BPS: Impor RI Tembus Rp 1.545 T hingga April 2026, Apa yang Paling Banyak Masuk?
Ilustrasi impor RI hingga April 2026.(Istimewa)
13:28
2 Juni 2026

BPS: Impor RI Tembus Rp 1.545 T hingga April 2026, Apa yang Paling Banyak Masuk?

- Nilai impor Indonesia sepanjang Januari-April 2026 mencapai 86,51 miliar dollar AS (sekitar Rp 1.545,5 triliun dengan asumsi kurs Rp 17.864 per dollar AS). Angka tersebut meningkat 13,40 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Kenaikan impor terjadi pada komoditas migas maupun nonmigas. Di antara berbagai kelompok penggunaan, bahan baku dan penolong masih menjadi penyumbang terbesar impor nasional.

"Total nilai impor mencapai 86,51 miliar dollar AS atau naik 13,40 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu," ujar Deputi Bidang Metodologi dan Informasi Statistik BPS Pudji Ismartini dalam konferensi pers, Selasa (2/6/2026).

Secara rinci, impor migas tercatat sebesar 12,93 miliar dollar AS (sekitar Rp 230,9 triliun) atau naik 17,58 persen secara tahunan. Sementara itu, impor nonmigas mencapai 73,58 miliar dollar AS (sekitar Rp 1.314,6 triliun) atau meningkat 12,70 persen.

BPS mencatat, peningkatan impor terjadi pada seluruh golongan penggunaan. Namun, impor bahan baku dan penolong masih mendominasi dengan nilai mencapai 61,82 miliar dollar AS (sekitar Rp 1.104,9 triliun) atau naik 11,67 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Baca juga: BPS Sebut Harga Beras Naik di 111 Daerah, Imbas Stok Menipis

Menurut Pudji, kelompok bahan baku dan penolong memberikan andil terbesar terhadap kenaikan impor nasional, yakni sebesar 8,47 persen.

Adapun komoditas yang mencatat kenaikan impor cukup besar antara lain bahan bakar mineral, mesin dan perlengkapan elektrik beserta bagiannya, serta berbagai produk kimia.

Dari sisi negara asal, peningkatan impor terutama berasal dari China, Australia, kawasan ASEAN, dan Uni Eropa. Sebaliknya, impor dari Jepang tercatat mengalami penurunan.

Baca juga: BPS Minta Pemerintah Soroti Kenaikan Harga Bawang Merah

Bahan Baku dan Penolong Masih Mendominasi

Pada April 2026 saja, nilai impor Indonesia mencapai 25,21 miliar dollar AS (sekitar Rp 450,0 triliun) atau meningkat 22,49 persen dibandingkan April 2025.

Kenaikan tertinggi terjadi pada impor migas yang melonjak 82,52 persen secara tahunan menjadi 4,60 miliar dollar AS (sekitar Rp 82,2 triliun). Sementara itu, impor nonmigas mencapai 20,62 miliar dollar AS (sekitar Rp 368,3 triliun) atau naik 14,11 persen.

Pudji menjelaskan, kenaikan impor April 2026 terutama didorong oleh impor nonmigas yang memberikan andil peningkatan sebesar 12,39 persen terhadap total impor.

"Jika dilihat berdasarkan penggunaan, seluruh kelompok impor juga mengalami kenaikan secara tahunan pada April 2026," kata Pudji.

Impor barang konsumsi naik 42,90 persen. Sementara itu, impor bahan baku dan penolong meningkat 24,56 persen dan menjadi penyumbang terbesar kenaikan impor dengan andil 17,86 persen. Adapun impor barang modal tumbuh 5,64 persen.

Baca juga: Impor RI Sentuh 19,21 Miliar Dollar AS pada Maret 2026, BPS Catat Kenaikan Tipis

Mesin hingga Plastik Jadi Impor Utama

BPS juga mencatat tiga kelompok komoditas utama nonmigas yang paling banyak diimpor Indonesia sepanjang Januari-April 2026, yakni mesin atau peralatan mekanis, mesin dan perlengkapan elektrik, serta plastik dan barang dari plastik.

Ketiga kelompok tersebut menyumbang sekitar 37,37 persen dari total impor nonmigas Indonesia.

Nilai impor mesin atau peralatan mekanis mencapai 12,67 miliar dollar AS (sekitar Rp 226,3 triliun) dengan volume 1,56 juta ton.

Sementara itu, impor mesin dan perlengkapan elektrik sebesar 11,12 miliar dollar AS (sekitar Rp 198,7 triliun) dengan volume 870.000 ton.

Adapun impor plastik dan barang dari plastik tercatat sebesar 3,71 miliar dollar AS (sekitar Rp 66,3 triliun) dengan volume mencapai 2,34 juta ton.

China mendominasi

China masih menjadi pemasok utama barang impor nonmigas Indonesia dengan nilai mencapai 30,79 miliar dollar AS (sekitar Rp 550,1 triliun) atau 41,84 persen dari total impor nonmigas.

Impor dari China didominasi mesin atau peralatan mekanis yang menyumbang 22,49 persen dan tumbuh 19,27 persen secara tahunan.

Sementara itu, impor nonmigas dari Jepang tercatat sebesar 4,15 miliar dollar AS (sekitar Rp 74,1 triliun) dan didominasi mesin atau peralatan mekanis. Namun, nilai impor dari negara tersebut turun 18,88 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Australia juga mencatat nilai impor nonmigas sebesar 4,15 miliar dollar AS (sekitar Rp 74,1 triliun). Komoditas terbesar yang diimpor dari negara tersebut adalah logam mulia dan perhiasan atau permata dengan porsi 33,54 persen serta tumbuh signifikan hingga 314,13 persen secara tahunan.

Tag:  #impor #tembus #1545 #hingga #april #2026 #yang #paling #banyak #masuk

KOMENTAR