Aset Emas Dijual Massal, Harganya Terancam Turun?
Ilustrasi investasi emas, gambar emas batangan. (Tim Desain Suara.com)
08:48
26 Mei 2026

Aset Emas Dijual Massal, Harganya Terancam Turun?

Tren pelepasan aset logam mulia secara masif oleh sejumlah bank sentral global memasuki babak baru. Otoritas moneter Rusia kini mulai mencairkan cadangan emas batangan miliknya sebagai langkah taktis menghadapi impitan biaya perang di Ukraina, pembengkakan pos defisit anggaran belanja negara, serta merosotnya pundi-pundi pendapatan dari sektor ekspor energi murni.

Melansir draf laporan finansial Kitco, langkah likuidasi ini memicu atensi besar dari para pelaku pasar komoditas internasional.

Pasalnya, selama dua puluh tahun ke belakang, Negeri Beruang Putih tersebut dikenal secara global sebagai salah satu kekuatan utama pengumpul emas terbesar demi mempertebal cadangan devisa sekaligus memitigasi ketergantungan terhadap dolar Amerika Serikat (AS).

Berdasarkan draf rilis data berkala Bank Sentral Rusia (Central Bank of Russia/CBR), total kepemilikan emas negara tersebut per 1 Mei 2026 menyusut ke angka 73,9 juta ons troi. Dalam kurun waktu satu bulan terakhir saja, Moskow tercatat telah melepas sedikitnya 200 ribu ons troi logam mulia ke pasar.

Secara akumulatif, sejak awal tahun anggaran berjalan, tabungan emas Rusia sudah tergerus sekitar 900 ribu ons troi atau setara dengan 27,9 ton.

Angka penurunan ini tercatat sebagai yang paling drastis sejak tahun 2002 silam, sekaligus melempar posisi cadangan emas Rusia ke level terendahnya sejak bulan Maret 2022. Kombinasi beban biaya operasi militer di Ukraina serta blokade sanksi ekonomi dari dunia internasional diidentifikasi sebagai faktor utama pergeseran strategi moneter ini.

Analis dari Freedom Finance Global, Natalia Milchakova, memaparkan bahwa penjualan aset safe haven ini mendesak dilakukan guna menambal lubang defisit APBN pemerintah Rusia yang posisinya telah membengkak hingga 4,6 triliun rubel pada akhir kuartal I-2026.

“Tanpa adanya intervensi pasokan dana dari bank sentral di kala pendapatan dari sektor minyak dan gas bumi sedang loyo, angka defisit anggaran belanja negara berisiko melambung melampaui 5 triliun rubel,” jelas Milchakova dalam keterangannya kepada The Moscow Times.

Selain untuk urusan penyeimbangan pos fiskal, hasil pencairan emas tersebut juga dikonversi oleh Kremlin untuk memperkuat likuiditas cadangan mata uang asing mereka, terutama dalam bentuk yuan China, guna mengompensasi lesunya kinerja ekspor pada awal tahun.

Di tengah himpitan ekonomi makro, minat masyarakat dan korporasi domestik Rusia terhadap emas justru meledak tinggi.

Data dari bursa efek Moscow Exchange mengonfirmasi bahwa volume transaksi perdagangan emas pada bulan April melonjak drastis di atas 350% secara tahunan (year-on-year) menjadi 42,6 ton.

Jika dikalkulasikan ke dalam mata uang lokal, nilai perputaran uang di sektor fisik emas ini melesat hampir 500% hingga menyentuh angka 534,4 miliar rubel (setara sekitar USD 7,1 miliar).

Pakar komoditas dari Finam, Nikolai Dudchenko, menilai fenomena ini menunjukkan draf pergeseran pola di mana banyak bank sentral negara berkembang mulai mengoptimalkan aset emas mereka untuk membiayai kebutuhan anggaran darurat, pos belanja pertahanan, hingga intervensi stabilitas nilai tukar mata uang domestik dari guncangan eksternal.

Uniknya, kendati volume fisik cadangan emas Rusia menyusut secara kuantitas, nilai valuasi total kepemilikan emas negara tersebut tetap membukukan kenaikan berkat reli kenaikan harga emas di pasar global.

Pada Januari lalu, nilai buku cadangan emas Rusia justru melonjak 23% menjadi USD 402,7 miIiar setelah harga komoditas ini sempat memecahkan rekor tertinggi sepanjang masa (all-time high/ATH) di level USD 5.608,35 per ons troi.

Di sektor perdagangan bilateral, jalur ekspor emas batangan dari Rusia menuju China juga dilaporkan terus mengalami grafik peningkatan.

Laporan dari Bloomberg mengindikasikan volume pengapalan logam mulia Rusia ke Negeri Tirai Bambu sempat melonjak hingga dua kali lipat pada pertengahan tahun lalu. Hingga saat ini, Rusia tetap mengukuhkan posisinya sebagai negara produsen emas terbesar kedua di dunia setelah China, dengan kapasitas produksi tahunan menembus angka di atas 300 ton.

Editor: M Nurhadi

Tag:  #aset #emas #dijual #massal #harganya #terancam #turun

KOMENTAR