menunjukkan, setidaknya 13 persen anak sekolah dasar (SD) terdeteksi hipertensi. 

Meski hasil itu perlu pemeriksaan lebih lanjut, apakah karena faktor hormonal, atau takut bertemu dengan tenaga medis, namun pola hidup sehat yang dimiliki anak juga bisa jadi penyebab tekanan darah anak meningkat.

Gaya hidup yang kurang bergerak dan sering mengonsumsi makanan tinggi garam, gula, dan lemak, perlu dibatasi. Jika dibiarkan terus-menerus, anak akan tumbuh dewasa dengan membawa risiko penyakit kardiovaskular bawaan, seperti hipertensi.

Ketua Perhimpunan Hipertensi Indonesia (InaSH), dr. Eka Harmeiwaty, Sp.S(K), mengingatkan perlunya edukasi gaya hidup sebagai bentuk pencegahan primer agar penyakit tersebut tidak telanjur berkembang.

Baca juga: BPJS Kesehatan Mulai Fokus Cegah Diabetes dan Hipertensi di Usia Muda

"Jadi, anak-anak perlu diajari pola olahraga, pola hidup sehat. Anak-anak itu rawan-rawannya (jajan sembarangan) kan umur 10 tahun. Itu (gaya hidup sehat) paling bagus diberikan pada usia enam sampai delapan tahun," katanya dalam acara peluncuran tensimeter Omron SF Series di Jakarta Selatan, Rabu (20/5/2026).

Waspadai dampak garam berlebih pada anak

Memiliki pola makan sehat bisa dilakukan dengan membatasi asupan garam. Orangtua bisa mengajarkan sejak dini, bahkan saat anak mulai mendapatkan makanan pendamping ASI (MPASI).

"Lidah itu memori, sehingga terekam (di otak anak)," terang dr. Eka.

Mengenalkan cita rasa asin dan manis yang berlebihan pada usia batita dapat membuat anak akan terus mencari makanan dengan rasa tersebut.

Baca juga: 4 Cara Mengurangi Rasa Asin pada Makanan

Ketua Perhimpunan Hipertensi Indonesia (InaSH), dr. Eka Harmeiwaty, Sp.S(K), dalam acara peluncuran tensimeter Omron SF Series di Jakarta Selatan, Rabu (20/5/2026).Kompas.com / Nabilla Ramadhian Ketua Perhimpunan Hipertensi Indonesia (InaSH), dr. Eka Harmeiwaty, Sp.S(K), dalam acara peluncuran tensimeter Omron SF Series di Jakarta Selatan, Rabu (20/5/2026).

Asupan sodium yang tidak dikontrol dengan baik sejak masa pertumbuhan akan memberikan beban yang berat bagi sistem sirkulasi darah dan jantung.

"Jadi, kerusakan endotel yang akan menjadi cikal bakal hipertensi, stroke, gagal jantung, itu sudah dimulai sejak lahir," tutur dr. Eka.

Baca juga: Studi Baru: Teh Hijau Berpotensi Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Lawan gaya hidup sedentari dan risiko obesitas akibat gawai

Gaya hidup aktif bergerak juga harus dibiasakan sejak dini.  Terlalu banyak duduk atau sedentari ini perlahan mengikis ketahanan fisik anak, dan memicu masalah penumpukan kalori sejak mereka masih duduk di bangku prasekolah.

"Anak-anak sekarang banyak yang gendut-gendut, main HP, main gadget, enggak ada aktivitasnya. Obesitas meningkat," terang dr. Eka.

Penumpukan lemak berlebih dapat mengganggu metabolisme tubuh dan memicu berbagai masalah kesehatan, seperti diabetes tipe 2, tekanan darah tinggi, kolesterol tinggi, penyakit jantung, hingga gangguan pernapasan.

Obesitas pada anak juga sering berlanjut hingga dewasa, sehingga risiko penyakit kronis menjadi semakin besar

Selain itu, dr.Eka juga mengingatkan pentingnya menghindari konsumsi rokok, baik sebagai perokok aktif atau pasif.

"Sangat menyedihkan kalau kami tenaga kesehatan melihat anak-anak SD merokok," tutur dr. Eka.

Baca juga: Hipertensi dan Diabetes Kini Banyak Menyerang Usia Produktif, BPJS Soroti Pentingnya Deteksi Dini

Tag:  #cegah #hipertensi #anak #sejak #dini #atur #gaya #hidupnya

KOMENTAR