Harmoni Industri Tambang dan Pertanian, Harita Nickel Perkuat Ekonomi Petani Pulau Obi
Banyak orang beranggapan bahwa hadirnya industri tambang akan menggeser bahkan menghilangkan sektor pertanian. Namun cerita yang berkembang di Pulau Obi, Maluku Utara, menunjukkan kenyataan berbeda. Di tengah pesatnya industrialisasi nikel, pertanian berkembang semakin kuat berkat peluang ekonomi baru yang tercipta. Melalui program Community Development dan Pengembangan serta Pemberdayaan Masyarakat (PPM), Harita Nickel tidak hanya menghadirkan aktivitas industri, tetapi juga mendorong pengembangan sektor pertanian yang berkelanjutan bagi masyarakat setempat.
Sejak lama, pertanian menjadi salah satu sumber penghidupan utama masyarakat di Pulau Obi. Warga Desa Soligi dan Kawasi, misalnya, menggantungkan hidup dari kebun pala, cengkeh, dan kelapa yang dikelola secara turun-temurun. Namun produktivitas masih terbatas karena praktik budidaya yang tradisional. Seiring berkembangnya kawasan industri Harita Nickel dan meningkatnya kebutuhan pangan dari ribuan karyawan yang bekerja di Pulau Obi, masyarakat mulai melihat peluang baru. Harita Nickel kemudian mendukung peningkatan kapasitas petani agar mampu memenuhi permintaan pasar yang terus tumbuh melalui penerapan teknik pertanian yang lebih modern dan produktif.
Keberhasilan panen para petani perempuan yang dibimbing Harita Nickel memberikan kepercayaan bagi para perempuan untuk ikut berkontribusi dalam perekonomian keluarga.(Dok: Istimewa)Pendekatan yang dilakukan tidak sekadar memberikan bantuan, melainkan membangun kemampuan masyarakat dari hulu hingga hilir. Melalui program sekolah ladang, warga mendapatkan pelatihan langsung mengenai teknik budidaya hortikultura modern, mulai dari pengolahan lahan, penyemaian bibit, pembuatan bedengan, pengendalian hama, hingga manajemen panen. Para pendamping juga membantu masyarakat memahami pentingnya menjaga kualitas hasil panen dan kesinambungan pasokan agar mampu memenuhi kebutuhan pasar secara berkelanjutan.
Salah satu kisah keberhasilan itu lahir dari Kelompok Wanita Tani (KWT) di Desa Soligi dan Kawasi. Kelompok yang seluruh anggotanya adalah kaum perempuan ini awalnya memiliki pengalaman terbatas dalam budidaya hortikultura. Namun melalui pendampingan yang dilakukan secara intensif oleh Harita Nickel, mereka mulai mampu mengelola lahan pertanian secara lebih produktif dan profesional.
Kini, lahan-lahan yang sebelumnya belum dimanfaatkan secara optimal berubah menjadi kebun hortikultura yang menghasilkan berbagai komoditas seperti kangkung, bayam, cabai, timun, kacang panjang, pare, dan terong. Hasil panen pun tidak hanya dipasarkan di lingkungan sekitar, namun rutin diserap untuk memenuhi kebutuhan perusahaan.
Ketua KWT Desa Soligi, Jahariya, mengatakan perubahan itu memberikan dampak nyata bagi kehidupan para anggotanya.
“Kami tanam sayur, cabai, kacang panjang. Sayur dikirim ke perusahaan dua kali seminggu,” jelas Jahariya.
Dari aktivitas bercocok tanam itu, kelompoknya kini mampu meraup pendapatan hingga sekitar Rp30 juta setiap bulan. Pendapatan itu bukan hanya menjadi tambahan penghasilan, akan tetapi memberikan kepercayaan diri baru bagi para perempuan untuk ikut berkontribusi dalam perekonomian keluarga.
Manfaat yang sama dirasakan oleh Ketua KWT Kawasi, Thofiya. Ia menyatakan bahwa hasil pertanian yang diperoleh dari lahan binaan telah membantu keluarganya memenuhi kebutuhan pendidikan.
“Kami berterima kasih kepada perusahaan karena dari hasil panen pertama dan kedua dari lahan kami di Akelamo, kami bisa bayar sekolah cucu sampai lulus SMA di Bacan,” tutur Thofiya.
Harita Nickel memberikan pendampingan yang dilakukan secara intensif kepada para perempuan petani sehingga mampu mengelola lahan pertanian secara lebih produktif dan profesional. (Dok: Istimewa)Menurut Albertus Darukumara, Community Development Supervisor Harita Nickel, keterlibatan perempuan menjadi salah satu kekuatan utama dalam pengembangan pertanian di Desa Soligi dan Kawasi, Pulau Obi.
“Di sini anggota kelompok taninya perempuan semua. Karena kebanyakan laki-laki bekerja di perusahaan atau menjadi nelayan, ibu-ibu ingin membantu ekonomi keluarga lewat pertanian,” jelas Albertus Darukumara.
Selain memberdayakan kelompok perempuan, Harita Nickel juga mendorong lahirnya generasi baru petani muda di Pulau Obi. Salah satu sosok yang menonjol adalah Darwan Aduhasan, petani asal Desa Buton yang memilih kembali ke sektor pertanian setelah menyelesaikan pendidikan sarjana.
Di saat banyak anak muda berupaya mencari pekerjaan di sektor industri, Darwan justru melihat peluang besar yang lahir dari kebutuhan pangan kawasan industri. Bersama rekan-rekannya, ia membentuk Kelompok Perintis Kedaulatan Pangan Obi (PELANGI) serta Koperasi Tani Bersatu Milenial untuk mengembangkan pertanian modern di Pulau Obi.
Bagi Darwan, Harita Nickel berperan sebagai katalis yang mempertemukan potensi pertanian lokal dengan pasar yang selama ini sulit dijangkau para petani.
“Saya melihat potensi pertanian di sini luar biasa. Keluarga kami selama 15 tahun mampu bertahan hidup, bahkan membiayai sekolah saya sampai sarjana, murni dari hasil hortikultura. Kehadiran industri justru menjadi katalis; mereka membuka akses pasar yang selama ini kami butuhkan,” kata Darwan.
Melalui program Sentra Ketahanan Pangan Obi (SENTANI), Harita Nickel memberikan pendampingan kepada kelompok-kelompok tani terkait penerapan metode pertanian modern, penggunaan benih unggul, hingga pemanfaatan teknologi pertanian yang lebih efektif. Hasilnya terlihat nyata. Produktivitas padi yang dihasilkan petani binaan mencapai 8 ton per hektare, jauh di atas rata-rata nasional yang berada pada angka 5,31 ton Gabah Kering Giling per hektare.
Kolaborasi ini terus berkembang. Pada 2024, Harita Nickel mendorong para petani melakukan transisi menuju sistem pertanian organik. Para petani dibekali kemampuan membuat pupuk kompos dan pestisida nabati secara mandiri sehingga biaya produksi dapat ditekan sekaligus menjaga kualitas lingkungan.
Di saat yang sama, perusahaan juga membantu menciptakan kepastian pasar. Para petani diarahkan untuk membentuk koperasi dan menjalin kemitraan dengan vendor perusahaan sehingga hasil pertanian dapat diserap secara berkelanjutan. Skema ini menciptakan hubungan yang saling menguntungkan. Perusahaan memperoleh pasokan pangan segar untuk memenuhi kebutuhan operasional, sementara petani mendapatkan akses pasar yang jelas serta harga yang lebih pasti.
Dampak ekonominya mulai terlihat. Sepanjang 2025, total transaksi kelompok tani SENTANI dengan perusahaan mencapai Rp133 juta. Sementara kelompok-kelompok perempuan yang tergabung dalam KWT mampu membukukan omzet hingga puluhan juta rupiah setiap bulan.
Keberhasilan ini turut mengubah cara pandang masyarakat terhadap sektor pertanian. Jika sebelumnya banyak yang menganggap pertanian sebagai pekerjaan sampingan dengan prospek terbatas, kini semakin banyak warga yang melihatnya sebagai sumber penghidupan yang menjanjikan. Darwan bahkan menargetkan jumlah petani aktif yang terlibat dalam gerakan PELANGI terus bertambah dalam beberapa tahun ke depan.
“Harapan saya sederhana, melalui PELANGI, masyarakat sadar bahwa sektor pertanian mampu menghidupi kita secara layak dan berkelanjutan, bahkan di daerah yang dikenal sebagai pusat pertambangan sekalipun,” tandasnya.
Kelompok Wanita Tani (KWT) di Desa Soligi dan Kawasi yang seluruh anggotanya adalah kaum perempuan. (Dok: Istimewa)Kisah para petani di Pulau Obi menunjukkan bahwa industrialisasi dan pertanian tidak harus berjalan berlawanan arah. Dengan pendampingan yang tepat, transfer pengetahuan, akses teknologi, serta pembukaan pasar yang dilakukan secara konsisten, sektor pertanian justru dapat berkembang bersama industri.
Di Pulau Obi, Harita Nickel tidak hanya menghadirkan aktivitas ekonomi melalui hilirisasi nikel, tetapi juga membantu menumbuhkan ekosistem pertanian yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat lokal. Dari kebun-kebun sederhana yang kini menghasilkan jutaan rupiah setiap bulan, lahir bukti bahwa pertanian dan industri dapat tumbuh berdampingan untuk menciptakan kesejahteraan yang lebih luas dan berkelanjutan. ***
Tag: #harmoni #industri #tambang #pertanian #harita #nickel #perkuat #ekonomi #petani #pulau