Toshifumi Suzuki, “Bapak” Convenience Store Jepang, Meninggal di Usia 93 Tahun
Ilustrasi gerai 7-Eleven di Tokyo, Jepang.(WIKIMEDIA COMMONS/ALEISTER KELMAN)
11:48
25 Mei 2026

Toshifumi Suzuki, “Bapak” Convenience Store Jepang, Meninggal di Usia 93 Tahun

Toshifumi Suzuki, mantan chairman Seven & i Holdings sekaligus sosok yang dikenal sebagai “bapak industri convenience store Jepang”, meninggal dunia pada usia 93 tahun.

Dikutip dari Reuters, perusahaan mengumumkan Suzuki meninggal karena gagal jantung pada 18 Mei 2026. Informasi tersebut disampaikan Seven & i Holdings pada Senin (25/5/2026).

Nama Suzuki dikenal luas karena perannya membangun jaringan minimarket 7-Eleven di Jepang hingga menjadi salah satu model bisnis ritel paling sukses di dunia.

Baca juga: Ekonomi China Lesu, Penjualan Ritel April 2026 Melambat

Ilustrasi gerai 7-Eleven di Jepang.WIKIMEDIA COMMONS Ilustrasi gerai 7-Eleven di Jepang.

Reuters melaporkan, Suzuki merupakan pendiri Seven-Eleven Jepang pada 1973 setelah menjalin kerja sama dengan Southland Corp, operator asal Amerika Serikat yang saat itu mengelola merek 7-Eleven.

Toko pertama 7-Eleven di Jepang kemudian dibuka di Tokyo pada 1974.

Di bawah kepemimpinannya, konsep convenience store berkembang jauh melampaui toko kebutuhan harian biasa.

Suzuki memperkenalkan sistem pengelolaan stok berbasis data serta pola distribusi yang memungkinkan pengiriman barang beberapa kali dalam sehari sesuai kebutuhan tiap wilayah.

Baca juga: Model Ritel Berbasis Ekosistem Dinilai Jadi Kunci Pertumbuhan Bisnis

Model tersebut kemudian menjadi fondasi utama keberhasilan jaringan convenience store Jepang yang dikenal sangat efisien.

Mengubah wajah industri ritel Jepang

Suzuki lahir di Prefektur Nagano pada 1932. Ia memulai kariernya di perusahaan ritel Ito-Yokado pada 1963 sebelum membawa lisensi 7-Eleven ke Jepang satu dekade kemudian.

Langkah tersebut dinilai menjadi titik balik industri ritel modern Jepang.

Reuters menyebut Suzuki berhasil mengubah sektor ritel Jepang melalui ekspansi model waralaba convenience store.

Ilustrasi belanja di supermarket.Unsplash Ilustrasi belanja di supermarket.

Baca juga: Sudah 40 Tahun Berbisnis, Bos Indomaret Ngaku Masih Bingung dengan Industri Ritel ...

Ia juga dikenal sebagai tokoh yang mendorong penggunaan analitik konsumen dalam bisnis ritel jauh sebelum praktik itu menjadi standar industri.

Di bawah kepemimpinannya, Seven-Eleven Jepang berkembang menjadi bagian penting kehidupan masyarakat Jepang.

Minimarket tidak hanya menjual makanan dan kebutuhan harian, tetapi juga menyediakan berbagai layanan seperti pembayaran tagihan hingga distribusi produk siap saji.

Salah satu inovasi Suzuki adalah fokus pada makanan siap santap berkualitas tinggi yang disesuaikan dengan kebutuhan konsumen lokal.

Pendekatan tersebut membantu convenience store Jepang berkembang menjadi pusat kebutuhan sehari-hari masyarakat urban.

Baca juga: Airlangga: Omzet Industri Ritel di Jakarta Bisa Capai Rp 700 Triliun

Reuters juga mencatat Suzuki dikenal sangat detail dalam membaca perilaku konsumen. Ia mendorong toko untuk melakukan restocking berdasarkan pola permintaan lokal, bukan sekadar distribusi massal standar nasional.

Menyelamatkan perusahaan induk 7-Eleven di AS

Tidak hanya membesarkan bisnis di Jepang, Suzuki juga berperan penting dalam menyelamatkan Southland Corp di Amerika Serikat pada awal 1990-an.

Saat itu, operator asli 7-Eleven tersebut menghadapi kesulitan keuangan dan berada dalam proses kebangkrutan.

Reuters melaporkan Suzuki menjadi salah satu tokoh utama yang membantu penyelamatan perusahaan tersebut.

Baca juga: Aprindo: Emiten Industri Ritel Sudah Mulai Dilirik Investor Global

Langkah itu memperkuat posisi Seven-Eleven Jepang dalam struktur bisnis global merek 7-Eleven.

Ilustrasi gerai 7-Eleven.WIKIMEDIA COMMONS/DINKUN CHEN Ilustrasi gerai 7-Eleven.

Pada 2005, Suzuki membentuk Seven & i Holdings sebagai holding ritel besar yang menaungi berbagai bisnis perusahaan, termasuk convenience store, supermarket, dan layanan ritel lainnya.

Di bawah Seven & i Holdings, jaringan 7-Eleven terus melakukan ekspansi internasional dan memperkuat dominasi di pasar convenience store global.

Mundur setelah konflik internal

Meski dikenal sebagai sosok visioner, perjalanan Suzuki di pucuk pimpinan perusahaan tidak selalu mulus.

Baca juga: Aprindo: Industri Ritel Sudah Menunjukkan Tanda-tanda yang Baik

Dikutip dari Time, pada 2016, ia mengundurkan diri dari posisi chairman dan CEO Seven & i Holdings setelah kalah dalam pertarungan internal perusahaan terkait suksesi kepemimpinan.

Reuters sebelumnya melaporkan Suzuki ingin melakukan perubahan manajemen, tetapi usulannya ditolak dewan direksi perusahaan. Penolakan tersebut kemudian memicu pengunduran dirinya.

"Ini adalah kekurangan kebajikan saya dan saya sangat malu,” tutur Suzuki, saat menjelaskan keputusannya mundur dari jabatan CEO.

Pengunduran dirinya menjadi perhatian luas karena Suzuki telah menjadi figur dominan dalam industri ritel Jepang selama puluhan tahun.

Baca juga: Banjir Jabodetabek, Bisnis Ritel dan Logistik yang Paling Terdampak

Warisan bisnis convenience store modern

Keberhasilan Suzuki membangun 7-Eleven Jepang sering dianggap sebagai salah satu transformasi bisnis paling berpengaruh dalam industri ritel Asia.

Model bisnis yang ia bangun kemudian banyak ditiru perusahaan ritel lain di berbagai negara, terutama terkait efisiensi distribusi, pengelolaan stok berbasis data, serta integrasi layanan harian dalam toko kecil.

7-Eleven Jepang juga dikenal memiliki sistem logistik yang sangat cepat dan presisi.

Toko dapat menerima pengiriman produk segar beberapa kali sehari untuk menjaga kualitas makanan siap saji dan menyesuaikan pola konsumsi masyarakat.

Baca juga: Bisnis Ritel Kolaps, Konsumen Pilih Home Industry dan Toko Online

Selain itu, Suzuki dikenal sebagai sosok yang gemar membaca dan aktif mempelajari perubahan perilaku konsumen.

Reuters melaporkan pendekatan tersebut membantu dirinya melihat peluang bisnis baru lebih cepat dibanding pesaing.

Warisan Suzuki tidak hanya terlihat pada besarnya jaringan 7-Eleven di Jepang, tetapi juga pada perubahan budaya belanja masyarakat yang kini sangat bergantung pada convenience store.

Di Jepang, convenience store berkembang menjadi bagian penting infrastruktur perkotaan. Gerai-gerai tersebut beroperasi hampir tanpa henti dan menyediakan berbagai kebutuhan sehari-hari dalam jarak dekat dari permukiman warga.

Baca juga: Kemasan Kecil, Penentu Perubahan Bisnis Ritel di Asia

Peran convenience store bahkan semakin penting saat terjadi bencana alam atau kondisi darurat karena jaringan distribusinya yang cepat dan tersebar luas.

Suzuki berhasil menjadikan convenience store sebagai pusat layanan masyarakat modern, bukan sekadar toko kecil penjual makanan ringan.

Tag:  #toshifumi #suzuki #bapak #convenience #store #jepang #meninggal #usia #tahun

KOMENTAR