China Salip Jepang, Kini Jadi Negara Kreditur Terbesar Asia
- China dinobatkan sebagai kreditur terbesar di benua Asia kalahkan Jepang tahun 2025.
Beijing mempunyai aset eksternal bersih sebesar 636,3 triliun yen (sekitar Rp 71,1 kuadriliun).
Sementara Jepang, punya 561,75 triliun yen (Rp 62,7 kuadriliun). Hal ini membuat posisi Tokyo harus tergeser pertama kalinya dari kreditur nomor 1 di Asia.
Tahun 2024 pun, posisi nomor 1 negara kreditur terbesar dunia direbut Jerman dari tangan Jepang.
Baca juga: Tiongkok Bangun Lebih 30 Ribu Koperasi Setahun, Quo Vadis?
International Monetary Fund (IMF) mencatat, Jerman memiliki aset eksternal bersih senilai 675,5 triliun yen (Rp 75,4 kuadriliun).
"Setelah kehilangan posisi teratas kepada Jerman tahun sebelumnya untuk pertama kalinya dalam 34 tahun, Jepang kini telah menyerahkan posisinya sebagai kreditur terbesar kedua di dunia kepada China, dan turun ke peringkat ketiga dalam peringkat global," lapor Reuters, Selasa (26/5/2026).
Baca juga: Mentan Amran Lepas Ekspor Produk Kelapa Malut ke Tiongkok, Bukti Keberhasilan Hilirisasi Daerah
Urutan saat ini kreditur terbesar dunia ialah Jerman, China, dan Jepang.
Perlambatan pertumbuhan aset eksternal bersih menjadi faktor tergusurnya Jepang.
Ditambah nilai sekuritas Jepang yang dipegang investor non-residen sebesar 62,2 triliun yen (Rp 6,9 kuadriliun) mengurangi aset bersih eksternal negara tersebut.
Baca juga: Ekspor Tiongkok Melesat, Pengiriman ke ASEAN Lampaui Penurunan dari AS
Ambisi China
Asia Financial (2025) melaporkan jika sejak tahun lalu, Tiongkok berambisi meningkatkan pinjamannya ke negara-negara berpenghasilan tinggi.
Mereka mulai mengalihkan sasaran debitur dari negara berkembang dan Amerika Serikat (AS) menjadi negara penerima pinjaman terbesarnya saat ini.
Terkhusus negara berkembang, China menyediakan pendanaan tersendiri dalam program Belt and Road Initiative (BRI), sebuah jalur perdagangan jarak jauh menghubungkan Fuzhou-Rotterdam melalui darat maupun laut.
Baca juga: Transformasi Budaya Kopi Tiongkok
"Sebagian besar pinjaman ke negara-negara kaya difokuskan pada infrastruktur penting, mineral penting, dan akuisisi aset teknologi tinggi seperti perusahaan semikonduktor,” kata Brad Parks, direktur eksekutif AidData yang meneliti perkembangan China kepada Asia Financial.
Disinyalir ekspansi pinjaman China terus berlanjut dengan menyasar perusahaan-perusahaan besar negara Barat.
Baca juga: Luhut: Indonesia Mampu Pertahankan Ekonomi Tak Lepas dari Kerja Sama Hebat dengan Tiongkok
Tag: #china #salip #jepang #kini #jadi #negara #kreditur #terbesar #asia