Dollar Singapura Tembus Rp 14.000, Masyarakat Menengah RI Kena Imbas
- Nilai tukar dollar Singapura terhadap rupiah terus menunjukkan penguatan. Pada perdagangan siang hari ini, Jumat (29/5/2026). Mata uang Negeri Singa telah mencapai level Rp 14.000 per dollar Singapura.
Penguatan dollar Singapura tersebut dinilai memberikan dampak langsung terhadap masyarakat Indonesia, mulai dari biaya pendidikan, kesehatan, hingga perjalanan ke Singapura yang semakin mahal.
Pengamat ekonomi dari Universitas Airlangga Rahma Gafmi mengatakan, selama ini perhatian publik lebih banyak tertuju pada penguatan dollar Amerika Serikat (AS) terhadap rupiah. Padahal, tekanan terhadap rupiah juga datang dari penguatan dollar Singapura yang terus mencetak rekor baru.
"Fenomena ini membuktikan bahwa masalah yang dihadapi rupiah bukan sekadar soal dominasi global AS, melainkan adanya divergensi kekuatan ekonomi yang nyata di level regional," ujar Rahma dalam keterangannya, dikutip Jumat.
Baca juga: Rupiah Masih Melemah, Bank Patok Dollar AS hingga Rp 18.000
Menurutnya, pelemahan rupiah terhadap dollar Singapura menjadi alarm bagi Indonesia karena Singapura merupakan pusat finansial regional sekaligus mitra utama perdagangan dan jasa bagi Indonesia.
Dampaknya akan paling dirasakan oleh masyarakat kelas menengah Indonesia yang banyak mengakses layanan pendidikan, kesehatan, dan pariwisata di Singapura. Ketika rupiah melemah terhadap dollar AS, biaya untuk memperoleh layanan tersebut otomatis ikut meningkat.
Selain itu, pelemahan rupiah terhadap dollar Singapura juga dinilai berdampak pada kenaikan biaya logistik dan impor barang di Indonesia. Pasalnya, Singapura selama ini menjadi pusat transit utama perdagangan kawasan Asia Tenggara.
Rahma menambahkan, biaya bongkar muat, pergudangan, dan jasa logistik di Singapura menggunakan dollar AS sehingga ketika rupiah melemah, ongkos distribusi barang ke Indonesia ikut membengkak.
"Sebagian besar barang modal, bahan baku, hingga komoditas energi yang diimpor Indonesia tidak datang langsung dari negara asal, melainkan transit atau dikonsolidasikan di pelabuhan Singapura," ucapnya.
Baca juga: Rupiah Lampaui Rp 17.860 per Dollar AS, Pasar Tunggu Langkah BI
Rahma juga menyoroti dampak terhadap harga energi domestik. Menurutnya, sebagian besar perdagangan dan pengolahan produk minyak di kawasan Asia menggunakan acuan pasar Singapura atau Mean of Platts Singapore (MOPS).
Karena itu, pelemahan rupiah terhadap dollar Singapura dinilai dapat menambah tekanan terhadap biaya subsidi energi maupun harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi yang pada akhirnya berisiko meningkatkan inflasi transportasi domestik.
Di sisi lain, Rahma mengungkapkan, salah satu faktor utama yang membuat dollar Singapura lebih tangguh dibanding rupiah adalah perbedaan strategi kebijakan moneter antara Indonesia dan Singapura.
Jika Bank Indonesia (BI) menggunakan suku bunga sebagai instrumen utama pengendalian inflasi, Monetary Authority of Singapore (MAS) justru menggunakan nilai tukar sebagai alat utama kebijakan moneter.
Singapura mengelola mata uangnya melalui mekanisme Nominal Effective Exchange Rate (NEER), yakni pengaturan dollar Singapura terhadap mata uang mitra dagang utama. Dalam kondisi inflasi global tinggi, MAS cenderung membiarkan dollar Singapura terapresiasi agar harga barang impor tetap murah dan inflasi domestik lebih terkendali.
Perbedaan mendasar ini, kata Rahma, yang menciptakan dinamika yang timpang. Kebijakan BI seringkali bersifat defensif yaitu menaikkan bunga untuk menjaga agar modal tidak keluar sedangkan kebijakan MAS bersifat proaktif-strategis dengan menggunakan kekuatan mata uang untuk membentengi ekonomi.
"Dampaknya terhadap Rupiah, adalah saat MAS memilih jalur apresiasi untuk menjaga ekonomi mereka, sementara Rupiah masih berjuang melawan defisit transaksi berjalan atau fluktuasi komoditas, maka secara otomatis cross-rate antara SGD dan Rupiah akan semakin melebar," jelas Rahma.
Tag: #dollar #singapura #tembus #14000 #masyarakat #menengah #kena #imbas