Lewat Internet Rakyat, WIFI Bidik 70 Juta Rumah Tangga Indonesia
Ilustrasi Internet Rakyat. (Surge.co.id)
20:16
26 Mei 2026

Lewat Internet Rakyat, WIFI Bidik 70 Juta Rumah Tangga Indonesia

- PT Solusi Sinergi Digital Tbk (WIFI) optimistis layanan Internet Rakyat (IRA) mampu menjadi pemain baru yang mengubah peta persaingan industri fixed broadband nasional.

Dengan menyasar segmen masyarakat menengah ke bawah yang selama ini belum terjangkau internet rumah, perusahaan membidik pasar lebih dari 70 juta rumah tangga di Indonesia.

IRA sendiri resmi diluncurkan WIFI melalui anak usahanya, PT Telemedia Komunikasi Pratama (Telemedia). Layanan itu secara serentak meluncur di regional I yang mencakup wilayah Pulau Jawa, Maluku, dan Papua.

Direktur Utama Telemedia sekaligus Direktur WIFI, Shannedy Ong, mengatakan pasar fixed broadband Indonesia masih sangat besar karena tingkat penetrasinya baru berada di kisaran 20-22 persen.

Baca juga: WIFI Luncurkan Internet Rakyat 100 Mbps Hanya Rp 100.000

“IRA ini menyasar menengah ke bawah. Ceruk pasar di Indonesia itu semuanya itu penetrasi 20 persen itu, itu hanya ke premium. Yang kue yang menengah ke bawah ini, ini masih benar-benar unconnected atau underserved. Nah itu kue yang akan kita sasar dengan IRA internet terjangkau ini,” ujar Shannedy Ong disela-sela peluncuran IRA, Selasa (26/5/2026).

Menurutnya, angka penetrasi internet di dalam negeri yang saat ini mencapai 85 persen, sebagian besar masih berasal dari penggunaan mobile internet, bukan internet rumah berbasis fixed broadband.

Ia menilai kondisi tersebut membuka peluang besar bagi IRA untuk masuk ke pasar masyarakat menengah ke bawah yang selama ini masih belum terkoneksi atau underserved.

“Penetrasi internet 85 persen di Indonesia ini adalah penetrasi mobile, bukan penetrasi fixed broadband internet di rumah. Makanya Indonesia kita ketinggalan jauh dengan negara tetangga kita, karena penetrasi kita hanya 20-22 persen, sedangkan di negara tetangga kita sudah lebih dari 50 persen,” paparnya.

Melalui layanan internet rumah berkecepatan hingga 100 Mbps dengan tarif Rp 100.000 per bulan, perusahaan optimistis dapat meningkatkan penetrasi fixed broadband nasional, sekaligus memperluas basis pelanggan secara agresif.

Potensi pasar tersebut juga akan berdampak signifikan terhadap pendapatan perusahaan apabila berhasil dikonversi menjadi pelanggan aktif.

Ia mencontohkan, apabila layanan IRA mampu menjangkau sekitar 5 juta pelanggan di 2026, maka potensi total pendapatan perusahaan dapat dihitung dari akumulasi jumlah tersebut.

“Artinya 100.000, taruh lah misalnya 5 juta pelanggan harga tahun ini, mungkin tahun depan ada berapa juta lagi kan bisa dihitung sendiri total revenue-nya berapa,” sebut dia.

Di tengah ketatnya persaingan industri internet service provider (ISP), ia menilai IRA memiliki pendekatan bisnis berbeda dibanding pemain existing. Perusahaan melakukan rekonstruksi menyeluruh terhadap model bisnis, desain jaringan, hingga strategi distribusi agar dapat menghadirkan layanan internet murah tanpa mengorbankan kualitas.

“Kami mempelajari semua business model dan design dari pemain-pemain ISP dalam lima sampai 10 tahun terakhir. Approach kami berbeda,” lanjutnya.

Salah satu strategi efisiensi yang dilakukan perusahaan adalah penggunaan desain jaringan dan split ratio berbeda dibanding operator lain.

Selain itu, perusahaan juga menggandeng ISP lokal melalui skema revenue sharing untuk memperluas penetrasi pasar secara lebih efisien.

Apabila perusahaan menggunakan pendekatan lama seperti yang dilakukan mayoritas operator existing, maka layanan internet Rp 100.000 per bulan sulit diwujudkan.

Baca juga: Hashim Sebut Internet Rakyat dan Perumahan Jadi Pendorong Pertumbuhan Ekonomi Indonesia

Tag:  #lewat #internet #rakyat #wifi #bidik #juta #rumah #tangga #indonesia

KOMENTAR