Dampak Rupiah Rp 18.000, Indef : Tagihan Impor Minyak Bisa Bertambah Rp 225,08 T
ilustrasi rupiah dollar AS, dolar hari ini. Rupiah Tembus Rp 18.029 per Dollar AS, Ini Barang yang Berpotensi Naik Harga Jika Rupiah Terus Melemah(ANTARA FOTO/Darryl Ramadhan)
09:40
5 Juni 2026

Dampak Rupiah Rp 18.000, Indef : Tagihan Impor Minyak Bisa Bertambah Rp 225,08 T

Nilai tukar rupiah terus mencetak rekor pelemahan baru selama beberapa bulan terakhir. Kini rupiah telah menembus level Rp 18.000 per dollar Amerika Serikat (AS).

Sementara itu, harga minyak dunia juga meningkat akbat ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Pada Jumat (5/6/2026) harga minyak mentah brent yang menjadi acuan internasional mencapai 95,03 dollar AS per barrel.

Sebagai negara yang masih bergantung pada impor minyak, pelemahan kurs dan kenaikan harga minyak dunia tersebut berpotensi meningkatkan beban impor energi dan menambah tekanan terhadap Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) memperkirakan setiap pelemahan nilai tukar rupiah sebesar Rp 250 terhadap dollar AS berpotensi menambah beban impor minyak Indonesia sekitar Rp 7,10 triliun.

Baca juga: Rupiah Tembus Rp 18.000 Per Dollar AS, Efek Berantai hingga ke Meja Makan

Dalam laporan Center of Macroeconomics and Finance (MacFin) INDEF, perhitungan itu dilakukan menggunakan asumsi dasar Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026, yakni kurs Rp 16.500 per dollar AS dan harga minyak mentah Indonesia (Indonesian Crude Price/ICP) sebesar 70 dollar AS per barrel.

Berdasarkan data impor minyak tahun 2025, volume impor Indonesia diperkirakan mencapai sekitar 405,56 juta barrel.

"Dengan volume tersebut, setiap kenaikan harga minyak 1 dollar AS per barrel pada kurs baseline menambah import bill sekitar Rp 6,69 triliun. Sementara itu, setiap pelemahan kurs Rp 250 per dollar AS pada ICP baseline 70 dollar AS per barrel menambah import bill sekitar Rp 7,10 triliun," tulis INDEF dalam laporannya yang dipublikasi Rabu (3/6/2026).

Perhitungan tersebut menunjukkan bahwa gejolak nilai tukar memiliki dampak yang signifikan terhadap biaya impor energi Indonesia.

Baca juga: Pelemahan Rupiah dan Masa Depan Sektor Perumahan Indonesia

Simulasi Jika Kurs Rupiah Rp 18.000

INDEF juga mensimulasikan berbagai skenario kurs rupiah pada rentang Rp 15.000 hingga Rp 18.000 per dollar AS dengan harga minyak dunia antara 60 dollar AS hingga 110 dollar AS per barrel.

Hasilnya menunjukkan tekanan terhadap APBN mulai meningkat ketika pelemahan rupiah terjadi bersamaan dengan kenaikan harga minyak global.

Sementara saat ini nlai tukar rupiah telah tembus Rp 18.000 per dollar AS dan harga minya sudah mencapai di atas 90 dollar AS per barrel.

Dalam simulasi yang disusun INDEF, kombinasi kurs Rp18.000 per dollar AS dan harga minyak 90 dollar AS per barrel dapat menambah beban impor minyak sebesar Rp188,58 triliun dibandingkan asumsi dasar APBN 2026.

Akibatnya, defisit APBN berpotensi melebar dari target asumsi APBN 2026 sebesar 2,68 persen PDB, menjadi sekitar 3,41 persen PDB atau melampaui batas 3 persen yang selama ini menjadi acuan.

Baca juga: Imbas Keraguan Investor Asing, Rupiah Bisa Anjlok ke Rp 19.000 Per Dollar AS

Dalam skenario lain, jika kurs rupiah berada di level Rp18.000 per dollar AS dan harga minyak mencapai 95 dollar AS per barrel, tambahan beban impor minyak diperkirakan mencapai Rp225,08 triliun dibandingkan baseline.

Dengan tambahan beban tersebut, defisit APBN berpotensi menjadi sekitar 3,56 persen terhadap PDB, lebih tinggi dibanding target defisit APBN 2026.

Sementara itu, ketika kurs rupiah berada di level Rp 18.000 per dollar AS dan harga minyak mencapai 100 dollar AS per barrel, tambahan beban impor minyak diperkirakan meningkat menjadi Rp 261,58 triliun dibandingkan asumsi dasar APBN 2026.

Baca juga: Rupiah Terancam ke Rp 19.000 per Dollar AS, Analis Ungkap Biang Keroknya

Kondisi tersebut berpotensi mendorong defisit APBN melebar hingga sekitar 3,7 persen terhadap PDB, jauh di atas target defisit APBN 2026 sebesar 2,68 persen PDB.

"Hasil simulasi menunjukkan bahwa defisit masih relatif terkendali pada skenario moderat, terutama ketika ICP berada di sekitar 70-80 dollar AS per barrel dan kurs tidak melemah jauh dari baseline. Namun, kombinasi kurs di atas Rp 17.000 per dollar AS dan harga minyak mendekati 90 dollar AS per barrel atau lebih mulai mendorong defisit mendekati atau melewati batas 3 persen PDB," jelas INDEF.

Oleh karenanya, INDEF merekomendasikan sejumlah langkah antisipasi, mulai dari pengendalian subsidi dan kompensasi energi, diversifikasi sumber pasokan energi, penguatan cadangan devisa, hingga penyesuaian harga energi yang lebih terarah agar tekanan biaya impor tidak sepenuhnya membebani APBN.

Baca juga: Purbaya: Rupiah Tembus 18.000 Belum Ganggu Kemampuan Pemerintah Bayar Utang

Tag:  #dampak #rupiah #18000 #indef #tagihan #impor #minyak #bisa #bertambah #22508

KOMENTAR