Rupiah Terus Tersungkur Menuju Rp 18.000, PT DSI Digadang Jadi Penyelamat...
Ilustrasi rupiah dan dollar AS(THINKSTOCKS)
09:16
29 Mei 2026

Rupiah Terus Tersungkur Menuju Rp 18.000, PT DSI Digadang Jadi Penyelamat...

- Mei 2026 menjadi bulan yang berat bagi rupiah. Nilai tukar mata uang Garuda terus merosot dan menembus satu demi satu level psikologis terhadap dollar Amerika Serikat (AS).

Pada 4 Mei 2026, rupiah menyentuh Rp 17.400 per dollar AS. Tekanan berlanjut ketika kurs menembus Rp 17.500 pada 12 Mei, lalu melemah lagi ke level Rp 17.600 pada 15 Mei 2026.

Tren negatif belum berhenti. Rupiah kembali jatuh ke level Rp 17.700 pada 18 Mei dan menyentuh Rp 17.800 per dollar AS pada 27 Mei 2026.

Puncaknya terjadi pada perdagangan Kamis (28/5/2026), ketika rupiah sempat menyentuh Rp 17.900 per dollar AS sebelum akhirnya ditutup di posisi Rp 17.845 per dollar AS.

Baca juga: PT DSI Dibentuk, Pemerintah Yakin Rupiah Bisa Rp 16.900 Per Dollar AS

Bayang-bayang Rupiah Rp 18.000

Analis mata uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi memperkirakan tekanan terhadap rupiah masih akan berlanjut dan semakin mendekati level Rp 18.000 per dollar AS.

“Kemungkinan pembukaan pasar besok di hari Jumat (29/5/2026) rupiah ini akan mendekati level Rp 18.000. Kemungkinan besar,” ujar Ibrahim.

Menurut dia, tekanan global menjadi faktor utama. Ketegangan geopolitik di Timur Tengah dan Eropa Timur membuat investor memburu aset safe haven seperti dollar AS.

Konflik yang melibatkan Iran, AS, dan Israel juga memicu kekhawatiran terhadap distribusi energi dunia, terutama di kawasan Selat Hormuz. Situasi itu mendorong harga minyak mentah dunia jenis West Texas Intermediate (WTI) mendekati 96 dollar AS per barrel.

Kenaikan harga energi dinilai dapat memicu inflasi global dan membuat bank sentral AS, The Federal Reserve, mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama. Akibatnya, indeks dollar AS kembali menguat terhadap mayoritas mata uang dunia, termasuk rupiah.

Baca juga: Rupiah Tembus Rp 17.800, IHSG dan Saham Bank Besar Dibayangi Tekanan

Dari dalam negeri, Ibrahim menilai tekanan terhadap rupiah dipicu tingginya kebutuhan dollar AS untuk impor minyak, pembayaran dividen perusahaan, hingga kewajiban utang luar negeri yang jatuh tempo.

“Kebutuhan dollar AS yang tinggi akibat impor minyak yang cukup besar, kemudian kita melihat juga tentang masalah pembayaran dividen, kemudian masyarakat yang memindahkan tabungannya ke valas, kemudian tentang masalah utang jatuh tempo yang bunganya Rp 600 triliun,” kata Ibrahim.

Dia juga menyoroti program pemerintah seperti MBG dan Koperasi Merah Putih yang dinilai memicu kekhawatiran pasar terhadap kondisi fiskal dan tata kelola anggaran negara.

“Walaupun MBG sekarang itu sudah sedikit dihentikan sebagian, tetapi rupanya sekarang pasar tertuju terhadap Koperasi Merah Putih yang manajemennya amburadul, yang kemungkinan besar ini akan merugikan negara sebesar total Rp 45 triliun,” ujarnya.

Menurut Ibrahim, sentimen tersebut memengaruhi kepercayaan investor asing dan mendorong arus modal keluar dari pasar domestik.

Baca juga: Rupiah Melemah, Industri Impor hingga Perbankan Siap-siap Tertekan pada Semester II-2026

Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI) Disiapkan Jadi Penopang

Di tengah tekanan terhadap rupiah, pemerintah membentuk PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI). Entitas itu disiapkan sebagai kendaraan khusus untuk mengelola dan mengoptimalkan aset sumber daya alam strategis nasional.

Tenaga Ahli Utama Badan Komunikasi Indonesia Fithra Faisal mengatakan, DSI akan fokus membenahi pencatatan ekspor komoditas guna memperkuat devisa negara dan menopang stabilitas rupiah.

Menurut dia, Presiden Prabowo Subianto telah memberikan perhatian khusus terhadap praktik under-invoicing sejak sekitar satu setengah tahun terakhir.

Baca juga: Pengamat Sebut PT DSI Bisa Cegah Modus Under Invoicing Ekspor Komoditas

Berdasarkan kajian internal kabinet, praktik tersebut diduga menyebabkan hilangnya potensi kekayaan negara hingga Rp 15.400 triliun sepanjang 1991-2024.

Nilai itu setara sekitar 64 persen dari produk domestik bruto (PDB) Indonesia saat ini yang mencapai Rp 24.000 triliun.

Pemerintah menargetkan 10-20 persen dana dari praktik under-invoicing dapat kembali masuk ke dalam negeri.

Jika terealisasi, tambahan devisa diperkirakan mencapai 44 miliar dollar AS atau setara Rp 783,2 triliun dengan asumsi kurs Rp 17.800 per dollar AS.

“Ini dapat memperkuat posisi nilai tukar rupiah ke level Rp 16.900 per dollar AS,” ujar Fithra.

Baca juga: Tertibkan Pencatatan Ekspor, DSI Diprediksi Perkuat Cadangan Devisa

Menurut dia, pembenahan tata kelola pencatatan ekspor dapat memberikan dampak besar terhadap perekonomian nasional.

“Dengan adanya pencatatan yang lebih tertib, dengan mencatat saja, kita bisa mendapatkan potensi baseline tambahan pertumbuhan ekonomi 0,8 persen,” kata Fithra.

Selama enam bulan terakhir, pemerintah disebut telah menyiapkan operasional DSI agar berjalan profesional dan akuntabel.

Model badan konsolidasi ekspor tersebut juga disebut memiliki preseden di sejumlah negara seperti Qatar, Saudi, Malaysia, dan India.

Baca juga: Danantara Sumberdaya Indonesia Resmi Berstatus BUMN

Tag:  #rupiah #terus #tersungkur #menuju #18000 #digadang #jadi #penyelamat

KOMENTAR