GOTO dan NCKL Keluar dari Indeks FTSE, Investor Disarankan Wait and See
Ilustrasi saham. (PIXABAY)
14:48
2 Juni 2026

GOTO dan NCKL Keluar dari Indeks FTSE, Investor Disarankan Wait and See

Saham PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) dan PT Trimegah Bangun Persada Tbk (NCKL) perlu dicermati investor ritel.

Keduanya dikeluarkan dari konstituen FTSE Global Equity Index Series (GEIS) Mid Cap Index dalam hasil tinjauan indeks periode Juni 2026.

Meski keputusan itu berpotensi memicu aksi jual dari dana pasif atau passive fund yang mengikuti indeks FTSE, analis menilai tekanan terhadap kedua saham tersebut telah berlangsung lebih dulu.

Baca juga: Didepak FTSE Russell, Saham GOTO Terkunci ARB, NCKL Anjlok

Sebagian besar tekanan tersebut juga dinilai sudah tercermin dalam harga saham saat ini.

FTSE Russell mengumumkan perubahan konstituen indeks yang efektif berlaku mulai 22 Juni 2026, setelah penutupan perdagangan pada 19 Juni 2026.

Keputusan tersebut diambil karena kedua emiten tercatat di Papan Pengembangan Bursa Efek Indonesia (BEI). Segmen pasar tersebut dinilai tidak memenuhi kriteria untuk masuk dalam FTSE GEIS.

“Efektif mulai 22 Juni 2026 karena sekuritas tersebut terdaftar di Papan Pengembangan Bursa Efek Indonesia, yang merupakan segmen pasar yang tidak memenuhi syarat untuk GEIS, dan sesuai dengan Perlakuan Indeks Indonesia untuk Tinjauan Indeks Juni 2026,” tulis FTSE Russell dalam pengumuman resminya, Selasa (2/6/2026).

Selain GOTO dan NCKL, FTSE Russell juga menghapus dua saham Indonesia lain dari indeks berbeda dalam peninjauan kali ini.

Saham PT BUMA International Grup Tbk (DOID) dan PT Nusantara Sejahtera Raya Tbk (CNMA) dikeluarkan dari FTSE GEIS Micro Cap Index.

Kedua saham tersebut gagal memenuhi proses pengawasan dan penyaringan indeks atau failed surveillance stocks screen.

Baca juga: Apa Itu FTSE Russell? Lembaga Global yang Depak Sejumlah Saham RI

Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, mengatakan keluarnya GOTO dan NCKL dari indeks FTSE berpotensi memicu tekanan jual dari investor institusi asing.

Namun, dampak negatif kebijakan tersebut sudah mulai tercermin dalam pergerakan harga saham kedua emiten sejak beberapa waktu terakhir.

Secara teknikal, saham GOTO masih berada dalam tekanan jual.

Meski demikian, harga saham GOTO yang sudah berada di level Rp 50 per saham membuat valuasinya mulai terlihat menarik dan cenderung undervalued.

Nafan menilai aksi jual yang terjadi saat ini masih wajar. Sejumlah passive fund yang menjadikan FTSE sebagai acuan investasi harus menyesuaikan portofolionya setelah saham tersebut dikeluarkan dari indeks.

“Jadi otomatis dampaknya seperti ini misalnya karena kalau kita melihat secara teknikal masih terjadi tekanan jual. Sementara kalau GOTO kan sudah mendekati level Rp 50 (harga saham),” ujar Nafan saat dihubungi Kompas.com, Selasa (2/6/2026).

“Sebenarnya itu sudah cukup undervalued, Tapi paling tidak memang tekanan jual sudah terjadi sebelumnya, jadi sudah ter-pricing. Itu standar bahwasanya passive fund untuk melakukan aksi jual,” paparnya.

Keluarnya saham dari indeks FTSE Russell berpotensi membuat valuasi emiten menjadi lebih murah akibat tekanan jual di pasar.

Meski begitu, dampak tersebut lebih banyak memengaruhi sentimen dan pergerakan harga saham dalam jangka pendek, bukan kondisi fundamental perusahaan.

Nafan menilai kinerja fundamental emiten tetap ditentukan oleh kemampuan perusahaan meningkatkan pendapatan dan menjaga pertumbuhan bisnis secara berkelanjutan.

Perusahaan juga perlu menjalankan strategi efisiensi untuk menekan biaya operasional agar profitabilitas terus membaik.

“Dampaknya valuasi jadi undervalued, tapi kalau secara fundamental sebenarnya tidak terlalu berpengaruh karena kinerja fundamental sangat ditentukan oleh sejauh mana emiten ini bisa menghasilkan pertumbuhan dari sisi kinerja penjualan, itu yang paling utama,” tukas dia.

Nafan menilai kondisi likuiditas perdagangan GOTO juga dipengaruhi posisi harga saham yang sudah berada di area Rp 50 per saham.

Pada level tersebut, ruang pergerakan harga menjadi relatif terbatas.

Sebagian arus keluar dana atau outflow dari investor juga telah terjadi sebelum keputusan FTSE Russell berlaku.

Karena itu, penurunan likuiditas perdagangan tidak semata-mata disebabkan oleh keluarnya saham dari indeks. Tekanan jual sudah berlangsung sebelumnya.

“Kalau misalnya ini secara likuiditas, bukan GOTO saja, kalau sudah berada di kisaran level mendekati Rp 50 otomatis likuiditas memang relatif terbatas karena outflow sudah terjadi sebelumnya,” lanjutnya.

Untuk NCKL, Nafan memperkirakan dampak keluarnya saham tersebut dari FTSE berpotensi lebih terasa dari sisi volatilitas harga.

Berbeda dengan GOTO yang sudah berada di level harga minimum, saham NCKL masih diperdagangkan jauh di atas Rp 50 per saham. Ruang pergerakan harganya masih lebih besar.

Harga saham NCKL berada di posisi Rp 880 pada perdagangan sesi kedua Selasa siang. Harga tersebut turun 1,12 persen.

“Untuk yang NCKL harganya masih jauh di atas level Rp 50, jadi otomatis saya pikir NCKL itu lebih volatil efeknya. NCKL itu lebih volatil karena wajar saja outflow dana asing itu memicu volatilitas daripada NCKL,” kata Nafan.

Meski demikian, Nafan memandang valuasi NCKL saat ini juga mulai berada di bawah rata-rata historisnya.

Karena itu, sebagian besar risiko dinilai telah tercermin dalam harga pasar.

Nafan menilai peluang GOTO dan NCKL untuk kembali masuk ke indeks FTSE masih terbuka, meski tantangannya tidak mudah.

Salah satu syarat penting adalah kemampuan emiten untuk kembali memenuhi kriteria pencatatan di papan utama serta menjaga tata kelola perusahaan yang baik.

Perusahaan juga harus mampu mencatat laba bersih secara konsisten dan memenuhi ketentuan free float minimal 15 persen, sesuai reformasi pasar yang diterapkan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan BEI.

Dengan mempertimbangkan kondisi tersebut, Nafan merekomendasikan investor mengambil sikap wait and see terhadap kedua saham tersebut.

Investor juga perlu mencermati perkembangan kinerja fundamental dan arus dana asing setelah implementasi perubahan indeks pada Juni 2026.

“Menurut saya, semestinya downside risikonya terbatas. Tapi kalau misalkan untuk yang NCKL, karena masih di atas level Rp 50, NCKL pun juga berpotensi masih volatil,” ungkap dia.

Disclaimer: Artikel ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi menjadi tanggung jawab investor. Pastikan melakukan riset mandiri sebelum menentukan pilihan.

Tag:  #goto #nckl #keluar #dari #indeks #ftse #investor #disarankan #wait

KOMENTAR