Subsidi Kendaraan Listrik 200.000 Unit Dinilai Dorong Industri Baterai NMC
Ilustrasi kendaraan listrik atau electric vehivle (EV). (Dok. Freepik)
16:36
22 Mei 2026

Subsidi Kendaraan Listrik 200.000 Unit Dinilai Dorong Industri Baterai NMC

 Pemerintah berencana menggulirkan subsidi kendaraan listrik atau electric vehicle (EV) untuk 200.000 unit mobil dan motor listrik mulai Juni 2026.

Kebijakan tersebut dinilai menjadi momentum penting untuk memperkuat ekosistem kendaraan listrik nasional, terutama industri baterai berbasis nickel manganese cobalt (NMC).

Pengamat energi sekaligus Project Coordinator ENTREV, Eko Adji Buwono, mengatakan penguatan ekosistem EV perlu dibarengi insentif kendaraan listrik berbasis nikel secara berkelanjutan.

Insentif jangka panjang dinilai penting agar industri memiliki kepastian dalam berinvestasi.

"Insentif jangka panjang masih sangat penting dan masih diperlukan supaya ada kepercayaan industri pengguna baterai kendaraan listrik terhadap kepastian rantai pasok dan harga yang kompetitif," ujar Eko dalam keterangannya, Kamis (22/5/2026).

Baca juga: Harga Minyak Naik Imbas Konflik di Timur Tengah, EV Kian Laku

Skema yang disiapkan pemerintah menyebut kendaraan listrik berbasis baterai NMC akan memperoleh fasilitas Pajak Pertambahan Nilai Ditanggung Pemerintah (PPN DTP) sebesar 100 persen.

Kendaraan listrik dengan baterai tanpa nikel mendapat PPN DTP sebesar 40 persen.

Pemerintah juga menyiapkan subsidi pembelian motor listrik sebesar Rp 5 juta per unit.

Eko menilai insentif tidak seharusnya hanya diberikan kepada konsumen kendaraan listrik.

Insentif juga perlu menyasar industri hulu hingga hilir baterai EV berbasis NMC.

Menurut Eko, dukungan fiskal perlu diberikan mulai dari smelter, industri precursor, cathode, hingga manufaktur sel baterai.

Dukungan tersebut dinilai penting agar rantai pasok kendaraan listrik nasional semakin kuat.

“Pemerintah perlu menghadirkan kebijakan yang konsisten dalam jangka panjang, setidaknya selama 3-5 tahun, agar pelaku industri memiliki kepastian dalam membangun rantai pasok industri baterai kendaraan listrik berbasis NMC di dalam negeri," ungkapnya.

Baca juga: Honda Catat Kerugian Pertama dalam Hampir 70 Tahun, EV Jadi Sebab

Kebijakan yang konsisten dinilai semakin penting karena pasar kendaraan listrik Indonesia tumbuh signifikan.

Data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) menunjukkan penjualan battery electric vehicle (BEV) mencapai 56.204 unit pada 2024.

Angka tersebut meningkat menjadi 114.413 unit sepanjang 2025.

Pasar kendaraan listrik memang masih didominasi baterai lithium iron phosphate (LFP).

Namun, pertumbuhan kendaraan berbasis NMC mulai meningkat pesat.

Penjualan EV berbasis NMC atau NCMA tercatat sebanyak 9.390 unit pada 2024. Jumlah tersebut setara sekitar 16,7 persen dari total pasar.

Angkanya naik menjadi 26.069 unit pada 2025, atau sekitar 22,8 persen dari total penjualan EV nasional.

Dengan demikian, penjualan EV berbasis NMC tumbuh 177,6 persen sepanjang 2025.

Pertumbuhan itu lebih tinggi dibandingkan kendaraan listrik berbasis LFP yang tumbuh 88,7 persen.

Eko menekankan momentum tersebut perlu dijaga melalui kebijakan fiskal yang lebih komprehensif.

Kebijakan tersebut dibutuhkan untuk mendukung pengembangan industri baterai NMC nasional.

Eko menilai pemerintah perlu memberikan stimulus tambahan, seperti Pajak Penjualan atas Barang Mewah Ditanggung Pemerintah (PPnBM DTP), pembebasan bea masuk, hingga PPN DTP.

Stimulus itu juga perlu dikaitkan langsung dengan pengembangan teknologi baterai NMC beserta seluruh komponennya.

Selain itu, pemerintah dinilai perlu memberikan tax allowance maupun royalty allowance bagi industri precursor berbasis sumber daya alam mineral logam dan logam dalam negeri.

Eko juga mendorong percepatan pembangunan kawasan ekonomi khusus (KEK) baterai NMC di wilayah Indonesia timur.

Kawasan tersebut diharapkan dapat menghasilkan produk hilir yang terintegrasi.

"Pembangunan KEK baterai NMC perlu diteruskan sampai jadi produk hilir yang terintegrasi, termasuk membangun infrastruktur fasilitas impor-ekspor maupun distribusi produksi," pungkas Eko.

Tag:  #subsidi #kendaraan #listrik #200000 #unit #dinilai #dorong #industri #baterai

KOMENTAR